
“Misalnya bom Bali, bom Atrium Senen, Kedutaan Australia, bom di depan rumah Dubes Filipina, juga rencana pengeboman di Singapura,” kata As’ad.
Hambali juga tidak membantah ketika dia disodorkan bukti bahwa dia adalah “operator serangan teror Al-Qaedah di wilayah Asia Tenggara”.
Mengapa Hambali sebarkan ‘fatwa jihad Osama bin Laden’?
Sebagai penghubung antara Jemaah Islamiyah dan Al-Qaedah, Hambali menerima kepercayaan untuk menyebarkan fatwa yang dikeluarkan Osama bin Laden.
Fatwa berbahasa Arab itu dibawa Hambali dan disebarkan kepada para pimpinan JI di Malaysia dan Indonesia. “Termasuk saya,” kata Nasir Abas.
Menurut Nasir, Hambali memintanya untuk membacakan fatwa itu ke hadapan pimpinan lainnya. Ini ditolaknya.
“Saya tidak setuju dengan pendapat Osama bin Laden, yang mengatakan boleh membunuh warga sipil di mana saja, karena bertentangan fiqh jihad,” aku Nasir Abas kepada BBC News Indonesia.
Hambali menganggap fatwa yang dikeluarkan Osama itu sahih karena dia ‘dikelilingi’ para ulama. “Sehingga ini dibolehkan,” kata Hambali, seperti ditirukan Nasir.
Nasir, yang mantan ketua mantiqi tiga Jemaah Islamiyah di Sabah Malaysia, Kaltim, Sulawesi Tengah dan Tenggara, tetap berkukuh menolaknya. “Saya tetap menolak.”
Al Chaidar, yang pernah aktif di organisasi Negara Islam Indonesia, NII, atau Darul Islam, juga menolak cara-cara terorisme yang ditempuh Hambali dan kawan-kawan.
Dia menyebut Darul Islam “lebih pasifis dan humanis” sehingga sejak awal dia tidak tertarik ‘jalan’ yang ditempuh Jemaah Islamiyah.
“Dan Hambali mengerti itu dan menghormati posisi saya. Kita sering berbicara secara personal dengan Mukhlas [dihukum mati akibat perannya dalam Bom Bali 2002] dan Hambali.”
“Dan mereka tidak mau mengintervensi sekat-sekat organisasional ini antara NII dan JI. Mereka hargai perbedaan itu.
“Sejak awal kita [Darul Islam] sudah menyadari bahwa kita tidak mau dan tidak terlibat terorisme, karena gerakan pembentukan negara berbeda dengan gerakan terorisme,” papar Al Chaidar kepada BBC News Indonesia, Sabtu (29/08).
Jejak langkah Hambali dan JI dalam serangkaian teror bom
Namun suara Nasir Abbas dan Al Chaidar ini tenggelam dan ditinggalkan oleh Hambali dan kawan-kawannya. Kerusuhan Ambon dan Poso adalah salah-satu medan jihad pertama Jemaah Islamiyah.
Dalam konflik Ambon, Hambali bahkan pernah datang ke wilayah itu dan berujung kepada pembangunan kamp latihan militer dan bantuan logistik dan pendanaan.
Ada beberapa kasus teror yang digagas oleh Hambali, kata As’ad Ali, diantaranya adalah serangan bom di depan rumah Dubes Filipina di Jakarta.
Lainnya? Serangan serentak di sejumlah gereja di berbagai kota pada Desember 2000. Hal ini juga dibenarkan Nasir Abas dan Al Chaidar.
Walaupun tidak menyetujui ‘jihad’ yang ditempuh Hambali, Nasir Abas tidak memungkiri kemahiran sang operator teror tersebut.
“Lebih dari 30 gereja jadi sasaran pada malam yang sama, dan dilakukan di kota yang berbeda,” kata Nasir. “Dan itu semua dikoordinir oleh Hambali.”
Bagi Al Chaidar, Hambali memegang peran penting dalam serangan malam Natal itu, tidak hanya sebagai peletak dasar strategi dan perencanaan.
“Tapi juga detail-detailnya dia punya,” tambah Al Chaidar. Dia menyaksikan sendiri Hambali melakukan komunikasi yang “begitu detail” meski Hambali tidak menyebutkan isi percakapan itu.
Puncaknya adalah serangan bom di Kuta, Bali, Oktober 2002. Nasir Abbas, As’ad Said Ali, dan Al Chaidar meyakini Hambali adalah otaknya. “Yang begitu terorganisir,” kata Nasir.
Ali Fauzi, mantan anggota Jemaah Islamiyah yang pernah terlibat dalam pelatihan militer di Mindanao, Filipina Selatan, dan kini aktif mengkampanyekan perdamaian, menyuarakan hal serupa.
Ketika membesuk beberapa saudaranya di LP Nusa Kambangan, yang dipidana dalam kasus bom Bali 2002, yaitu Ali Ghufron dan Amrozi, Ali Fauzi mendengar informasi tentang sosok Hambali.
“Memang salah-satu sosok yang punya peran, dan desainernya di bom Bali itu adalah Hambali,” kata Ali Fauzi kepada BBC News Indonesia, Kamis (26/08).
Serangan bom berikutnya di Hotel JW Marriot dua tahun kemudian, memang tidak secara langsung melibatkan Hambali, karena dia sudah ditangkap di Thailand.
Namun aksi teror itu diyakini merupakan bagian dari rencananya yang kemudian dilaksanakan orang-orang kepercayaannya, kata As’ad Ali.
“Setelah tertangkap [di Thailand], proyek pengeboman yang dirancang Hambali bersama Al-Qaeda dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri orang-orang terdekatnya,” kata As’ad.
Orang-orang terdekatnya itu antara lain Dr Azhari, Noerdin M Top dan Mukhlas, tambahnya.***
Sumber BCC Indonesia dan Arsip









