Mendorong Dialektika di Sekolah, Membangun Ruang Filsafat untuk Guru dan Siswa

BATAMCLICK.COM, Jakarta: Di tengah arus pendidikan yang semakin padat dengan tuntutan administrasi dan standar penilaian, Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), mengingatkan pentingnya kembali pada akar pendidikan yakni pembebasan pikiran dan ruang berdialektika.

“Dialektika adalah unsur penting yang perlu hadir di sekolah karena sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, siswa kehilangan kesempatan untuk belajar koreksi diri,” ujar Rizal dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia mengkhawatirkan jika dialektika hilang dari dunia pendidikan, Indonesia bukan lagi menghadapi bonus demografi, melainkan bencana demografi. “Anak muda kita tidak punya mimpi, tak mampu berdialektika, berefleksi, dan akhirnya menutup diri dari keadaan,” tambahnya.

Menurut Rizal, pendidikan perlu memberikan ruang keberagaman agar siswa bisa saling menghargai dan berdiskusi secara terbuka. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, bukan sekadar penyampai materi, tetapi sebagai penumbuh karakter yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan gairah (passion) siswa.

“Kalau gurunya sudah menjadi kurikulum itu sendiri, maka ulangan dan ujian tak perlu dibuat rumit. Semua berangkat dari keseharian guru dan murid dalam ruang pembelajaran,” katanya.

Namun untuk sampai pada tahap itu, Rizal menekankan bahwa guru harus berdaulat—lebih dari sekadar merdeka secara fisik. “Kedaulatan adalah soal jiwa. Guru perlu ruang untuk menentukan cara mengajar yang sesuai dengan dirinya sendiri. Pemerintah perlu memberi ruang filsafat itu,” ujarnya.

Pada awal Mei 2025 lalu, sekitar 90 anak muda dari Gerakan Turun Sekolah (GTS) bertemu dengan 600 siswa di 11 sekolah jejaring GSM di Kulonprogo, Yogyakarta. Dari kunjungan tersebut, mereka menemukan banyak hal, salah satunya betapa minimnya ruang berdialog di sekolah.

Eunike Seka, salah satu relawan GTS, mengungkapkan bahwa banyak guru terbebani administrasi sehingga kehilangan ruang untuk terkoneksi, baik dengan sesama guru maupun dengan muridnya.

“Padahal, guru butuh ruang untuk berdialektika. Saat ini, bahkan murid bertanya saja susah. Kalau ada yang bertanya, justru dianggap melawan atau bahkan dihakimi,” tuturnya.

Sumber: Antara
Editor: Novia Rizka