Mereka yang Terluka, Mereka yang Butuh Uluran Tangan, Potret Perlindungan Anak di Batam

BATAMCLICK.COM: Di balik deru kota Batam yang terus tumbuh, masih ada suara pilu yang perlu kita dengar. Suara anak-anak yang menjadi korban kekerasan, terkhusus kekerasan seksual, yang terus menjadi momok hingga pertengahan tahun 2025 ini.

Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Batam mencatat, dari total 109 kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani hingga Mei 2025, sebanyak 73 kasus di antaranya adalah kekerasan seksual. Angka ini menjadi pengingat betapa rapuhnya masa depan anak-anak jika kita lengah.

“Selain kekerasan seksual, masih ada kekerasan fisik sebanyak 22 kasus, psikis 1 kasus, trafficking 3 kasus, dan bentuk kekerasan lainnya sebanyak 10 kasus,” kata Kepala UPTD PPA Batam, Dedy Suryadi, saat dihubungi, Senin lalu.

Namun, tak hanya anak-anak yang menjadi korban. Perempuan juga masih kerap menjadi sasaran, dengan 32 kasus kekerasan yang dilaporkan. Bentuknya beragam, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Mayoritas kasus memang masih didominasi kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual. Ini menjadi perhatian serius kami, baik dalam hal penanganan maupun upaya perlindungan bagi para korban,” ujar Dedy.

Untuk itu, UPTD PPA Batam menghadirkan dua jenis tempat perlindungan bagi korban: shelter dan rumah aman. Shelter biasanya digunakan untuk kebutuhan sementara. Sementara rumah aman menjadi tempat perlindungan jangka lebih lama, tempat di mana anak-anak bisa merasa lebih tenang dan aman.

“Kami mendesain rumah aman ini seperti rumah biasa. Ada pengasuh yang mendampingi, makanan disediakan tiga kali sehari, kebutuhan harian mereka terpenuhi, dan yang paling penting, ada layanan psikologis yang siap membantu,” jelas Dedy.

Korban juga mendapat layanan pemeriksaan kesehatan dan trauma. Semua ini bertujuan untuk memastikan anak-anak itu tidak terus hidup dalam ketakutan dan trauma yang berkepanjangan. Mereka berhak pulih dan kembali menatap masa depan.

“Lokasi rumah aman dirahasiakan untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan korban. Kami tidak ingin mereka merasa terancam. Siapa pun yang ingin bertemu korban, harus melalui koordinasi dengan petugas UPTD,” kata Dedy menambahkan.

Di tengah deru pembangunan Batam yang modern, rumah aman ini menjadi tempat berlindung bagi anak-anak yang pernah terluka. Sebuah pengingat bahwa kota ini bukan hanya tentang gedung pencakar langit, tetapi juga tentang keberanian untuk melindungi yang paling rapuh di antara kita.

“Kami akan terus mendampingi mereka, memantau perkembangan, dan menyiapkan langkah pemulihan lebih lanjut jika dibutuhkan. Anak-anak ini layak mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lebih baik,” tutup Dedy dengan penuh harap.

Sumber: Antara