BATAMCLICK.COM, Jakarta: PT Daikin Industries Indonesia, bagian dari Daikin Global, membuka fasilitas produksi baru Air Conditioner (AC) rumah tangga di Kawasan GIIC Industrial Parks, Cikarang, Jawa Barat. Pabrik ini menyerap hingga 1.000 tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai Rp3,3 triliun.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan bahwa dengan kapasitas produksi mencapai 1,5 juta unit per tahun, investasi ini memberikan posisi strategis bagi perusahaan untuk mengembangkan produk di pasar domestik maupun ekspor.
Faisol mengapresiasi kehadiran pabrik baru PT Daikin Industries Indonesia yang dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur AC di kawasan ASEAN.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran PT Daikin Industries Indonesia atas peran dan komitmen mereka dalam investasi serta memajukan industri elektronika Indonesia,” kata Faisol.
Daikin Global sebelumnya hadir melalui PT Daikin Manufacturing Indonesia dengan produksi AC tipe ducting dan Air Handling Units. Kini, hadir dengan entitas baru PT Daikin Industries Indonesia yang fokus pada produksi AC rumah tangga.
Wamenperin menyampaikan bahwa industri elektronik masih menghadapi tantangan ketergantungan impor kompresor AC yang mencapai 244,29 juta dolar AS atau sekitar Rp4 triliun pada tahun 2024.
Untuk itu, pemerintah mendorong Daikin agar secara bertahap mampu memproduksi komponen utama secara lokal, termasuk kompresor, guna memperkuat kemandirian dan rantai pasok domestik.
Secara regulasi teknis, produk AC diwajibkan memenuhi SNI berdasarkan Permenperin No. 34 tahun 2013. Pada Juli 2025, regulasi teknis SNI wajib untuk produk elektronik rumah tangga termasuk AC akan diatur melalui Permenperin No. 7 Tahun 2025.
Dengan aturan baru tersebut, produk AC yang diproduksi di Indonesia, termasuk oleh PT Daikin Industries Indonesia, diharapkan memenuhi standar kualitas dan keselamatan.
“Saya berharap kehadiran pabrik baru ini dapat mendorong pertumbuhan dan daya saing industri elektronika nasional serta memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian tanah air,” ujar Wamenperin.
Neraca perdagangan industri elektronika sepanjang 2024 masih mengalami defisit sebesar 16,2 miliar dolar AS atau Rp265 triliun. Impor produk elektronika mencapai 25,43 miliar dolar AS atau Rp417 triliun, sementara ekspor hanya 9,23 miliar dolar AS atau Rp151 triliun.
Salah satu kontributor utama impor elektronik adalah produk AC rumah tangga dengan nilai impor mencapai 420,46 juta dolar AS atau sekitar Rp6,9 triliun pada 2024. Meski turun 9 persen dari tahun sebelumnya, nilai impor tersebut masih tergolong besar.
Sumber: Antara
Editor: Novia Rizka









