Menteri Ketenagakerjaan Yassierli Dorong SP/SB Perkuat Upskilling dan Reskilling Hadapi AI

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak SP/SB memperkuat upskilling dan reskilling guna menghadapi disrupsi AI, robotik, serta peluang green jobs di masa depan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak SP/SB memperkuat upskilling dan reskilling guna menghadapi disrupsi AI, robotik, serta peluang green jobs di masa depan.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB) memperkuat kolaborasi untuk menghadapi disrupsi akal imitasi (AI) dan robotik melalui program upskilling dan reskilling. Ajakan ini ia sampaikan dengan penuh optimisme sekaligus komitmen kuat agar pekerja Indonesia tidak tertinggal di tengah perubahan industri yang bergerak sangat cepat.

Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Perubahan

Saat menghadiri Tasyakuran HUT ke-53 Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo) 2026 di Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2026), Yassierli menegaskan bahwa perubahan teknologi tidak boleh menjadi ancaman bagi pekerja.

Ia menyatakan bahwa Kemnaker mengusung prinsip inklusivitas atau no one left behind. Artinya, pemerintah tidak akan membiarkan pekerja tertinggal, kehilangan pekerjaan, atau terpinggirkan akibat transformasi industri.

“Saya yakin dengan kebersamaan dan kolaborasi, kita siap menghadapi perubahan ini. Tidak boleh ada pekerja yang tertinggal atau termarginalkan,” tegasnya.

Upskilling dan Reskilling Jadi Strategi Utama

Yassierli menjelaskan bahwa semangat no one left behind bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan melalui program nyata. Karena itu, Kemnaker mengajak SP/SB menjalankan program upskilling dan reskilling secara kolaboratif.

Sepanjang tahun lalu, Kemnaker telah melatih 700 ahli produktivitas dan menyelenggarakan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lebih dari 63 titik dengan melibatkan perwakilan SP/SB. Ia memastikan program tersebut akan terus berjalan dan bahkan diperluas.

Selain itu, Kemnaker juga mendorong serikat pekerja memanfaatkan 42 balai pelatihan kerja yang tersebar di seluruh Indonesia sebagai pusat peningkatan kompetensi.

Siapkan SDM untuk Green Jobs

Di sisi lain, Yassierli menekankan pentingnya pengembangan green jobs sebagai respons terhadap transformasi ekonomi hijau. Ia menilai Indonesia harus menyiapkan tenaga kerja dengan karakter adaptif, kompetensi baru, serta keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Menurutnya, hanya melalui langkah konkret dan terukur, Indonesia dapat memastikan pekerjanya tetap kompetitif di era AI dan robotik.