Bintan  

RSUD Pastikan Pengobatan Anak Penderita Kelainan Darah di Bintan Pakai BPJS

BATAMCLICK.COM, Bintan – Manajemen RSUD Engku Haji Daud (EHD) Tanjunguban menyampaikan pengobatan Puji Rahayu (7), warga Bintan penderita Thalasemia atau kelainan darah menggunakan fasilititas BPJS.

Kasi Pelayanan Medis RSUD EHD, Darfius menyampaikan memang benar Puji Rahayu adalah pasien RSUD EHD. Hingga saat ini dan rutin melakukan transfusi darah.

“Kalau dari sisi pelayanan RSUD EHD tidak ada permasalahan dari sisi administrasi, sesuai dengan program yang ada pada BPJS. Kecuali kalau ada di luar daripada itu,” terangnya kepada BATAMTODAY.COM, Rabu (29/9/2021).

Terkait keluhan orangtua pasien seperti harus membeli obat dari luar karena tidak tersedia di rumah sakit hingga harus berhutang, Darfius tidak menapik hal tersebut bisa terjadi, karena kemungkinan harus ada obat lain di luar program BPJS atas pertimbangan dokter terhadap kebutuhan pasien.

“Intinya kita tetap utamakan penyelamatan para pasien,” paparnya.

“Artinya hingga saat ini, secara administrasi dan pelayanan kesehatan terhadap pasien tersebut, tidak ada permasalahan. Ke depan tinggal menunggu rujukan atau arahan dari dokter spesialis yang menanggani pasien dan kesiapan pasien dan keluarga pasien,” tambahnya.

Diberitakan seelumnya, sangat memprihatinkan nasib Puji Rahayu (7) buah hati dari Baha (43) dan Noni (46). Bagaimana tidak sejak usai 3 bulan sudah harus transfusi darah setiap 10 hari sekali karena menderita Thalasemia atau kelainan darah dengan kondisi jumlah protein pembawa oksigen kurang dari jumlah normal.

Baha, ayah dari Puji Rahayu kepada BATAMTODAY.COM, dikediamannya jalan Taman Sari atau depan Perumahan Griya Bima Kencana atau Bintan Lima, Kelurahan Tanjunguban Selatan, Kecamatan Bintan Utara, Selasa (22/9/2021) malam menceritakan bahwa dirinya yang sudah berdomisili di Bintan sejak 23 tahun yang lalu, mengetahui anaknya menderita thalasemia pada usia tiga bulan usai melakukan imunisasi. Dimana setelah dua hari mengalami pembengkakan dan terpaksa dioperasi.

Setelah operasi bukan langsung sembuh melainkan ngedrop dengan HB 4, selanjutnya pihak Puskesmas Mentigi Tanjunguban merujuk RSUD Engku Haji Daud, tidak berhenti situ RSUd EHD juga merujuk ke RSUD Tanjungpinang, karena saat itu tidak ada uang semapt tertunda, dimana pagi harinya HB turun dari 4 menjadi 2 sampai di RSUD Tanjungpinang, dan mencari darah PMI sebanyak 4 kantong darah, dengan cara berhutang jaminan KTP san STNK kendaraan roda dua miliknya.

“Selama lebih dari 5 tahun, melakukan perobatan mandiri dengan kondisi kerja serabutan dengan penghasilan maksimal Rp 100 ribu perhari. Sebaliknya dalam satu bulan anak harus transfusi darah sebanyak tiga kali, setiap transfusi minimal menghabiskan dana Rp 2 juta,” ungkapnya.

Sumber: BATAMTODAY