Naik Kelas Lewat Pendampingan: Kisah IKM yang Didukung Kemenperin dalam Program Creative Business Incubator

BATAMCLICK.COM, Jakarta: Di tengah tantangan dunia usaha yang semakin dinamis, secercah harapan datang bagi pelaku industri kecil menengah (IKM) kriya dan fesyen. Kementerian Perindustrian (Kemenperin), lewat Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), kembali menggulirkan program Creative Business Incubator (CBI) untuk tahun 2025.

Program ini bukan sekadar pelatihan biasa. Di baliknya, ada semangat untuk mengubah pelaku IKM menjadi pengusaha tangguh yang mampu bersaing di level nasional, bahkan global. “Penelitian menunjukkan bahwa bisnis akan lebih bertahan dan berkembang jika mendapatkan pendampingan dari mentor,” ujar Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita, Senin (19/5), di Jakarta.

CBI tahun ini memilih 10 IKM unggulan yang akan didampingi secara intensif oleh mentor profesional. Mereka adalah Delova Wardro, Hanabira, CV Amod Bali, Wiras Silver Bali, PT Karya Rappo Indonesia, Kalasiris, JB, Etnnic, Astraea Leather Craft, dan Ulur Wiji—nama-nama yang kini tengah menapaki jalan menuju transformasi bisnis.

Lewat program ini, setiap peserta akan mendapatkan coaching yang dirancang untuk membantu mereka menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi dalam bisnis. Reni menjelaskan, pendampingan ini bertujuan agar para pelaku usaha bisa naik kelas—baik dari sisi produksi, omzet, maupun skala bisnis.

“Harapannya mereka bisa mengikuti jejak sukses para alumni CBI sebelumnya, yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi, menaikkan omzet, dan bertransformasi dari skala mikro ke kecil, atau dari kecil ke menengah,” tambahnya.

Pendekatan ini bukan tanpa dasar. Riset dari Universitas Ciputra menunjukkan bahwa 74,03 persen bisnis mampu bertahan dan tumbuh setelah mendapat pendampingan dari mentor. Pendampingan terbukti mempercepat pertumbuhan bisnis, menekan risiko kegagalan, dan mendorong terciptanya usaha yang lebih berkelanjutan.

Di tengah geliat semangat kewirausahaan anak muda, program CBI muncul sebagai ruang belajar sekaligus laboratorium kewirausahaan yang aplikatif. Sinergi yang dihasilkan dari kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan mentor diharapkan membentuk ekosistem bisnis yang kuat.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut mendukung optimisme ini. Pada triwulan I tahun 2025, sektor industri pengolahan nonmigas tumbuh 4,31 persen, dan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 17,50 persen.

Namun, tantangan masih membayang. Laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2023 mencatat rasio kewirausahaan Indonesia sebesar 21,6 persen—angka yang cukup tinggi di kawasan ASEAN. Tapi, angka itu belum sepenuhnya mencerminkan nilai tambah dan produktivitas yang kuat.

“Ini tantangan kita bersama,” tutur Reni. “Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus bersinergi untuk membentuk ekosistem kewirausahaan yang lebih baik. Kita ingin lebih banyak wirausaha muda naik kelas, produknya bernilai tambah, omzet meningkat, dan mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.”

Di balik angka dan kebijakan, program seperti CBI membawa harapan baru—bahwa pelaku usaha kecil tak hanya bisa bertahan, tapi juga berkembang, naik kelas, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

Sumber: Antara
Editor: Novia Rizka