Ketua Komisi XII DPR: Industri hulu migas di Batam miliki daya saing

Batamclick.com,
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyebutkan industri penunjang hulu minyak dan gas (migas) di Kota Batam, Kepulauan Riau, memiliki daya saing, tidak kalah dengan industri yang ada di luar negeri.

“Yang kami dapatkan (informasi) dari kunjungan ini bahwa industri penunjang di hulu migas yang ada di Batam ini sudah cukup baik, memiliki daya saing,” kata Bambang dalam kunjungan kerja Tim Panja Migas Komisi XII DPR RI di PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) Batam, Kamis.

Bambang menjelaskan tujuan Panja Migas Komisi XII DPR RI ke Batam ini adalah untuk melihat kondisi industri penunjang hulu migas Indonesia yang berada di Batam.

Menurut dia, dari hasil kunjungan tersebut pihaknya mendapat kepercayaan diri bahwa Indonesia memiliki industri penunjang hulu migas yang berdaya saing tinggi baik dalam teknologi dan inovasinya, tak kalah dari Singapura.

Salah satu fokus ketertarikan Panja Migas Komisi XII DPR datang ke Batam, karena industri pendukung hulu migas-nya sudah menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 70 persen (69,68 persen).

“Yang menarik disampaikan TKDN, ini kadang menjadi momok karena sebagian besar industri terkait migas itu rata-rata ekspor. Tapi di Batam ini TKDN nya sudah 69,68 persen, kalau dibulatkan 70 persen,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, Komisi XII DPR mendorong agar industri migas di tanah air mengutamakan penggunaan industri pendukung migas dari dalam negeri.

“Untuk itu kami mendorong adanya investasi dan inovasi lanjutan,” kata Bambang.

Sementara itu, Ketua dari Citra Grup atau PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) Kris Wiluan menyampaikan kedatangan Komisi XII DPR RI ke Batam menjadi angin segar sebagai bentuk dukungan pemerintah dan legislatif terhadap industri penunjang hulu migas di tanah air.

Dia menjelaskan perusahaan penunjang industri migas yang ada di Batam dibangun atas dukungan dari pemerintah agar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

“Selama ini pabrikasi dan pembuatan peralatan perminyakan banyak sekali dikerjakan di Singapura. Di Batam kami membangun kawasan ini berdasarkan besarnya potensi bisnis yang dapat dikembangkan,” katanya.

Menurut dia, pengembangan industri penunjang hulu migas ini dapat menghasilkan perusahaan rintisan, mengurangi devisa yang keluar, serta membuka lapangan pekerjaan.

“Pengembangan industri penunjang hulu migas ini juga untuk mendukung perkembangan Pulau Batam sebagai kawasan industri yang maju,” kata Kris.

Industri penunjang hulu migas di Batam telah menyerap 15 ribu pekerja yang hampir 98 persen merupakan pekerja dari dalam negeri.

Kawasan industri Kabil yang menjadi lokasi kunjungan kerja Panja Migas Komisi XII DPR tersebut, kata dia, telah dilengkapi dengan pelabuhan internasional yang dapat mengapalkan langsung produksi dari kawasan tersebut ke negara tujuan tanpa transit ke negara tetangga.

“Sejak beroperasi, kami selalu berupaya untuk berkontribusi di pembangunan nasional khususnya di industri minyak dan gas,” kata Kris.

Dalam kunjungan tersebut, juga diisi dengan diskusi antara anggota Tim Panja Migas Komisi XII DPR dengan manajemen PT DSAW. Sejumlah anggota DPR itu menanyakan beberapa hal kepada pihak perusahaan.

Sejumlah pertanyaan yang dilontarkan di antaranya, terkait komitmen PT DSAW untuk menggunakan baja yang diproduksi oleh PT Krakatau Steel, di tengah gempuran baja China dengan harga yang lebih murah.

Kemudian pertanyaan terkait komposisi dari jumlah pekerja dari dalam negeri dengan pekerja asing.

Usai diskusi rombongan melakukan kunjungan ke pabrik melihat dari jauh produksi pipa untuk industri migas yang diproduksi oleh PT DSAW.

Sumber, Antara