Promosi atau Penindasan? Cerita Pelaku Internet Lokal Batam yang Terdesak

BATAMCLICK.COM: Bagi Restu Niangolan, membangun bisnis penyedia layanan internet lokal di Batam bukan perkara mudah. Butuh waktu, tenaga, dan kepercayaan dari pelanggan yang ia rawat satu per satu dengan pelayanan terbaik. Namun kini, usahanya goyah, bukan karena kualitas layanan, melainkan karena strategi promosi yang menurutnya “tidak sehat” dari perusahaan besar.

Restu adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP) di kawasan Nongsa, Batam. Ia menyuarakan keprihatinannya atas praktik promosi dua perusahaan besar, PT Batam Sinergi Net (BSN) dan anak perusahaannya PT Cakrawala, yang memberikan layanan internet gratis selama dua bulan bagi pelanggan baru.

“Bayangkan, kami yang usaha kecil ini bergantung pada pemasukan reguler setiap bulan untuk bayar gaji teknisi, beli perangkat, dan operasional lainnya. Kalau pelanggan digratiskan dua bulan, bagaimana kami bisa bersaing?” ujar Restu dengan nada lelah namun tegas, Rabu (22/5).

Ia menegaskan, bukan soal takut bersaing. Namun, menurutnya, ada garis batas yang seharusnya tidak dilanggar dalam persaingan usaha.

“Kami tidak keberatan bersaing harga atau lokasi. Tapi memberi gratis dua bulan penuh itu bukan strategi, itu cara mematikan pelaku usaha kecil seperti kami,” ujarnya.

Bayangan Modal Asing dan Kesenjangan Peluang

Keresahan Restu tak berhenti di situ. Ia juga mengungkapkan adanya dugaan keterlibatan pemilik modal asing dari Taiwan dalam operasional salah satu perusahaan besar tersebut. Baginya, hal ini menambah lapisan ketimpangan yang semakin sulit dilawan oleh pemain lokal.

“Kalau sudah masuk investor asing dengan dana besar, lalu mereka masuk pasar dengan cara ‘membakar uang’ seperti itu, ya bagaimana pelaku kecil bisa bertahan?” keluhnya.

Restu tidak sendiri. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menilai praktik semacam ini tidak etis dan berpotensi merusak iklim usaha yang sehat di Batam.

“Kami ingin bisnis internet di Batam tumbuh bersama. Sehat, kompetitif, tapi tetap memberi ruang untuk UMKM. Jangan sampai korporasi besar justru merampas kesempatan usaha kecil yang sedang tumbuh,” tambah Restu, mewakili suara pelaku usaha lokal lainnya.

Harapan di Tengah Ketimpangan

Ia berharap APJII dan pemangku kebijakan lainnya dapat menertibkan praktik pemasaran yang merugikan UMKM, dan memastikan regulasi ditegakkan adil di lapangan.

Restu tahu ia bukan raksasa, tapi ia percaya bahwa UMKM seperti dirinya punya hak yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi pada perekonomian daerah.

“Kami tidak butuh dikasihani. Kami hanya ingin bersaing dengan cara yang adil,” ucapnya pelan.

Editor: Abd Hamid