PLN Batam Bangkit di 2025, Kinerja Melesat dan Berhasil Tekan Biaya Energi

Di bawah kepemimpinan Kwin Fo, PLN Batam berhasil bangkit di 2025 dengan mencatat peningkatan penjualan hingga 18 persen, menekan harga gas, dan berbalik dari rugi menjadi untung berkat efisiensi dan renegosiasi kontrak strategis.
Di bawah kepemimpinan Kwin Fo, PLN Batam berhasil bangkit di 2025 dengan mencatat peningkatan penjualan hingga 18 persen, menekan harga gas, dan berbalik dari rugi menjadi untung berkat efisiensi dan renegosiasi kontrak strategis.

BATAMCLICK.COM: Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Kwin Fo, PLN Batam menunjukkan transformasi besar. Dari perusahaan yang sempat merugi, kini berhasil mencetak laba berkat efisiensi, renegosiasi kontrak, dan kebijakan energi yang tepat.

PLN Batam, Miniatur PLN yang Mandiri

PLN Batam, anak perusahaan PLN (Persero), menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang mengelola kelistrikan secara mandiri di luar sistem nasional. Jika PLN (Persero) melayani dari Sabang hingga Merauke, maka Batam, Rempang, dan Galang adalah wilayah khusus yang dikelola oleh PLN Batam sepenuhnya.

Berbeda dengan induknya, PLN Batam tidak pernah menerima subsidi maupun kompensasi dari pemerintah. Artinya, seluruh biaya operasional dan investasi ditopang oleh kemampuan manajemen dalam mengelola bisnis listrik secara efisien.

Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo saat diwawancarai chanel Youtube Socretive Media, Sabtu (8/11/2025) petang, menyebut kondisi perusahaan saat ini jauh lebih menggembirakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dalam enam bulan terakhir, penjualan listrik meningkat sekitar 15 hingga 18 persen. Tahun lalu perusahaan memang sempat mencatat kerugian, namun sejak awal 2025 arah bisnis sudah berbalik. Kami mulai mencetak keuntungan, dan tren ini akan terus naik dari tahun ke tahun,” ujarnya optimistis.

Langkah Strategis: Efisiensi, Negosiasi, dan Inovasi

Kwin Fo menegaskan, perbaikan kinerja tidak datang begitu saja. Ada rangkaian langkah strategis yang mereka lakukan, mulai dari efisiensi biaya, renegosiasi kontrak, hingga pembenahan sistem pasokan energi primer.

Salah satu upaya besar yang adalah melobi kementerian terkait untuk menekan harga gas, yang selama ini menjadi sumber utama energi listrik PLN Batam. Sekitar 84 persen energi primer berasal dari gas, 15 persen dari batu bara, dan sisanya dari pembangkit tenaga surya (PLTS).

Selama ini, mereka membeli harga gas dengan hitungan mata uang dolar Amerika (USD). Akibatnya, setiap kali kurs dolar naik, biaya operasional ikut melonjak. Melihat kondisi itu, manajemen segera melakukan pendekatan intensif kepada kementerian.

“Sejak Agustus 2025, hasilnya mulai terlihat. Harga gas yang sebelumnya di angka 7 dolar per MMBTU kini turun menjadi 6,7 dolar,” jelas Kwin Fo.

Langkah ini secara langsung menekan biaya produksi listrik dan memperbaiki struktur keuangan perusahaan.

Renegosiasi Kontrak, Hapus Kerugian Lama

Selain mengatur ulang biaya energi, PLN Batam juga meninjau ulang sejumlah kontrak kerja sama dan perjanjian penjualan listrik. Beberapa kontrak lama, menurut Kwin Fo, ternyata memiliki harga jual di bawah biaya produksi sehingga merugikan perusahaan.

“Kami lakukan renegosiasi dengan pelanggan besar untuk menyesuaikan harga jual listrik agar lebih rasional. Ada kontrak yang diperbaiki, ada pula yang dievaluasi total bahkan diputuskan karena tidak memberi manfaat,” tegasnya.

Langkah tegas ini membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti, perusahaan ini mulai mencatatkan laba bersih dan memiliki ruang lebih besar untuk pengembangan usaha ke depan.

Kwin Fo menyebut, prioritas utama perusahaan saat ini adalah mencapai kondisi surplus daya agar tidak lagi terjadi pemadaman bergilir akibat defisit listrik. Dengan keuangan yang membaik, PLN Batam kini lebih siap berinvestasi dalam peningkatan kapasitas pembangkit dan energi terbarukan.

Menuju Masa Depan yang Lebih Terang

Transformasi PLN Batam di tahun 2025 menjadi bukti nyata bahwa perusahaan daerah bisa berdiri kokoh tanpa ketergantungan pada subsidi. Di bawah kepemimpinan Kwin Fo, perusahaan ini bukan hanya menjaga keandalan listrik di Batam, Rempang, dan Galang, tetapi juga menyiapkan fondasi kuat untuk tumbuh berkelanjutan.

“Kami ingin menjadi contoh kemandirian energi daerah. Selama tata kelola dilakukan dengan benar dan komunikasi dengan pemerintah berjalan baik, kita bisa berkembang tanpa mengandalkan subsidi,” tutup Kwin Fo penuh keyakinan.

Penulis: bosEditor: papidedy