LINGGA – Jam satu siang, panas Daik masih menempel di atap seng. Di Jalan Masjid Sultan, Kampung Tembaga, ada rumah berwarna biru yang pintunya selalu terbuka. Di situlah sanggar Tudung Manto.
Dua lembar benang emas berkilau dalam ingatan Leni. Bagi perempuan kelahiran Dabo Singkep, 02 Mei 1985 silam, kain tipis yang terbentang di atas papan pembidang kayu bukan sekadar urusan helai demi helai serat. Di sanalah, sejak 2019, ia merawat sisa napas warisan leluhur Melayu Lingga bernama Tudung Manto.
Leni duduk di lantai dengan kaki dilipat. Di pangkuannya ada kain putih yang belum jadi. Tangannya menarik benang kecil warna emas. Tipis sekali, salah tarik bisa putus.
“Namanya benang kelingkan. Ada yang sadur emas, ada perak, ada tembaga. Makanya kalau kena matahari, dia nyala,” ungkap Leni.
Awalnya ia mulai tanpa modal besar. Cuma niat dan bimbingan seorang kawan yang telaten ngajarin tekat. Belum genap sebulan, jemarinya sudah bisa melahirkan selembar Tudung Manto yang laku Rp1,7 juta.
“Saat itu aku berpikir kalau cuma dipakai sendiri, ilmunya mati di tangan aku. Ditambah pesanan makin banyak, jadi aku mengajak ibu-ibu di sekitar sini bergabung. Agar mereka bisa punya penghasilan sendiri tanpa harus meninggalkan rumah,” kenang Leni.

Dari obrolan di teras itu, sekarang ada 12 anggota yang ikut. Ibu-ibu dan satu mahasiswi.
Membuatnya bukan perkara instan. Kain sifon atau sutra ukuran 150×60 cm dipotong, pinggirannya dilapisi kain kecil namanya sibang, lalu direntang kencang di pembidang pakai benang bola. Baru setelah itu digambar tali air dan motif. Yang paling disuka pembeli motif kelok paku campur bunga kundur.
“Menyulam ini butuh jiwa seni. Kalau rasa sudah menyatu dengan kain, inspirasi mengalir sendiri dari hati,” tutur Leni.
Satu lembar bisa habis waktu dua sampai tiga minggu. Pernah ia cuma tidur dua jam demi kejar orderan.
“Kalau pinggang sakit jangan diceritain. Kalau begadang aku pernah cuma tidur dua jam semalam, karena harus mengejar orderan yang akan dikirim besok paginya,” ucap Leni.
Kini karya Leni dibanderol Rp2,5 juta hingga Rp4 juta per lembar. Harga itu sebanding dengan bahan bakunya yang tidak murah. Benang kelingkan yang diimpor dari Singapura Rp1,4 juta per gulung.

“Dari tahun 2019 sampai sekarang, aku cuma punya dua lembar untuk diri sendiri. Pengen buat untuk sendiri selalu habis, ada yang mau beli. Alhamdulillah habis terus,” katanya sambil tertawa.
Padahal karyanya sudah terbang sampai Malaysia, Singapura, Beijing bahkan Australia.
Di tengah susahnya bahan baku itu, bantuan Bank Indonesia jadi titik balik. 10 unit mesin, 5 jahit dan 5 obras.
“Alhamdulillah ada bantuan dari BI. Jadi semangat baru untuk kami berkembang. Selain Tudung Manto, kami juga bisa jahit baju kurung dan batik. Karena sempat kosong bahan baku dari Singapura, tetapi kelompok kami tetap produktif,” ucap Leni.
Ketua Harian Dekranasda Lingga, Susi Yenty, mengakui memang bahan baku jadi masalah utama.
“Memang terkait bahan baku kelingkan didatangkan dari Singapura, belum ada bahan lokal yang sama kualitas lentur dan kilauannya. Kalau stok telat, ibu-ibu pengrajin akan stop bekerja,” jelas Susi.
Ia bilang Dekranasda pernah coba sistem talangan bahan baku, tapi belum efektif karena modal terbatas. Untuk sekarang fokusnya di pelatihan dan bantu promosi.
Soal warna-warna soft yang sekarang laku, Susi bilang itu dampak langsung dari Inkubasi Wastra BI Kepri Mei 2025.
“Perubahan sangat terasa. Yang awalnya warna Tudung Manto itu klasik, setelah inkubasi diedukasi sesuai selera pasar, alhamdulillah diminati warna-warna soft dan netral,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepri, Herry Andrianto, S.E., M.M., yang kami hubungi terpisah secara khusus menyoroti peran BI ini. Menurutnya apa yang dilakukan BI bukan sekadar kasih mesin, tapi kolaborasi pentahelix yang dibutuhkan pengrajin.
“Kami menyambut baik kolaborasi yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau melalui program Inkubasi Wastra pada Mei 2025. Dukungan berupa pengembangan desain, eksplorasi warna, dan bantuan peralatan merupakan bentuk sinergi yang sangat penting bagi kemajuan para pengrajin,” kata Herry.
Ia menjelaskan, dalam ekosistem itu Dekranasda punya peran strategis di pembinaan dan perluasan pasar, sementara BI masuk di peningkatan kualitas produk dan akses. Yang penting, inovasi itu tidak menghilangkan pakem aslinya.
“Kita tentu ingin agar inovasi yang dilakukan tidak menghilangkan identitas asli Tudung Manto. Pengembangan warna, desain, dan pemanfaatan produk harus tetap menghormati pakem, teknik, serta nilai budaya yang menjadi ciri khasnya. Ke depan, sertifikasi kompetensi pengrajin dan standardisasi mutu merupakan hal yang patut kita dorong bersama,” ujarnya.

Herry juga meluruskan, Tudung Manto ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2015 oleh Kemendikbud, dan seharusnya penetapan itu memberi manfaat ekonomi nyata.
“Dinas terus mendorong agar Tudung Manto tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi kreatif yang punya nilai jual dan daya saing,” katanya.
Soal kelingkan yang masih impor, Herry jujur mengakui belum ada solusi terbaik sampai sekarang.
“Kami telah berupaya mencarikan solusi atas permasalahan kelingkan dengan coba berkomunikasi dengan beberapa pihak tapi sampai saat ini kami belum mendapatkan solusi yang terbaik,” ujarnya.
Untuk produk tiruan print motif kelok paku dan tampuk manggis yang banyak di pasaran dengan harga murah, ia bilang pihaknya mendorong pelindungan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).
“Edukasi kepada konsumen juga penting agar mereka dapat membedakan produk kerajinan asli dengan produk bermotif serupa yang dibuat menggunakan teknik cetak,” tegas Herry.
Di ujung obrolan di sanggar biru itu, Leni menatap kain setengah jadinya.
“Kalau bukan kita yang cinta warisan budaya ini, siapa lagi kan? Capek itu pasti ada, tapi rasa bangga saat melihat hasil karya kita dipakai orang luar negeri itu membayar semuanya. Harapan aku sederhana, lima tahun ke depan Tudung Manto semakin dikenal luas dan kalau ada rezeki, aku pengen punya butik sendiri di Batam,” tutur Leni.
Harapan itu diamini Herry. Menurutnya kunci agar warisan ini tidak punah adalah bikin anak muda bangga memakainya.
“Kunci pelestarian budaya adalah menjadikan warisan tersebut tetap hidup, digunakan dan dibanggakan oleh masyarakatnya terutama generasi muda,” tutupnya.
Penulis: Merlinda Pratiwi










