Di balik pagar yang telah berdiri kokoh sejak puluhan tahun silam, SMAN 1 Tanjungpinang, sekolah menengah tertua di Provinsi Kepulauan Riau, kembali membuka pintu harapan bagi ratusan anak-anak bangsa.
Tahun ajaran 2025 menjadi lembaran baru bagi 680 calon siswa yang akan diterima melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Angka itu bukan sekadar kuota. Ia mewakili mimpi, kerja keras, dan harapan para orang tua serta anak-anak yang ingin menjejak masa depan di sekolah yang telah banyak melahirkan tokoh penting di Kepri.
“Dari total kuota yang kami siapkan, 34 persen dibuka untuk jalur domisili, 30 persen jalur afirmasi, 30 persen jalur prestasi, dan 5 persen untuk jalur mutasi,” ungkap Kepala SMAN 1 Tanjungpinang, Daman Huri, saat pelaksanaan SPMB hari pertama, Rabu (11/6).
Di hari pertama pendaftaran, lebih dari 100 siswa mendaftar melalui jalur domisili, sementara 30 lainnya melalui jalur prestasi. Prosesnya berjalan lancar, meski beberapa orang tua terlihat datang langsung ke sekolah.
“Mereka bukan mendaftar secara luring, tapi ingin bertanya lebih jelas. Masih ada yang bingung soal teknis pendaftaran daring,” tutur Daman sambil tersenyum, memahami bahwa tidak semua orang tua melek teknologi.
Sistem daring yang diberlakukan sejak 11 hingga 14 Juni 2025 ini memang masih menyisakan tantangan. Terutama bagi wilayah dengan keterbatasan jaringan internet, seperti di pulau-pulau kecil Kepri.
Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, menjelaskan bahwa total kuota SMA/SMK se-Kepri tahun ini mencapai 40 ribu siswa. Sementara jumlah lulusan SMP sederajat sekitar 36 ribu, dan ditambah sekitar 2.000 calon siswa baru dari luar Kepri.
“Artinya, jumlah murid baru dan daya tampung sekolah cukup seimbang,” kata Andi.
Namun, ia tak menutup mata akan tantangan geografis Kepri. Dengan 96 persen wilayahnya berupa laut, penerapan sistem pendaftaran daring sepenuhnya belum bisa dilakukan secara merata.
“Untuk Batam kami terapkan sistem kombinasi daring dan luring. Sementara di Belakangpadang, Galang, dan Bulang masih harus dilakukan luring. Hanya Tanjungpinang yang sudah sepenuhnya daring,” ujarnya.
Andi berharap proses pendaftaran tahun ini dapat berjalan mulus hingga akhir. Lebih dari sekadar sistem, SPMB adalah tentang menjangkau mereka yang ingin belajar, di mana pun mereka berada.
Di ruang-ruang kelas SMAN 1 Tanjungpinang yang sudah banyak menyimpan cerita masa lalu, generasi baru akan segera mengisi bangku. Anak-anak yang hari ini penuh cemas menanti hasil seleksi, suatu hari nanti akan mengenang bahwa dari sinilah mereka memulai.
Karena sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi tempat bertumbuh, bermimpi, dan berharap.








