KAHWE NATUNA (KOLOM BURALIMAR)

Pensil : Pensiun Usil

Kahwe kata lain dari kopi dalam bahasa Ranai Kabupaten Natuna, penamaan itu bahasa sehar-hari di sana. Kahwe berasal dari bahasa Arab yakni “qahwah”, sedangkan di Turkey disebut “kahveh”. Mau tahu artinya? Qahwah berarti kekuatan. Luarbiasa ya, baru tahu arti kopi itu sebenarnya kekuatan, lebih dahsyat lagi bahasa Ranai sebuah kota di utara provinsi Kepri, bahasanya mirip bahasa Arab dan Turkey.

Jika ke Ranai, kita akan dipelawa alias diajak minum kopi dengan ajakan ”yok ngahwe”. Bahasa Ranai memang unik dibandingkan beberapa bahasa melayu pada umumnya di Kepri.

Kalau di kabupaten kota di Kepri bahasa melayunya masih bisa kita mengerti, tapi di Ranai bahasa daerahnya sungguh sulit dicerna, kecuali jika kita sudah lama di sana, terus terang saya senang jika mendengar kawan-kawan di sana berdialog dengan logat dan bahasa Ranai. Karena saya tidak pengopi berat, kalau diajak biasanya, saya pilih minum kopi susu, mau tahu sebutan kopi susu di sana? Kopi nen atau kahwe nen. Nen itu artinya susu. Saya tidak bahas lebih lanjut arti kata nen ya..nanti kalau ketemu kita diskusikan..hehee.

Kabupaten Natuna, salah satu daerah di Provinsi Kepri, terletak di ujung utara, dimana ibukotanya adalah Ranai. Secara umum, Natuna dikenal luas dengan lautnya yang berbatasan dengan Laut China Selatan, dan diklaim oleh China sebagai bagian wilayahnya, bikin kita palak alias sakit hati. Sehingga diwacanakan diganti lautnya menjadi Laut Natuna Utara, tapi belum familiar, karena dunia internasional belum mengakuinya.

Belum lagi cerita saat covid-19 berebak di negara tersebut, mahasiswa Indonesia yang bermukim di Wuhan tempat asal muasal awal covid-19 diungsikan dan dibawa ke Natuna. Entah apa pertimbangan saat itu Natuna jadi pilihan dan sempat terjadi polemik tapi akhirnya masyarakay bisa menerima. Saya pernah wacanakan dibuat tugu covid-19 di sana, sebagai penghormatan bahwa Natuna berjasa menampung mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Wuhan (RRT). Ditambah lagi perairan di wilayah ini sering dimasuki para nelayan Vietnam mencuri ikan, yang potensinya perikanan lautnya 100.000 ton lebih pertahun.

BACA JUGA:   Gotong Royong Rehab Musholla Nurul Amin Salah Satu Wujud Sinergitas TNI - Polri

Maka wajarnya untuk menjaga wilayah perbatasan tersebut, sudah ada beberapa kesatuan yang ditempatkan Tentara Nsional Indonesia (TNI) dari berbagai matra, angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara, ditambah unsur pengamanan dari unsur kepolisian. Jaga-jaga dan wanti-wanti suatu saat jika ada yang menyerang Indonesia dari Utara tepatnya di Natuna paling tidak ada kesatuan temput di sana. Berbagai alat utama sistem senjata TNI (alutsista), ada di sana. Menurut saya ini juga potensi, suatu saat Natuna bukan hanya sebagai daerah pertahanan belaka, tapi bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata militer (military tourism), dimana wisatawan dapat berfoto, selfiean dengan latar belakang berbagai alutsista, karena menjadi “sesuatu” menjadi kenangan indah bagi wisatawan dan juga menjadi aspek edukasi pengenalan kepada para pelajar dan mahasiswa.

Natuna masa depan Indonesia “the future of tourism destination in Indonesia”. Saya sering mengatakan demikian, terutama karena pariwisatanya. Mempunyai wilayah dengan kontur datar sepanjang pantai dan dihiasi bebukitan pegunungan yang indah serta infrastruktur jalannya cukup memadai. Di sana juga geopark nasional dengan 9 geosites yang usia bebatuannya sampai ratusan juta tahun.

Dulu di zaman Pak Habibie sebagai Menristek sudah disetting untuk menjadi daerah otorita seperti Batam, tapi apa daya rencana kandas.

Lantas, menyikapinya bagaimana? Ya, perhatian semua stakeholders terkait, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Natuna harus menjadi prioritas pembangunan ke depan. Karena di samping daerah perbatasan yang harus dijaga senantiasa, Natuna punya geografi yang unik, dengan luas lautannya lebih dari 99 persen, berada di lintasan strategis, potensi perikanan berlimpah, cadangan gas terbesar di East Natuna, dan potensi lainnya.

Pembangunan Natuna tidak cukup dibicarakan sambil minum kahwe nen atau sambil minum ae nyok (air kelapa ) saja, sambil menikmati kuliner kernas atau tabel mando, biarlah itu berjalan alami saja sebagai daya tarik wisata. Ke depan harus dipikirkan, direncanakan dan dilaksanakan pembangunannya secara sungguh-sungguh, sebagai satu kesatuan pembangunan bersama kabupaten kota lainnya yang ada di Kepri.

