Kisah Haru Wanita Mantan Pasien RSJ, Bisa Sembuh dan Kuliah di UI

BATAMCLICK.COM: Kisah yang dibagikan Yovania Asyifa Jami mendadak viral dan jadi perbincangan hangat di jagat maya. Mahasiswi berusia 19 tahun ini berbagi kisah pernah menjadi penyintas di rumah sakit gangguan jiwa.

Yovania membagikan kisah lewat video TikTok soal bagaimana dirinya berjuang mengembalikan ingatan dengan bantuan perawat. Yovania pun kini dinyatakan sembuh dan masuk ke perguruan tinggi negeri pada Januari 2021.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini cerita bagaimana awal dirinya bisa mengalami gangguan jiwa. Yovania ternyata sempat depresi mengikuti ujian nasional saat duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Yovania yang berasal dari keluarga broken home ini mengaku pernah diejek satu angkatan saat duduk di bangku SMP. Ia bahkan sempat hilang kesadaran, delusi hingga menyakiti diri sendiri saat masih jadi siswi SMA.

Yovania kini sudah dinyatakan sembuh usai menjalani perawatan di rumah sakit. Meski begitu ia masih rutin mengonsumsi obat dan ke psikiater akibat mengidap Unspecified Bipolar Disorder.

Selain itu Yovania juga cerita pengalaman pernah ditolak empat perguruan tinggi negeri karena punya riwayat gangguan jiwa. Namun perjuangan Yovania akhirnya berbuah manis dan diterima di Universitas Indonesia.

Yovania lantas memberanikan diri untuk mengangkat soal gangguan jiwa dan jadi pembicara di berbagai acara. Ia mengaku ingin memberikan motivasi kepada orang yang pernah mengalami gangguan jiwa untuk berani berbagi cerita dan pengalaman.

“Karena sampai saat ini banyak banget stigma-stigma negatif tentang ODGJ dan RSJ. Sebenarnya aku kayak nggak suka sama stigma negatif itu. Akhirnya aku sadar, ini lho saya seorang ODGJ dan mantan ODGJ. Tapi saya bisa lho! Jadi kenapa nggak di-share aja untuk memotivasi banyak orang,” ungkap Yovania saat tampil di Rumpi, Trans TV.

“Aku pikirnya ini penyakit biasa, kayak orang sakit demam masa lalu? Ini sama kayak penyakit fisik lainnya. Tapi bedanya ini di mental. Jadi aku nggak pernah malu dengan penyakit aku,” sambung Yovania.

Yovania cerita pertama kali dirinya dinyatakan mengalami gangguan jiwa saat berusia 15 tahun. Ia pun mengenang bagaimana masa-masa sulit kala itu.

“Yang pertama dari SD aku sudah menjadi korban perceraian orang tua. Setelah itu SMP aku dibully habis-habisan. Mereka ngatain aku kuda, sampai sekarang aku nggak ngerti bullyan itu masuk di aku. Aku dibilang mukanya mirip kuda, sampai ada yang meringkik di belakang aku,” kenang Yovania.

“Ketika orang tua berpisah, aku sedih, marah dan kecewa. Aku bingung melampiaskannya ke mana? Dulu aku dekat dengan papa, akhirnya aku dipisahkan karena hak asuhnya di mama. Sempat rujuk dan tiga kali talak dan tidak bisa kembali lagi,” lanjut Yovania.

Yovania juga cerita bagaimana dirinya kerap mendapat ejekan saat duduk di bangku SMP. Ia tak menyangka bahwa teman-temannya bisa bersikap seperti itu.

“Aku awalnya nggak nyadar dan ngatainnya spesifik dan di depan aku. Awalnya aku bingung padahal aku nggak salah apa-apa. Aku dulu SD punya banyak teman dan berprestasi. Ranking melulu. Terus SMP awal rangking tiga besar. Mengapa mereka jahat banget dan kecewa aja,” kata Yovania.

“Sampai akhirnya lepas dari psikiater, SMA masuk ke lingkungan baru dan aku satu sekolah sama yang bully aku dulu. Sempat nggak tidur tiga hari dan bangun-bangun langsung tidak sadar, lupa ingatan, halusinasi dan delusi,” sambung Yovania.

Yovania seakan membuktikan bahwa  orang dengan gangguan jiwa perlu mendapat tindakan perawatan sebaik mungkin. Yovania juga menjadi contoh kasus bahwa orang dengan gangguan jiwa juga punya kesempatan untuk sembuh.

“Buat yang masih nge-jokes tentang RSJ dan ODGJ, jangan ngeremehin lagi, ini lho gue! Dapat salam dari mantan pasien RSJ yang kini masuk UI,” tutup Yovania.(syt)

sumber:insertlive