Nuryanto: Pendekar PSHT Harus Bisa Jadi ‘Motor’ Persatuan dan Kesatuan  

Batamclick.com, Batam – Ratusan pesilat yang tergabung dalam Persaudaraaan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Batam diminta bisa menjadi ‘motor’ pergerakan dalam menjaga persatuan dan kesatuan di Kota Batam. 

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam Nuryanto S.H., M.H. disela-sela pengesahan Warga Baru Tingkat I Tahun 2023 PSHT Cabang Batam di Padepokan PSHT Batam, Graha Mas, pada Jumat (28/7/2023) malam. 

Politisi PDI Perjuangan ini juga berpesan agar para pendekar agar senantiasa menjaga harkat martabat PSHT dan tentunya ikut mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang Berbhineka Tunggal Ika dengan dasar Pancasila.

“Pesaudaran PSHT di Kota Batam sudah sangat solid dan melekat di sanubari. Dan hal ini bisa menjadi contoh persatuan dan kesatuan bagi masyarakat Batam. Jadi pak Polisi tidak perlu khawatir, makin banyak pendekar PSHT maka insya allah Batam aman dan nyaman,” tegas Pria yang akrab disapa Cak Nur ini. 

Para pendekar PSHT pun, tambahnya, harus menjunjung akhlak sekaligus turun langsung dalam memebrikan kotribusi yang terbaiknya dalam pembangunan di Kota Batam. 

“Untuk itu kepada para pendekar yang disahkan, Batam perlu uluran tangan dan gerakmu serta budi pekertimu. Untuk itu, mari kita berikan kontribsui terbaik kita bagi kota Batam,” terang Cak Nur. 

BACA JUGA:   Viral Bapak Tukang Becak Salat di Emperan Ruko, Sosoknya Dipuji Warganet

Sebagaimana diketahui, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan salah satu organisasi silat tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1922. Mulanya, PSHT bukanlah organisasi silat melainkan sebuah perkumpulan bernama Sedulur Tunggal Kecer yang didirikan oleh Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo pada 1903.

Ia merupakan putra sulung dari Ki Ngabehi Soeromihardjo, seorang mantri cacar di daerah Ngimbang, Jombang, Jawa Timur.

Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo masih memiliki silsilah keluarga dengan Betoro Katong yang merupakan pendiri Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Semasa hidupnya, Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo memiliki ketertarikan pada seni bela diri pencak silat. Ia pun sempat pergi ke berbagai daerah untuk mengasah kemampuan silatnya.

Awalnya, ia pergi ke Parahiyangan, Bandung, Jawa Barat pada 1892 untuk mempelajari berbagai aliran pencak silat. Kemudian, ia pindah ke Jakarta, Lampung, Padang, dan Aceh hingga akhirnya kembali ke Surabaya pada 1902.

Selang setahun, ia mendirikan Sedulur Tunggal Kecer sebagai sebuah perkumpulan dengan pencak silatnya bernama Joyo Gendelo Tjipto Muljo.

Pada 1907, Ki Ageng Ngabehi Soerodiwirjo akhirnya mengubah nama Sedulur Tunggal Kecer menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH) di Desa Winongo, Madiun, Jawa Timur.

BACA JUGA:   Inter Milan Pesta Gol

Ia menggunakan kata ‘persaudaraan’ untuk mengikat rasa persaudaraan antaranggota PSH dan membentuk rasa nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia yang kala itu masih dijajah Belanda.

Setelah bersulih nama menjadi PSH, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang merupakan salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia didapuk menjadi pemimpin PSH sejak 1922 sampai 1948.

Pada masa kepemimpinan Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Belanda sempat menganggap PSH merupakan tempat latihan pencak silat dalam rangka menghimpun perlawanan kepada Belanda. Maka dari itu, Belanda kemudian menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan membuangnya ke beberapa daerah, mulai dari Jember, Cipinang, hingga Padangpanjang.

Namun, pada masa kepemimpinan Ki Hadjar Hardjo Oetomo muncul usulan agar PSH berganti nama menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Usul ini berasal dari RM. Soetomo Mangkoedjojo, seorang pegawai bank yang merupakan murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Usul itu dikemukakan pada 1942, namun baru disepakati melalui kongres pertama pada 1948. Setelah itu, PSH resmi berganti nama menjadi PSHT. Itulah cikal bakal sejarah PSHT.

Setelah itu, PSHT dipimpin oleh RM. Soetomo Mangkoedjojo sampai 1956. Namun karena ia dipindahtugaskan ke Surabaya, maka kepemimpinan PSHT dilanjutkan oleh Irsad pada 1956-1958 dan Santoso pada 1958-1966.

BACA JUGA:   Digitalisasi Pendidikan Sebagai Inovasi Baru Dimasa Pandemi

Pada 1960-an, terjadi pergolakan di internal PSHT sehingga kepemimpinan kembali ke tangan RM. Soetomo Mangkoedjojo pada 1966-1974. PSHT kemudian menggelar kongres di Madiun dan memilih RM. Imam Koesoepangat menjadi Ketua Pusat PSHT pada 1974-1977. RM. Imam Koesoepangat membawa PSHT menjadi organisasi silat yang disegani.

Setelah berkembang pesat, PSHT kemudian menggelar kongres lagi dan memilih Badini menjadi pimpinan untuk periode 1977-1981. Lalu, dilanjutkan oleh Tarmadji Budi Harsono pada 1981-2014. Pada masa kepemimpinan Tarmadji Budi Harsono, keanggotaan PSHT mencapai belasan juta di seluruh dunia.

Selain itu, PSHT juga mendirikan Yayasan Setia Hati Terate untuk mengelola kekayaan PSHT dan membangun padepokan agung yang menjadi landmark organisasi. Setelah itu, kepemimpinan PSHT berada di tangan Richard Simorangkir dan Arif Suryono sebagai pelaksana tugas (plt) sampai akhirnya Muhammad Taufik terpilih pada 2016-2017.

Kemudian, kongres menggelar pemilihan lagi dan menetapkan Moerdjoko HW sebagai pimpinan PSHT sejak 2017 sampai saat ini. Moerdjoko HW memimpin PSHT dengan lebih dari 300 pengurus cabang dan komisariat di dalam dan luar negeri. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *