Soal Biaya Bongkar Muat di Pelabuhan Kontainer Batuampar, KADIN Minta BP Batam jangan mau Distir Pihak Asing

BATAMCLICK.COM: Permasalahan tarif bongkar-muat barang kontainer hingga pengangkutan ke gudang pemilik, di Pelabuhan kontainer Batuampar masih menjadi sorotan dari para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Kepri.

Kadin menilai, tingginya tarif ini, karena lemahnya fungsi kontrol dan ketegasan dari pengelola pelabuhan yakni BP Batam.

“Mestinya BP Batam harus bersikap tegas, harus bisa mengontrol tarif, agar pengusaha tidak menjerit,” ungap Ketua Kadin Kepri, Ahmad Makruf Maulana, pada Batamclick.com, akhir pekan lalu.

Ditegaskan Makruf, BP Batam telah mengeluarkan tarif secara resmi, melalui Peraturan Kepala (Perka) BP Batam.

“Tapi tarif itu tak digunakan, sekarang tarif yang digunakan mengacu pada tarif yang dikeluarkan oleh Singapura,” sambungnya.

Makruf menyayangi hal ini, karena menurutnya, dengan tidak berlakunya tarif yang dikeluarkan oleh BP Batam itu, menunjukkan bahwa posisi Pemerintah Indonesia sangat lemah, sehingga bisa dikuasai oleh pisak asing.

“Saat ini, tarif yang digunakan itu business to business (B to B), sehingga semua komponen pembiayaan dijadikan satu, dikenakan rate Singapura, dan harus dibayar oleh pemilik barang,” sebutnya.

Dijelaskan Makruf, mestinya, BP Batam bisa memutus mata rantai pembiayaan ini, sehingga tarif yang dikenakan ke pengusaha atau pemilik barang tidak membengkak.

“Ketika barang sudah masuk ke perairan Indoneisa atau Batam, mestinya sudah harus menggunakan tarif sendiri, sesuai dengan Perka BP Batam, mulai dari tarif pandu, tarif sandar, tarif Lolo (lift on-lift off), tarif pengangkutan ke gudangnya, semua harus menggunakan tarif yang diterapkan oleh BP Batam, yang tertuang dalam Perka BP Batam, sehingga tidak memberatkan pengusaha pemilik barang,” tegasnya.

“Kalau pakai tarif Singapura, kita keok lah, makanya biaya angkut dari Sngapura ke Jakarta jauh lebih murah dibanding Singapura ke Batam, padahal jarak tempuhnya berlipat-lipat bedanya,” ucap Makruf.

Makruf mencium tingginya tarif ini dikarenakan ada konspirasi dan dugaan monopoli dari perusahaan jasa yang beroperasi di Pelabuhan Batuampar.

Ia minta agar BP Batam bisa bersikap tegas demi memberikan pelayanan yang terbaik dan murah bagi para pengusaha.

“BP Batam harus bisa tegas, terapkan tarif sesuai Perka BP Batam, jangan lemah dikuasai pihak asing,” tutup Makruf.

Asdeki : Masalahnya Kapal Tak Bisa Sandar di Batam

Sementara itu, Ketua Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki) Kepri, Ismed Safriady kepada Batamclick menjelaskan, ada banyak faktor yang menyebabkan tarif angkut kontainer terkesan mahal.

“Kalau dibilang lebih mahal, sebenarnya tidak, tarif itukan terjadi karena banyak komponen, dan fase yang harus dilalui,” jelas Ismed yang akrab disapa Amex.

Dijelaskan Amex, kalau sebagai pembandingnya itu Jakarta, maka harus dipahami dulu. “Singapura – Jakarta itu sitemnya port to port, dari pelabuhan ke pelabuhan, jadi yang dibayar hanya biaya angkutnya saja atau tarif kapalnya, pemilik barang harus repot membayar biaya Lolo di dermaga Jakarta, biaya angkut dari dermaga sampai ke gudang, dan lain sebagainya,” ungkap Amex.

Sedangkan yang diterapkan di Batam, lanjutnya adalah sistem B to B. Sitem ini sudah menggabungkan semua biaya dari barang tersebut.

“Pengusaha tinggal tunggu di gudangnya, barang sudah sampai, tak perlu lagi repot,” sebutnya.

Penyebab lain biaya itu menjadi mahal, lanjut Amex, karena saat ini Batam belum memiliki pelabuhan petikemas yang mampu disinggahi oleh kapal-kapal berkapasita besar, yang membawa ribuah kontainer dalam satu kapal.

“Inikan masalahnya barang-barang dari Cina yang kapal pengangkutnya berukuran besar, bawa ribuan kontainer, dan tidak bisa menyandar di Batam, sehingga sandar di Singapura. Di Singapura barang dibongkar dari kapal tentu kena biaya bongkar, lalu barang dipindahkan ke tempat penampungan sementara juga kena biaya, barang dimuat ke kapal yang akan berlayar ke Batam juga kena biaya, sampai di Batam kena biaya bongkar lagi, kena biaya angkut ke gudang lagi, dan biaya-biaya itu digabungkan menjadi satu, sehingga nampaknya besar, padahal kalau dipecah-pecah, jatunya sama saja,” tegas Amex.

Amex mengatakan, jika kapal-kapal dari Cina yang berukuran besar itu bisa menyandar langsung di Pelabuhan Batuampar, pasti biaya yang dikeluarkan oleh para pengusaha jauh lebih murah.(bos)