BACA JUGA:   Gareth Bale Percaya Alien Itu Ada

Karena bicara Kepri ke depan harusnya bicara lebih banyak tentang Natuna. Kembalikan konsep Natuna sebagaimana rencana Pak Habibie, punya otoritas tersendiri, apakah semacam free trade zone atau atau apalah namanya yang membuat Natuna cepat berkembang dan jadi kebanggaan Indonesia, sebagai perbatasan laut.

Jika di darat ada Entikong Kalimantan Barat sebagai perbatasan Indonesia-Malaysia, demikian megah dan wah infrastukturnya menjadi kota baru yang keren, maka patut kiranya Natuna dijadikan kota perbatasan laut yang juga tak kalah kerennya, menjadi andalan perekonomian nasional masa depan dengan segala kelebihan dan potensinya.

Daerah lain seperti Batam, Tanjung Pinang, Bintan, Karimun, di Kepri sudah cukup maju, kata kawan saya auto pilot, jalan dengan sendirinya, sudah mapan dengan segala sarana prasarananya.

Namun perlu prioritas tiga kabupaten lainnya, seperti Lingga, dan Anambas serta Natuna, dimana Natuna menjadi super prioritas.

Kendala pasti ada, jarak tempuh, dengan 157 pulau, 127 di antaranya belum berpenghuni dan 7 pulau di antaranya adalah pulau perbatasan, plus masalah klasik anggaran yang belum memadai. Kalau ditanya kepada saya darimana anggarannya, saya pun tak bisa jawab, hehehe. Tapi jika sekuat pikiran dan tenaga difokuskan dengan maksimal mencarinya sampai ke pusat, insya Allah rezeki itu ada. Pasti adalah orang di pusat itu yang peduli dan perhatian dengan Natuna, apalagi katanya, orang pusat pun sudah banyak beli lahan di Natuna. Atau jadikan Natuna sebagai provinsi khusus saja, agar percepatan pembangunan terjamin dan sekaligus menjawab beberapa aspirasi masyarakat.

Membangun Natuna layaknya seperti minum kahwe atau kopi nen. Segelas kopi susu tidak dominan kopi saja, karena ada gula, ada susu (nen), ada air dan mungkin ada ramuan rempah lain yang membuatnya terasa sedap. Begitu juga pembangunannya, ada kolaborasi pemerintah kabupaten, provinsi, pemerintah pusat dengan kementerian dan lembaganya yang dananya bejibun serta pihak swasta yang siap berinvestasi. Tingggal kepiawaian baristanya (peracik kopi) atau semacam sales promotion girl-nya, merayu menawarkan agar kahwe nen menjadi daya tarik dan menggugah orang untuk datang ke sana dan menggelontorkan anggaran dan juga berinvestasi. Toh nanti, yang merasakan hasilnya , serta anak cucu cicit mereka dan kita-kita juga.

BACA JUGA:   Pasukan TNI Dan Warga Siap Ratakan Jalan Yang Akan Dicor

Pemimpin ke depan siapapun dia dari atas sampai ke bawah, kiranya bisa memikirkan kemajuan negeri ini ke depan. Pemimpin memang seorang politisi, tentunya langkahnya juga politis, dan banyak pertimbangan, tapi pemimpin juga seorang negarawan yang tidak hanya memikirkan konstituen dan elektabilitas belaka, tapi pikirkan juga nasib negeri ini untuk diwariskan menjadi legacy untuk masa depan. Seperti kata James, Freemen Clarke “ A politician thinks oh the next election. A statesman thinks of the next generation “.
Terakhir dengan rasa cinta saya terhadap Natuna, saya tampilkan sebuah puisi yang pernah di publish di Koran Tanjung Pinang Pos, beberapa tahun lalu.

SENANDUNG RANAI

Kunyanyikan dari kaki Gunung Ranai
Sebuah senandung desau angin utara yang risau menggapai
Sementara batu sindu mengheningkan cipta dalam sepi sendiri
Di tengah ombak menabur nyanyi janji
Adakah serak suaramu terdengar sampai ke pulau-pulau terluar
Atau hanya menanti mentari menjemur bebatuan hitam terbakar?
Gerbangmu terbuka luas dalam penjuru mata angin
Menghias kolom kata-kata tiada henti menatap harap yang tak kunjung sekejap
Marilah berkaca pada mesjidmu nan indah dengan sejuta pesona
Agar berbalur hati pada kepedulian mengkristal
Menanggalkan dasi indah atau sepatu Itali yang mahal
Palinglah wajah dari tender sihir yang lenyap kelak
Sebab batuk orang penantian akan didengar apatah lagi pinta
Berburulah menanggalkan baju kebesaran menyongsong peradaban
Menyulap titian mengukir lautan jadi jembatan
Kelak dilalui orang dalam ucap doa dan pengharapan

(Ranai, 08 Agustus 2012)