Kementan manfaatkan bibit lokal pada pengembangan kelapa di Natuna

Batamclick.com,
Fenomena fatherless atau ketiadaan sosok ayah secara fisik maupun emosional menjadi salah satu perhatian pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2026 di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Berdasarkan survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tercatat sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fatherless, sedangkan khusus di Kepri angka fatherless sekitar 24 persen atau masih di bawah nasional.

“Artinya, satu dari empat anak di Kepri tumbuh tanpa keterlibatan sosok ayah yang seimbang, baik secara fisik maupun emosional,” kata Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda Dinas Pemberdayaan Anak, Dalduk dan Keluarga Berencana Provinsi Kepri Yuli Munir di Tanjungpinang, Rabu.

Masih menurut survei BKKBN, kata Yuli, tingkat fatherless di wilayah perdesaan ternyata lebih tinggi dibanding perkotaan. Kondisi ini dipicu budaya patriaki di desa yang masih kental, di mana seorang ayah hanya bertugas mencari nafkah, sedangkan urusan anak sepenuhnya diserahkan pada ibu/istri.

Berbeda dengan di kota, menurut Yuli, masyarakatnya lebih teredukasi dan memahami bahwa sesibuk apapun seorang ayah, tetap harus menyempatkan diri berinteraksi dengan anak.

Selain itu, kata dia, fatherless juga dipengaruhi oleh tingkat perceraian orang tua atau broken home, yang mencapai 70 persen.

“Hasil survei, hanya satu dari empat anak yang orang tuanya bercerai benar-benar mendapatkan kasih sayang dari ayah atau ibu,” ujar Yuli.

Lanjut Yuli menyebutkan, kasih sayang ayah sangat penting bagi anak, apalagi anak laki-laki yang berani mengambil risiko, keputusan hingga kepemimpinan, biasanya didapat dari sang ayah.

Figur ayah juga sangat kuat bagi anak perempuannya, karena tingkat perkawinan anak usia dini turut dipengaruhi tak adanya kedekatan ayah dan anak perempuan.

Karena itu, lanjut Yuli, pemerintah daerah bersama semua stakeholder terkait terus gencar mendorong keterlibatan peran ayah terhadap anaknya guna menurunkan fenomena fatherless.

Beberapa kebijakan yang telah dilakukan, antara lain melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Kebijakan mewajibkan para ayah untuk mengambil rapor anak di sekolah guna memperkuat kedekatan emosional dan keterlibatan dalam akademis anak.

Kemudian, menggalakkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) guna mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan sejak dini.

Berikutnya, mengedukasi pentingnya peran ayah terhadap anak di era digital, sebab anak-anak rentan beralih ke gadget sebagai “keluarga baru” mereka akibat minimnya kehadiran ayah.

“Kampanye dilakukan agar ayah tidak sekadar hadir secara fisik, melainkan aktif berinteraksi bersama anak,” ujarnya pula.

Yuli berharap peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tanggal 23 Juli 2026 menjadi momentum krusial untuk mengentaskan Indonesia dari darurat fatherless.

Keterlibatan aktif ayah tidak hanya mencegah anak mengalami krisis identitas, tetapi juga krusial dalam membentuk mental, emosi, dan masa depan anak yang tangguh.

Sumber, Antara