
BATAMCLICK.COM: KPBPB Bintan dan Karimun kini menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menarik arus investasi di wilayah perbatasan Indonesia. Kawasan ini tidak hanya diposisikan sebagai pusat industri, tetapi juga sebagai ekosistem bisnis yang terintegrasi dan kompetitif di tingkat global.
Ketua Dewan Kawasan KPBPB Bintan dan Karimun yang juga Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menegaskan bahwa pemerintah terus menyiapkan kawasan ini agar semakin ramah bagi investor. Ia memastikan berbagai kemudahan telah dirancang secara sistematis, mulai dari insentif fiskal hingga percepatan perizinan.

“KPBPB Bintan dan Karimun kita siapkan sebagai kawasan yang ramah investasi, dengan berbagai kemudahan mulai dari insentif fiskal, percepatan perizinan, hingga dukungan infrastruktur yang memadai agar investor merasa nyaman dan yakin menanamkan modalnya di Kepri,” ujarnya.
Insentif dan Infrastruktur Jadi Kunci Daya Saing
Pemprov Kepri terus memperkuat daya tarik kawasan ini melalui kombinasi kebijakan yang pro-bisnis. Selain menawarkan insentif fiskal yang kompetitif, pemerintah juga menghadirkan kemudahan layanan investasi melalui badan pengusahaan dan sistem Online Single Submission (OSS).
Tidak hanya itu, pengembangan kawasan industri, sektor maritim, serta pariwisata juga berjalan secara paralel. Dengan begitu, KPBPB Bintan dan Karimun tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga destinasi ekonomi yang terintegrasi.
Di sisi lain, letak geografis Kepri yang berada di jalur strategis Selat Malaka menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia, sehingga membuka peluang besar bagi aktivitas perdagangan internasional.
“Kepri berada di titik strategis jalur perdagangan global. Ini bukan sekadar keunggulan geografis, tetapi peluang ekonomi besar yang harus kita kelola untuk kesejahteraan masyarakat,” jelas Ansar.
BBK Diproyeksikan Jadi Hub Logistik Internasional
Pemerintah Provinsi Kepri juga terus mendorong penguatan kawasan Batam-Bintan-Karimun (BBK) sebagai pusat logistik internasional. Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan arus barang, mobilitas penumpang, serta kunjungan wisatawan.
Data terbaru menunjukkan tren investasi di kawasan BBK terus mengalami peningkatan. Total realisasi investasi bahkan telah mencapai 4,67 miliar dolar AS atau sekitar Rp78,38 triliun. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor terhadap Kepri semakin meningkat.
“Capaian ini menunjukkan kepercayaan investor terus tumbuh. Namun kita tidak boleh berpuas diri, karena potensi Bintan dan Karimun masih sangat besar untuk dikembangkan,” ungkapnya.
Dukungan Regulasi dan Sinergi Jadi Penentu
Pengembangan KPBPB tidak berjalan sendiri. Pemerintah pusat turut memberikan dukungan melalui berbagai regulasi strategis, termasuk Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pengembangan KPBPB dan kawasan BBK.
Selain regulasi, keberhasilan kawasan ini juga sangat ditentukan oleh sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan pengusahaan, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Jika pemerintah pusat, daerah, badan pengusahaan dan seluruh stakeholder bergerak dalam satu visi, saya yakin Bintan dan Karimun akan menjadi kawasan investasi kelas dunia,” tegas Ansar.
Beranda Depan Indonesia untuk Daya Saing Global
Lebih jauh, Ansar menekankan bahwa pembangunan KPBPB bukan hanya untuk kepentingan daerah semata. Kawasan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global.
Dengan posisi strategis dan potensi ekonomi yang besar, Kepri dipandang sebagai beranda depan Indonesia yang memiliki peran vital dalam arus perdagangan internasional.
“Kepri adalah beranda depan Indonesia. Apa yang kita bangun di sini bukan hanya untuk daerah, tetapi juga untuk kepentingan bangsa dan negara,” tutupnya.







