BATAMCLICK.COM: Wisuda Uniba 2025 menjadi momen penuh kebanggaan bagi ratusan lulusan Universitas Batam. Sidang Senat Terbuka Wisuda XXII yang berlangsung di Auditorium Graha Bintang Uniba, Sabtu (9/11/2025), menghadirkan suasana haru dan kebanggaan bagi keluarga, sivitas akademika, serta masyarakat Kepulauan Riau.
Kehadiran Pimpinan dan Senat Uniba
Acara tersebut langsung oleh Ketua Senat, Prof. Dr. H. Muhammad Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., bwrsama Rektor Uniba, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU, ASEAN Eng. Jajaran Wakil Rektor I, II, dan III turut mendampingi bersama sejumlah pejabat seperti Kepala LPPM, Kepala LPM, serta Dr. Ir. Edi Indera, S.T., M.Si., IPM., ASEAN Eng sebagai pembawa pedel.
Tamu Penting Hadiri Wisuda Uniba 2025

Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Kepala LLDikti Wilayah XVII Dr. H. Nopriadi, S.K.M., M.Kes, Forkopimda, serta pimpinan universitas se-Kepri turut hadir memberikan dukungan.
724 Lulusan Siap Mengabdi
Wisuda Uniba 2025 meluluskan 724 wisudawan, terdiri dari 234 laki-laki dan 490 perempuan. Mereka berasal dari berbagai program studi: Profesi Dokter, S1 Kedokteran, Profesi Ners, S1 Keperawatan, Profesi Bidan, Psikologi, Farmasi, S3 MSDM, S2 Ilmu Hukum, Magister Kenotariatan, S1 Hukum, dan Akuntansi.
Tema Besar: Generasi Unggul dan Berdaya Saing Global

Rektor Uniba menegaskan bahwa tema wisuda tahun ini adalah “Mencetak Generasi Unggul, Ikhlas, Berintegritas & Berdaya Saing Global”.
Beliau menyampaikan empat pesan penting.
“Yang pertama adalah menjadi Generasi Unggul, yang kedua Generasi yang Ikhlas, yang ketiga Generasi Berintegritas, dan yang terakhir adalah Generasi yang Berdaya Saing Global,” ujar Samsul Rizal.
Pesan dari Gubernur Kepri
Gubernur Ansar Ahmad menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia menentukan kejayaan suatu bangsa.
“Pendidikan itu adalah syarat utama bagi suatu negara untuk mencapai kejayaannya,” ujar Ansar.
Apresiasi dari LLDikti Wilayah XVII
Kepala LLDikti Wilayah XVII, Dr. Nopriadi, memberikan apresiasi dan menekankan peran dosen dalam peningkatan akreditasi.
“Kenaikan akreditasi ditentukan dominan oleh dosen, baik jabatan fungsional, tingkat pendidikan, riset, maupun jurnal yang dipublish,” tegasnya.









