Pertumbuhan ekonomi Kepri didorong sektor pertambangan di triwulan I

Batamclick.com,
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) mencatat pertumbuhan tinggi ekonomi Kepri di triwulan I ditopang oleh sektor industri pengolahan dan pertambangan, dengan pertambangan bertumbuh positif 23,19 persen secara tahunan.

Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto pertumbuhan ekonomi Kepri terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, perdagangan, serta konstruksi.

“Sektor industri pengolahan tumbuh 5,79 persen tahunan, dan memberikan andil 2,50 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara sektor pertambangan dan penggalian tumbuh tinggi 23,19 persen (year on year) dengan kontribusi 2,14 persen,” katanya dalam keterangan resmi di Batam, Kamis.

Sektor pertambangan tumbuh signifikan seiring mulai beroperasinya lapangan minyak dan gas baru sejak Mei 2025.

“Lapangan Usaha (LU) Pertambangan tumbuh tinggi dan terakselerasi sejalan dengan lapangan migas yang mulai on-stream sejak Mei 2025,” katanya.

BI Kepri juga mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I 2026 tetap berada di level tinggi meski mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Ia mengatakan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kepri pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 7,04 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 7,89 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat masih yang tertinggi di Sumatera. Capaian ini juga lebih baik dibanding pertumbuhan Sumatera sebesar 5,13 persen secara tahunan,” katanya.

Kemudian sektor perdagangan tumbuh 9,03 persen (yoy) dengan andil 0,76 persen, sedangkan sektor konstruksi tumbuh 3,06 persen (yoy) dan menyumbang 0,59 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri.

Menurut Rony, sektor industri pengolahan masih mencatat pertumbuhan tinggi meski menghadapi tantangan berupa gangguan rantai pasok, kenaikan harga bahan baku, dan biaya logistik.

“Perdagangan juga tumbuh positif didorong momentum Ramadhan dan Idul Fitri, sedangkan konstruksi masih tumbuh meski mengalami normalisasi di awal tahun,” katanya.

Dari sisi pengeluaran, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh sebesar 7,47 persen (yoy) dengan andil 3,02 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kinerja investasi dinilai masih kuat didukung iklim investasi yang baik bagi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), termasuk kemudahan perizinan melalui PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025.

Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 4,62 persen (yoy) dengan kontribusi 1,80 persen, sejalan dengan tingkat optimisme masyarakat yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 132,22 pada triwulan I 2026.

Adapun net ekspor tetap tumbuh sebesar 9,95 persen (yoy), namun melambat akibat perlambatan industri pengolahan dan tekanan kenaikan harga bahan baku.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi Kepri pada April 2026 tercatat tetap terkendali sebesar 3,06 persen (yoy), karena masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen.

Inflasi bulanan pada April 2026 tercatat sebesar 0,43 persen (month to month/mtm), terutama dipicu kenaikan harga angkutan udara, nasi dengan lauk, telepon seluler, angkutan laut, dan bensin.

Ke depan, BI memperkirakan ekonomi Kepri akan tetap tumbuh positif meski menghadapi tantangan mempertahankan laju pertumbuhan tinggi seiring normalisasi efek basis rendah pada sektor pertambangan.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Rony.

Sumber, Antara