BATAMCLICK.COM: Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau bukan hanya dikenal karena pesona baharinya yang indah dan sejarah kerajaan Melayu yang megah, tetapi juga karena kekuatan sektor perikanan Lingga yang menjadi penopang utama ekonomi masyarakat dan penyangga stabilitas pangan daerah.
Bagi pemerintah daerah, sektor ini bukan sekadar urusan hasil laut, tetapi juga bagian penting dari strategi besar menjaga inflasi pangan agar tetap terkendali.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau, Said Suradjat, mengatakan bahwa Kepri saat ini menempati posisi kedua tertinggi di Sumatera dalam hal produksi perikanan, baik tangkap maupun budidaya. Total produksinya mencapai hampir 380 ribu ton per tahun, dan sebagian besar berasal dari wilayah-wilayah dengan laut produktif seperti Lingga, Natuna, dan Anambas.
Konsumsi Ikan Tinggi, Masyarakat Sehat dan Ekonomi Bergerak
Said menjelaskan, masyarakat Kepulauan Riau memiliki kebiasaan makan ikan yang kuat. Rata-rata konsumsi ikan masyarakat Kepri mencapai 60 kilogram per kapita per tahun, hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang hanya 30–40 kilogram.
“Cinta masyarakat terhadap ikan bukan hanya karena cita rasanya yang segar, tapi juga karena mereka sadar bahwa ikan adalah sumber protein tinggi yang murah dan mudah didapat,” tutur Said di Batam, Minggu.
Kondisi geografis Kepri yang 98 persen berupa lautan, menurutnya, menjadi anugerah yang harus terus dijaga dan dioptimalkan. “Potensi sumber daya ikan di Kepri luar biasa besar. Tantangan kita adalah memastikan rantai pasok berjalan lancar, sehingga harga tetap stabil dan nelayan tidak merugi,” ujarnya.
Perikanan Lingga dan Strategi Menjaga Harga Ikan
Untuk menjaga stabilitas harga, DKP Kepri bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pergerakan harga ikan di pasaran. Langkah ini terutama diperkuat menjelang hari-hari besar keagamaan dan pada musim cuaca ekstrem, di mana hasil tangkapan nelayan biasanya menurun.
Salah satu strategi konkret yang dilakukan pemerintah adalah menghadirkan program pasar murah dan gerakan pangan murah. Dalam program tersebut, produk ikan segar hingga olahan diperkenalkan kepada masyarakat dengan harga terjangkau, sekaligus menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM sektor perikanan.
“Ikan seperti tongkol bisa menjadi pilihan cerdas masyarakat. Selain murah—kisaran Rp20–30 ribu per kilogram—ikan ini memiliki kandungan protein tinggi dan mudah diolah. Jadi, selain menjaga konsumsi bergizi, juga membantu menekan inflasi,” kata Said menjelaskan.
Batam dan Lingga, Dua Kekuatan Laut yang Saling Melengkapi
Produksi ikan di Kepri tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi lokal. Di Batam, misalnya, tingkat konsumsi ikan per tahun mencapai lebih dari 30 ribu ton. Namun, sebagian besar hasil tangkapan dari wilayah lain, termasuk Lingga, juga diekspor ke luar negeri.
Data Dinas Perikanan Kota Batam mencatat, ekspor komoditas perikanan dari Januari hingga Juni 2025 telah mencapai 3.275 ton dengan nilai sekitar Rp129 miliar. Angka ini menunjukkan bagaimana sektor maritim Kepri, termasuk Lingga, berperan penting dalam mendorong stabilitas ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi Kepri sebagai lumbung pangan laut nasional.
Laut yang Tak Pernah Tidur
Dengan laut yang luas dan hasil tangkapan yang terus meningkat, perikanan Lingga menjadi simbol ketahanan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah daerah terus berupaya menyeimbangkan antara eksploitasi dan konservasi, agar laut tetap lestari namun tetap produktif bagi kesejahteraan masyarakat.
“Laut tidak pernah tidur, dan nelayan kita selalu bekerja keras di tengah gelombang,” ujar Said. “Karena itu, tugas pemerintah adalah memastikan hasil kerja keras mereka bernilai, tidak hanya untuk ekonomi keluarga nelayan, tetapi juga untuk kestabilan ekonomi seluruh daerah.”
Menatap Masa Depan Maritim Kepri
Dengan potensi laut yang melimpah, teknologi budidaya yang semakin maju, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi ikan, Kepri memiliki peluang besar untuk menjadi poros ekonomi maritim nasional.
Dari Lingga hingga Natuna, dari Batam hingga Anambas, sektor perikanan tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga cermin semangat masyarakat Kepulauan Riau yang hidup berdampingan dengan laut—menjaga, memanfaatkannya, dan mewariskannya untuk generasi mendatang.
Perikanan Lingga adalah cerita tentang keseimbangan antara tradisi dan kemajuan, antara kearifan lokal dan kebijakan modern. Sebuah warisan biru yang terus memberi kehidupan bagi masyarakat dan ekonomi di ujung barat negeri ini.(elin)









