Kemendukbangga perkuat penataan MBG 3B dengan dukungan TPK

Batamclick.com,
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN memperkuat penataan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) dengan dukungan Tim Pendamping Keluarga (TPK).

“Hari ini kelompok 3B yang menerima manfaat sudah mencapai 9,9 juta jiwa, terdiri dari 911 ribu ibu hamil, 2,2 juta ibu menyusui, dan sekitar 6 juta balita. Ini merupakan capaian penting dalam upaya memperkuat intervensi gizi bagi kelompok yang paling membutuhkan,” ujar Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Wihaji menyampaikan bahwa cakupan penerima manfaat itu tidak lepas dari dukungan lebih dari 122 ribu TPK.

Ia menjelaskan, para TPK selama ini telah membantu distribusi MBG secara langsung kepada sasaran 3B dan memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat sesuai dengan nilai gizi.

Selain penataan penerima manfaat, Kemendukbangga/BKKBN juga mendorong penataan layanan MBG di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).

Untuk menjawab tantangan distribusi di wilayah tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menawarkan pemanfaatan program Dapur Anak Sehat Atasi Stunting (DAHSAT) sebagai alternatif model layanan.

“Yang terakhir, sebenarnya ini untuk 3T saya kira, dulu kita sering berdiskusi tentang solusi untuk 3T dengan skema lain. Kita punya namanya DAHSAT atau Dapur Anak Sehat Atasi Stunting,” paparnya.

Pemanfaatan DAHSAT tersebut dinilai dapat menjadi alternatif model penyediaan makanan bergizi berbasis masyarakat yang telah berjalan di berbagai daerah.

Program ini juga mendukung pelaksanaan MBG di wilayah dengan keterbatasan akses maupun infrastruktur agar kelompok yang paling membutuhkan mendapatkan manfaat secara optimal, terutama bagi sasaran 3B wilayah 3T.

Sementara itu, Kepala BGN Nanik S. Deyang menjelaskan, BGN kini tengah melakukan penataan dan refocusing (penyesuaian) Program MBG agar lebih tepat sasaran dengan memprioritaskan kelompok 3B dan wilayah 3T.

Kelompok 3B menjadi prioritas karena intervensi gizi paling efektif dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia sekolah dasar.

“Sebetulnya saya sudah diskusi dengan profesor-profesor terkait hal itu, sebetulnya intervensi kita ini adalah di usia kandungan satu bulan hingga 9 tahun atau sampai SD,” ucap Nanik.

Selain itu, lanjut dia, fokus BGN kini adalah pada daerah-daerah 3T, di mana 63 juta penerima manfaat dipastikan berkualitas, benar-benar untuk 3B dan 3T.

Selain refocusing penerima manfaat, BGN juga mendorong pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia di masyarakat untuk mempercepat perluasan layanan MBG di daerah-daerah yang masih tertinggal.

Pemerintah terus memanfaatkan pendekatan kolaboratif dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia dan dukungan dari berbagai pihak untuk mempercepat perluasan layanan MBG tanpa sepenuhnya bergantung pada pembangunan infrastruktur baru melalui APBN.

Sumber, Antara