Hambali Otak Bom Malam Natal Batam, Baru Disidang di Guantanamo

Apakah Hambali masih berstatus WNI?

Kementerian Luar Negeri Indonesia, melalui juru bicaranya, Teuku Faizasyah, mengaku “belum mendapat informasi atas hal ini [rencana persidangan Hambali di AS].”

Hal itu disampaikan Teuku Faizasyah melalui pesan tertulis kepada BBC News Indonesia, Selasa (17/08).

Ditanya apakah Hambali masih berstatus warga negara Indonesia (WNI), Faizasyah menulis:

“Sepengetahuan saya saat Hambali ditangkap di Thailand, yang bersangkutan memegang paspor non-Indonesia,” katanya. “Jadi status kewarganegarannya merujuk ke paspor tersebut.”

Pada Maret 2010 lalu, Hambali mengajukan permohonan pembebasan dari penahanan tanpa tuduhan kepada pengadilan distrik di Washington. Namun permintaannya tidak diluluskan.

Hambali ‘penghubung’ Jemaah Islamiyah dan Al-Qaeda
Hambali, awalnya, terlibat gerakan jihad saat bertemu Abdullah Sungkar dan Abubakar Baasyir — dua tokoh Negara Islam Indonesia (NII) — di Malaysia pada 1980an.

Dua orang ini melarikan diri ke Malaysia karena menjadi buronan pemerintahan Orde Baru, akibat terlibat gerakan pendirian Negara Islam.

Pada 1987, ketika Afghanistan dicaplok Soviet, Hambali dikirim ke sana untuk mengikuti pelatihan militer dan ikut bertempur mendukung kelompok Mujahidin.

Menurut mantan Wakil Kepala BIN, As’ad Said Ali, Hambali merupakan “kader paling cerdas”, terbukti dia terpilih “sebagai lulusan terbaik angkatan keempat.”

“Hambali pernah mendapat pendidikan militer di Afghanistan. Dia angkatan ke-4 dan lulus 1989, dan sempat menjadi instruktur,” kata Nasir Abas, bekas pimpinan Jemaah Islamiyah, kepada BBC News Indonesia, Sabtu (28/08).

Fungsi pelatihan militer itu, ungkap Nasir yang juga pernah mengikuti pelatihan itu, dapat digunakan untuk kepentingan NII.

Dalam perkembangannya, ketika Abdullah Sungkar keluar dari NII dan mendirikan Jemaah Islamiyah pada Juni 1993, di mana Hambali ikut membahas konsep ‘ideologi’ JI, tulis As’ad.

Dan ketika Hambali menjadi salah-seorang pimpinan mantiqi (wilayah) satu JI (meliputi Malaysia, Singapura, Thailand selatan), dia dipercaya mewakili JI ke Afghanistan.

Saat itu kelompok Taliban yang berkuasa dan Osama bin Laden diizinkan membuka kamp pelatihan militer di sana.

Di sanalah, menurut Nasir Abbas, yang pernah menjadi pimpinan JI dan menyatakan keluar, Hambali menjadi penghubung JI dan Al-Qaeda serta Taliban

“Hambali kemudian bertemu Osama bin Laden,” ungkap Nasir. Pertemuan itu, antara lain, membahas bahwa JI akan mengirim anggotanya untuk berlatih militer di kamp-kamp di Afghanistan.

Dalam amatan Al Chaidar, peneliti tentang terorisme, Hambali kemudian memiliki “hubungan khusus” dengan Al-Qaeda dan Taliban.

“Hambali memainkan peranan sebagai penghubung paling utama antara Abdullah Sungkar, Abubakar Baasyir dari JI dengan Al-Qaeda dan Taliban,” papar Al Chaedar kepada BBC News Indonesia.

Mengapa Hambali yang dipilih, Al Chaidar menganggap karena dia sosok yang paling dipercaya, sudah dikenal, dan memiliki kemampuan berbahasa Arab.

‘Kami berbicara bahasa Sunda dan Arab dengan Hambali di Guantanamo, dan dia akui semua perbuatannya’
Sejumlah perwira Badan Intelijen Negara (BIN) dan Mabes Polri pernah bertemu Hambali di penjara Guantanamo yang di bawah kendali militer AS.

Di hadapan Hambali, mereka mengkonfirmasi hasil penyelidikan tentang dugaan dirinya, Jemaah Islamiyah, serta Al-Qaedah dalam serangkaian serangan bom di awal 2000 hingga 2009.

“Hambali bicara apa-adanya, karena tim yang kami kirim pintar bahasa Arab dan juga bahasa Sunda,” kata As’ad Said Ali, sambil tergelak, kepada BBC News Indonesia, Minggu (29/08).

Menurutnya, timnya yang menggunakan “pendekatan budaya”, melakukan konfirmasi atas hasil penyelidikan sebelumnya yang mengarah pada dugaan keterlibatannya.

“Dia mengakui semua atas apa yang dilakukannya. Terang-benderang, dia tidak menutup-nutupi, karena sudah no way ya,” aku As’ad, yang pernah menulis buku Al-Qaeda, Tinjauan Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014).

Di hadapan Hambali, tim BIN dan Mabes Polri terutama mengkonfirmasi beberapa aksi teror bom yang “tidak diketahui” anggota JI lainnya.