Mereka Tetap Mengabdi, Meski TPP Datang Belakangan (ASN PEMPROV KEPRI)

BATAMCLICK.COM: Di balik senyum para aparatur sipil negara (ASN) yang melayani masyarakat Kepulauan Riau, tersimpan kegelisahan yang sempat mengendap selama sebulan. Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) untuk bulan April 2025 yang biasanya rutin diterima, kali ini baru cair menjelang akhir Mei. Bagi sebagian dari mereka, penundaan itu bukan sekadar administrasi—melainkan soal dapur yang tetap harus mengepul, anak yang harus tetap sekolah, dan cicilan yang tetap berjalan.

“Minggu ini, TPP periode April sudah kami bayarkan ke rekening masing-masing ASN,” ujar Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, di Tanjungpinang, Kamis lalu.

Bagi pemerintah provinsi, pembayaran TPP bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, kata Nyanyang, TPP adalah denyut ekonomi lokal. Uang yang diterima para ASN itu kembali berputar di pasar, warung makan, toko kelontong, dan sektor informal lainnya.

“TPP ini bukan cuma hak pegawai, tapi juga penggerak ekonomi daerah. Karena itu, menjadi prioritas kami untuk membayarnya tepat waktu,” tegasnya.

Namun, idealisme tak selalu berjalan mulus di atas realitas anggaran. Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kepri, Venni Meitaria Detiawati, mengungkapkan bahwa keterlambatan pembayaran TPP bulan April terjadi karena Pemprov harus memprioritaskan pelunasan tunda bayar kegiatan tahun 2024 yang nilainya tidak kecil: Rp180 miliar.

“Selain itu, pendapatan asli daerah dan dana transfer dari pusat juga belum optimal masuk ke kas,” jelas Venni.

Kondisi ini mencerminkan betapa rumitnya mengelola keuangan daerah. Meski angka dalam APBD Kepri 2025 tercatat Rp3,9 triliun, bukan berarti uang sebanyak itu langsung tersedia di kas. Anggaran hanyalah rencana. Realisasinya tergantung pada pemasukan harian, dari pajak daerah, retribusi, hingga dana transfer pusat yang masuk secara bertahap.

“Setiap hari kita kumpulkan pemasukan, lalu kita belanjakan berdasarkan skala prioritas. Setelah pelunasan tunda bayar, selanjutnya adalah belanja pegawai,” imbuh Venni.

Tak bisa dimungkiri, bagi ribuan ASN yang menggantungkan hidup dari gaji dan TPP, ketepatan waktu pencairan adalah soal kepercayaan dan keberlangsungan hidup. Dengan alokasi sekitar Rp45 miliar per bulan hanya untuk TPP, roda ekonomi yang digerakkan para ASN sungguh besar.

Kini, menjelang akhir Mei, kabar cairnya TPP ibarat embusan angin segar bagi banyak keluarga ASN. Harapan pun menguat agar untuk bulan-bulan berikutnya, ritme pembayaran kembali normal.

“Selama PAD dan dana transfer lancar, insyaallah TPP Mei bisa kita bayarkan tepat waktu di akhir bulan ini,” ujar Nyanyang dengan optimisme.

Karena pada akhirnya, di balik lembaran anggaran dan angka-angka yang tertulis rapi, ada wajah-wajah ASN yang setiap pagi tetap mengenakan seragam, menyimpan harapan, dan tetap memilih mengabdi.
Editor: Abd Hamid