Bea Cukai Sebut PT Sat Nusapersada Beri Kontribusi Terbesar, Bea Masuk Batam Naik Hingga 41,5 Persen

PT Sat Nusapersada beri kontribusi terbesar terhadap penerimaan bea masuk Batam yang naik 41,5 persen di semester I 2025. Industri elektronik, kapal, hingga kakao dorong pertumbuhan ekonomi kawasan FTZ.
PT Sat Nusapersada beri kontribusi terbesar terhadap penerimaan bea masuk Batam yang naik 41,5 persen di semester I 2025. Industri elektronik, kapal, hingga kakao dorong pertumbuhan ekonomi kawasan FTZ.

Industri elektronik, galangan kapal, hingga pengolahan kakao menjadi tulang punggung penerimaan negara dari kawasan FTZ Batam.

PT Sat Nusapersada Beri Kontribusi Terbesar terhadap peningkatan penerimaan bea masuk di Batam selama semester pertama tahun 2025. Pertumbuhan itu tidak berdiri sendiri, melainkan mencerminkan geliat sektor industri di Pulau Batam yang semakin kuat dan beragam.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah, menyampaikan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2025, pihaknya mencatat penerimaan bea masuk sebesar Rp190,7 miliar. Angka ini telah mencapai 56,7 persen dari total target penerimaan tahun 2025, sebesar Rp335,5 miliar.

“Kalau dibandingkan dengan semester pertama tahun 2024 yang hanya Rp134,7 miliar, tahun ini terjadi lonjakan signifikan sebesar 41,5 persen. Ini pertanda bahwa industri di Batam tumbuh sangat positif,” kata Zaky di Batam, Rabu.

Harapan Penerimaan Pajak dari Daerah FTZ

Sebagai wilayah yang masuk dalam zona perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ), Batam tidak serta-merta menghasilkan bea masuk dari barang impor. Namun, potensi bea masuk tetap terbuka dari penjualan produk-produk hasil industri lokal ke wilayah Indonesia lainnya, atau sebagai Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (TLDDP).

Zaky menjelaskan, produk-produk yang masuk ke TLDDP berasal dari perusahaan-perusahaan yang melakukan impor bahan baku ke Batam, mengolahnya, lalu menjualnya kembali ke pasar dalam negeri. Di sinilah negara mendapatkan penerimaan bea masuk.

Hasil Produksi

Dari seluruh kontribusi industri, PT Sat Nusapersada menjadi penyumbang terbesar, terutama lewat produksi komoditi elektronik seperti telepon seluler dan komponennya. Produk-produk ini diproduksi di Batam dan kemudian mereka jual ke pasar domestik.

Tak hanya itu, industri galangan kapal (shipyard) juga memberikan kontribusi signifikan melalui aktivitas perbaikan dan pengadaan suku cadang kapal. Selain itu, industri pengolahan kakao dari PT Asia Kakao juga ikut menyumbang penerimaan. Perusahaan tersebut mengimpor biji kakao dari luar negeri, lalu menjual hasil olahannya ke TLDDP.

“Industri kakao di Batam ini juga cukup maju. Mereka mampu mengolah kakao dan menghasilkan produk berkualitas dan memasarkannya ke berbagai wilayah Indonesia,” ujar Zaky.

Daur Ulang yang Membuahkan

Kontribusi penerimaan bea masuk juga datang dari sektor kimia dan farmasi, serta dari industri daur ulang yang memanfaatkan limbah menjadi barang bernilai ekonomis tinggi.

“Dengan kinerja seperti ini, penerimaan bea masuk Batam jauh melampaui rata-rata nasional yang hanya mencapai 44 persen. Sementara Batam sudah berada di 56,7 persen,” tambah Zaky.

Ia menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi indikator kuat bahwa ekonomi industri Batam terus bergerak naik, sekaligus memperkuat peran Batam sebagai lokomotif ekonomi kawasan barat Indonesia.