Menderita Kelainan Darah, Bocah 7 Tahun di Bintan Butuh Uluran Tangan

BATAMCLICK.COM, Bintan – Sangat memprihatinkan nasib Puji Rahayu (7) buah hati dari Baha (43) dan Noni (46). Bagaimana tidak sejak usai 3 bulan sudah harus transfusi darah setiap 10 hari sekali karena menderita Thalasemia atau kelainan darah dengan kondisi jumlah protein pembawa oksigen kurang dari jumlah normal.

Baha, ayah dari Puji Rahayu kepada BATAMTODAY.COM, dikediamannya jalan Taman Sari atau depan Perumahan Griya Bima Kencana atau Bintan Lima, Kelurahan Tanjunguban Selatan, Kecamatan Bintan Utara, Selasa (22/9/2021) malam menceritakan bahwa dirinya yang sudah berdomisili di Bintan sejak 23 tahun yang lalu, mengetahui anaknya menderita thalasemia pada usia tiga bulan usai melakukan imunisasi. Dimana setelah dua hari mengalami pembengkakan dan terpaksa dioperasi.

Setelah operasi bukan langsung sembuh melainkan ngedrop dengan HB 4, selanjutnya pihak Puskesmas Mentigi Tanjunguban merujuk RSUD Engku Haji Daud, tidak berhenti situ RSUd EHD juga merujuk ke RSUD Tanjungpinang, karena saat itu tidak ada uang semapt tertunda, dimana pagi harinya HB turun dari 4 menjadi 2 sampai di RSUD Tanjungpinang, dan mencari darah PMI sebanyak 4 kantong darah, dengan cara berhutang jaminan KTP san STNK kendaraan roda dua miliknya.

BACA JUGA:   Prajurit Yonmarhanlan IV Laksaanakan TMMD di Pulau Dabo Singkep

“Selama lebih dari 5 tahun, melakukan perobatan mandiri dengan kondisi kerja serabutan dengan penghasilan maksimal Rp 100 ribu perhari. Sebaliknya dalam satu bulan anak harus transfusi darah sebanyak tiga kali, setiap transfusi minimal menghabiskan dana Rp 2 juta,” ungkapnya.

Dikatakan, anaknya yang memiliki golongan darah O+ ini, setiap rata 10 hari saat anak sudah lemas, bola mata menguning dan bagin perut mengeras serta jari jemari mulai membiru, wajib melakukan transfusi darah. Setiap berobat memang selalu kekurangan dana dan selalu berhutang dengan jaminan baik KTP dan lainnya.

“Sejak 1 tahun lalu, memang untuk perobatan sudah menggunakan BPJS karwna ada salahseorang pejabat Bintan yang membantu saat sudah memohon kesana kemari. W

alau pun sedikit terbantu, namun tetap dirasakan sangat berat, karena apa bila seperti darah dan obat yang tidak ada di rumah sakit harus mencari sendiri,” terangnya.

Perjuangan dengan harapan agar anaknya bisa hidup normal kata Baha, dirinya hingga saat ini setiap harinya, bekerja hanya berpikir mencari uang untuk membawa anaknya berobat ke rumah sakit apa bila toba waktunya untuk transfusi darah dan ceka kesehatan lainnya.

BACA JUGA:   Tingkatkan Disiplin Prokes dan Tertib Berlalu Lintas, Polres Bintan Gelar Operasi Patuh Seligi 2021

Dalam satu bulan saat ini minimal harus memiliki uang Rp 4 juta diluar kebutuhan sehari-hari. Makanya hingga sampai saat ini masih terhutang baik di rumah sakit dan teman-teman yang rela dan bermurah hati memberikan hutangan uang untuk perobatan anaknya, walau pun mengetahui sulit untuk dibayar secara cepat.

“Mengingat untuk hutang kepada teman-teman saja jumlahnya mencapai belasan juta rupiah, itu belum lagi di rumah sakit yang sampai saat ini juga masih terhutang dengan jaminan KTP,” tambahnya.

Hingga saat ini, Baha yang terlihat sangat tegar dalam memperjuangkan kesehatan anaknya, namun mengakui kalau dirinya berharap adanya bantuan dan perhatian dari pihak pemerintah. Apa lagi selama ini belum pernah menerima bantuan apa pun, termasuk pada pandemi Covid 19.

Apa lagi terakhir pihak dokter RSUD, mengarahkan agar anaknya untuk segera dilakukan operasi di salahsatu rumah sakit di Bandung dengan biaya diperkirakan mencapai Rp 40 juta, agar bisa mengurangi intensitas transfusi darah anaknya.

BACA JUGA:   Pemkab Bintan Belum Terbitkan Aturan Terbaru Terkait Perpanjangan PPKM

“Saat ini, jangankan untuk mencari uang Rp 40 juta, biaya rutin untuk transfusi darah dan biaya sehari-hari pun sudah sangat berat. Karena termasuk tempat tinggal pun ditanah orang lain,” paparnya.

Tidak hanya itu, dilema yang dialami oleh Baha walau pun dirinya sudah berdomisili 23 tahun di Bintan, dia dan istri belum memiliki KTP Bintan. Dia mengaku bukan tidak mau mengurus pindah dari alamat lamanya di Jawa Barat, namun juga terkendala dana, apa lagi keluarga yang berada di Jawa Barat sudah pindah ke Kalimantan.

“Kita mau mengurus surat pindah terkendala dana, kalau pun ada dana harus mendahulukan untuk kebutuhan berobat anak, sebaliknya meminta bantuan keluarga sudah pindah. Untuk di Bintan, yang sudah memohon mulai dari RT, Lurah hingga Camat pun kandas. Kadang merasa tidak diakui sebagai warga negara Indonesia pada hal jelas dasar indentitas kita ada,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Sumber: BATAMTODAY