BATAMCLICK.COM: Hujan deras selalu punya cara sendiri untuk menguji kota. Di Kota Surabaya, ujian itu kerap datang lewat genangan yang menutup jalan, memutus ritme kendaraan, hingga membuat permukiman seperti berhenti bernapas.
Namun, di balik deras air yang turun dari langit dan meluncur dari permukaan beton kota, ada suara lain yang jarang diperhatikan, yakni dengung mesin rumah pompa.
Rumah pompa mungkin bukan bangunan yang megah. Ia tidak seterkenal taman kota atau jalan protokol baru. Bentuknya cenderung sederhana, kadang tersembunyi di sudut saluran air atau bantaran sungai.
Tetapi justru di tempat itulah salah satu pertarungan paling penting sebuah kota berlangsung. Ketika hujan turun dalam hitungan jam, dengan intensitas tinggi, rumah pompa menjadi garis pertahanan terakhir agar Surabaya tidak tenggelam oleh airnya sendiri.
Karena itu, langkah Pemerintah Kota Surabaya menambah delapan rumah pompa baru pada 2026 bukan sekadar proyek infrastruktur rutin. Kebijakan itu menunjukkan perubahan cara pandang terhadap banjir, yakni bukan lagi dianggap persoalan musiman, melainkan konsekuensi serius dari pertumbuhan kota modern.
Selama bertahun-tahun, Surabaya menghadapi paradoks perkotaan. Kota tumbuh cepat, permukiman semakin padat, pusat perdagangan meluas, tetapi ruang resapan terus menyusut. Air hujan yang dulu meresap ke tanah, kini langsung berlari menuju saluran drainase. Ketika kapasitas saluran tak lagi cukup, genangan menjadi keniscayaan.
Di titik itulah rumah pompa mengambil peran penting. Mesin-mesin itu bekerja memindahkan air dari kawasan rendah menuju sungai besar atau laut. Sistem tersebut membuat Surabaya memiliki kemampuan bertahan lebih baik dibanding banyak kota pesisir lain yang juga menghadapi ancaman banjir dan rob.
Namun, rumah pompa bukan sekadar soal mesin penyedot air. Ia sesungguhnya adalah simbol bagaimana sebuah kota membaca masa depannya.
Perebutan Ruang
Masalah banjir di Surabaya tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan hujan. Persoalan sesungguhnya terletak pada hubungan yang berubah antara kota dan air.
Dulu, banyak kawasan Surabaya masih memiliki ruang terbuka, tambak, dan lahan resapan alami. Kini sebagian besar telah berubah menjadi kawasan hunian, jalan, pusat niaga, dan infrastruktur beton. Air kehilangan tempat singgah. Akibatnya, hampir seluruh limpasan hujan masuk bersamaan ke saluran drainase.
Kondisi itu terlihat jelas di wilayah selatan Surabaya, seperti Ketintang, Gayungsari, Margorejo, hingga Tenggilis Mejoyo. Kawasan ini berkembang pesat dalam dua dekade terakhir, tetapi pada saat yang sama menanggung beban limpasan air dari banyak titik. Ketika hujan ekstrem datang, sistem drainase lama tidak lagi mampu mengimbangi perubahan lanskap kota.
Karena itu, langkah Pemkot Surabaya tidak lagi hanya mengandalkan pengerukan saluran. Pemerintah mulai berbicara tentang konektivitas sistem, pengaturan elevasi, hingga rekayasa arah aliran air. Pendekatan ini menarik karena menunjukkan bahwa banjir, kini ditangani dengan logika sistemik.
Selama ini banyak kota di Indonesia terjebak pada solusi tambal sulam. Saluran diperbesar di satu titik, tetapi tersumbat di titik lain. Pompa dibangun, tetapi koneksi antarwilayah tidak diperhitungkan. Akibatnya, banjir hanya berpindah tempat.
Surabaya tampaknya mulai bergerak ke arah berbeda. Pengalihan aliran air di kawasan Ketintang menuju Sungai Kebon Agung, misalnya, menunjukkan adanya upaya membagi beban limpasan agar tidak seluruhnya bertumpu di Avur Wonorejo. Pendekatan semacam ini penting karena banjir kota modern tidak lagi bisa diselesaikan secara parsial.
