Sampan ketinting kembali menggetarkan perairan Batam, membawa semangat Bhayangkara dan denyut budaya Melayu yang tak lekang oleh zaman. Dalam rangka menyambut HUT ke-79 Bhayangkara, Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) kembali menggelar lomba sampan ketinting dan dayung tradisional di Pelabuhan Tanjung Riau, Batam.
Acara ini bukan sekadar perlombaan. Ia adalah upaya nyata untuk melestarikan warisan bahari, mempererat tali silaturahmi warga pesisir, sekaligus memperkuat sinergi antara masyarakat dan aparat penegak hukum.
Tradisi yang Menjadi Olahraga Rakyat
Wakapolda Kepri Brigjen Pol Anom Wibowo memimpin langsung pembukaan acara yang kini telah memasuki tahun ketiga. Ia menekankan pentingnya lomba ini sebagai budaya yang patut dijaga dan diwariskan.
“Kami berharap perlombaan ini menjadi tradisi tahunan, bahkan menjadi agenda resmi daerah. Ini bukan hanya olahraga, tetapi warisan budaya yang menyatukan kita,” ujar Anom di sela-sela kegiatan, Sabtu (21/6/2025).
Lomba dibagi dalam dua kategori: dayung sampan yang diikuti oleh 18 peserta, serta lomba sampan ketinting dengan 16 peserta. Menariknya, peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda, pria dewasa, hingga ibu-ibu rumah tangga.
“Semua bisa ikut. Tadi ada lomba khusus untuk ibu-ibu dan bapak-bapak. Itu yang membuat suasana jadi meriah dan membangkitkan semangat kebersamaan,” tambahnya.
Dari Perahu Balap Hingga Pembangun Kamtibmas
Perlombaan ini menjadi ruang pembinaan sekaligus ajang pencarian bakat atlet air dari Kepulauan Riau. Anom menegaskan bahwa kegiatan ini juga merupakan program strategis Polairud Polda Kepri, yang melibatkan bintara pembina masyarakat pesisir.
“Kami tidak hanya mencari juara, tetapi juga membina masyarakat. Mereka bisa menjadi jaringan informasi kami di lapangan, membantu menjaga keamanan, terutama dari ancaman seperti penyelundupan dan kejahatan laut lainnya,” ujarnya.
Melalui perlombaan ini, polisi mendekatkan diri dengan masyarakat pesisir secara humanis, sambil membangun kepercayaan dan kerja sama jangka panjang dalam menjaga kamtibmas.
Daya Tarik Wisata dan Kebanggaan Budaya
Perlombaan di Pelabuhan Tanjung Riau disambut antusias warga. Sejak pagi, ratusan orang memadati area pelabuhan—baik untuk berlomba maupun menyaksikan keseruan dari pinggir dermaga. Tempat ini memang dikenal sebagai simpul aktivitas masyarakat sekaligus destinasi kuliner, dengan latar belakang pemandangan menawan dan siluet Kota Singapura dari kejauhan.
Tradisi lomba sampan ketinting bahkan telah merambah ke tingkat regional. Tak hanya warga Kepri, peserta dan penonton juga datang dari Malaysia dan Singapura, terutama saat acara digelar di Pulau Belakangpadang dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Anom menyebut, ke depan lomba ini bisa menjadi agenda unggulan untuk mendongkrak pariwisata bahari Batam. “Ini bisa menjadi daya tarik wisata baru. Kita punya budaya, kita punya semangat, dan kita punya laut yang mempesona,” katanya.
Apa Itu Sampan Ketinting?
Sampan ketinting adalah perahu kecil bermesin tempel, porosnya panjang. Dalam perlombaan, peserta harus memacu perahu secepat mungkin menyelesaikan putaran. Siapa yang tercepat, dia juaranya.
Namun, lebih dari sekadar kecepatan, sampan ketinting adalah simbol jati diri masyarakat pesisir. Ia hadir sebagai bukti bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman—justru bisa menjadi energi untuk menyatukan, membina, dan menginspirasi.
Sumber: Antara