Hal menarik lainnya adalah munculnya konsep storage air di jalan. Ketika pelebaran saluran tak memungkinkan akibat keterbatasan lahan dan keberadaan jaringan utilitas, seperti sutet, kota dipaksa mencari solusi alternatif. Storage menjadi ruang penampung sementara agar debit air tidak langsung membebani saluran utama.
Di banyak kota besar dunia, pendekatan serupa berkembang menjadi konsep kota spons atau sponge city. Air tidak lagi dianggap musuh yang harus secepat mungkin dibuang, melainkan dikelola agar punya ruang penampungan sementara. Surabaya memang belum sampai pada tahap itu sepenuhnya, tetapi arah kebijakannya mulai terlihat.
Persoalannya, pembangunan rumah pompa juga menyimpan tantangan besar. Biaya operasionalnya mahal. Konsumsi listrik tinggi. Perawatan mesin harus terus dilakukan. Ketika pompa gagal berfungsi beberapa jam saja saat hujan ekstrem, dampaknya bisa langsung terasa.
Karena itu, pembangunan rumah pompa tidak boleh berhenti pada seremoni proyek fisik. Kota membutuhkan sistem pengawasan digital, kesiapan operator, cadangan energi, hingga integrasi data cuaca secara real time. Rumah pompa abad modern tidak cukup hanya kuat secara mekanik, tetapi juga harus cerdas secara sistem.
Menata Hulu
Hal yang sering luput dibicarakan, banjir bukan hanya soal teknis drainase. Ia juga persoalan budaya kota.
Sebagus apa pun rumah pompa dibangun, sistem akan tetap kewalahan jika saluran dipenuhi sampah atau sungai menyempit akibat permukiman liar. Dalam konteks ini, banjir sebenarnya memperlihatkan hubungan yang rumit antara tata ruang, perilaku masyarakat, dan keberanian pemerintah mengambil keputusan.
Kasus penyempitan saluran di Kalianak menjadi contoh nyata. Sungai yang dulunya lebar menyusut drastis akibat tekanan permukiman. Situasi seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah pompa. Kota harus berani mengembalikan fungsi saluran air, meski langkah itu sering tidak populer.
Di sisi lain, perubahan iklim membuat tantangan semakin berat. Curah hujan ekstrem, kini datang lebih sulit diprediksi. Rob di kawasan pesisir juga makin sering muncul akibat pasang air laut. Surabaya sebagai kota pesisir menghadapi ancaman ganda, seperti hujan dari daratan dan tekanan air laut dari utara.
Karena itu, strategi pengendalian banjir tidak cukup berorientasi jangka pendek. Kota memerlukan desain besar tentang masa depan air. Rumah pompa memang penting, tetapi harus berjalan berdampingan dengan perlindungan ruang hijau, revitalisasi sungai, pengendalian pembangunan, dan edukasi publik.
Di titik inilah Surabaya sebenarnya sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengurangi genangan. Kota ini sedang menguji apakah kota modern Indonesia mampu tumbuh tanpa memutus hubungan dengan ekologi airnya sendiri.
Optimisme tentu ada. Data Pemkot Surabaya menunjukkan jumlah titik genangan berhasil ditekan dibanding beberapa tahun lalu. Artinya, intervensi infrastruktur memberi hasil nyata. Namun keberhasilan itu tidak boleh membuat kota terlena.
Sebab banjir perkotaan selalu bergerak lebih cepat daripada pembangunan jika kota kehilangan disiplin tata ruang. Setiap kawasan baru yang tertutup beton akan menciptakan limpasan baru. Setiap saluran yang menyempit akan memindahkan masalah ke tempat lain.
Maka, rumah pompa, sesungguhnya bukan akhir solusi, melainkan alarm bahwa kota harus terus berbenah. Mesin-mesin itu bekerja siang dan malam agar Surabaya tetap bergerak, ketika hujan turun. Tetapi masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh kuatnya pompa, melainkan juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan alam.
Pada akhirnya, suara dengung rumah pompa adalah suara tentang ketahanan kota. Ia mungkin tak terdengar oleh banyak orang, tetapi dari sanalah Surabaya mempertahankan denyutnya setiap musim hujan datang.
Oleh Abdul Hakim
Sumber: Antara









