Transaksi Rp 24 Miliar, ASITA Kepri Travel Mart Membidik Pasar Wisata Dunia

BATAMCLICK — Pertemuan bisnis pariwisata di Batam menghasilkan angka yang menarik perhatian. Dalam ASITA Kepri Travel Mart (AKTM) ke-7 Tahun 2026, kegiatan business to business (B2B) mencatat potensi transaksi Rp 24 miliar. Angka itu menjadi salah satu penanda besarnya peluang yang terbuka ketika pelaku industri pariwisata Indonesia bertemu dengan calon mitra dari pasar internasional.

Kegiatan yang berlangsung di Grand Ballroom Aston Hotel & Residence Batam pada 19 Oktober 2026 itu mempertemukan 65 sellers dan 165 buyers. Mereka datang dari berbagai negara, antara lain Filipina, Vietnam, Singapura, Malaysia, India, Jerman, dan Dubai, serta sejumlah daerah di Indonesia.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad membuka agenda B2B tersebut. Pertemuan ini menjadi bagian penting dari rangkaian AKTM 2026 yang berlangsung pada 15–19 Oktober, dengan tujuan memperluas jaringan bisnis, mempromosikan destinasi, dan membuka peluang kerja sama di industri pariwisata.

Bagi Kepulauan Riau, pertemuan semacam ini bukan sekadar agenda asosiasi. Wilayah yang memiliki kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia itu mempunyai peluang untuk menjangkau pasar wisatawan mancanegara. Namun, peluang tersebut membutuhkan promosi yang terarah dan hubungan bisnis yang mampu mengubah minat menjadi kunjungan nyata.

Dari Pertemuan Bisnis ke Peluang Transaksi

AKTM tahun ini mencatat partisipasi yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Sebanyak 65 sellers menawarkan produk dan layanan pariwisata, sedangkan 165 buyers membuka peluang untuk menjajaki kerja sama.

Ketua DPD ASITA Kepulauan Riau, Eva Betty Siahaan, menyebut rangkaian kegiatan AKTM 2026 menghasilkan potensi transaksi dalam dua agenda utama. Kegiatan business to consumer (B2C) yang berlangsung pada 15–18 Oktober mencatat potensi transaksi Rp 3,5 miliar. Adapun sesi B2B pada 19 Oktober mencapai Rp 24 miliar.

Dengan demikian, total potensi transaksi dari kedua kegiatan tersebut mencapai Rp 27,5 miliar. Angka ini merupakan potensi transaksi yang dilaporkan penyelenggara, bukan otomatis nilai penjualan yang telah terealisasi.

Eva mengatakan ASITA akan terus memperkuat hubungan antarpelaku industri dan menjadi penghubung antara sektor pariwisata Indonesia dengan pasar internasional.

“ASITA akan terus menjalin hubungan baik dan menjadi penghubung bagi industri pariwisata Indonesia dengan pasar internasional. Melalui kegiatan seperti AKTM, kami berharap semakin banyak peluang kerja sama yang dapat diwujudkan untuk mendorong pertumbuhan industri pariwisata,” ujarnya.

Nilai penting pertemuan bisnis tersebut terletak pada peluang yang muncul setelah para peserta bertukar penawaran. Kerja sama dapat berkembang menjadi paket perjalanan, penjualan produk wisata, maupun jaringan pemasaran lintas negara. Namun, realisasi peluang itu tetap bergantung pada tindak lanjut para pihak setelah kegiatan berakhir.

Kepri Membidik Pasar Internasional

Dalam sambutannya, Gubernur Ansar Ahmad mengapresiasi kepercayaan yang kembali diberikan kepada Kepulauan Riau sebagai tuan rumah kegiatan pariwisata berskala internasional. Ia juga memaparkan program dan dukungan pemerintah provinsi untuk mengembangkan sektor pariwisata serta memperkuat posisi Kepri sebagai destinasi unggulan.

Kehadiran pelaku industri dari berbagai negara memberikan kesempatan bagi pengusaha pariwisata daerah untuk memperluas jaringan di luar pasar yang selama ini mereka layani. Bagi pengelola destinasi, hotel, agen perjalanan, dan penyedia layanan wisata, hubungan langsung dengan calon mitra dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan produk sekaligus memahami kebutuhan pasar.

Eva berharap Kepulauan Riau terus meningkatkan kontribusinya terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Ia juga mendorong Kepri memperkuat posisi sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan internasional setelah Bali.

Harapan tersebut menempatkan promosi pariwisata sebagai pekerjaan yang lebih luas daripada memperkenalkan tempat-tempat menarik. Destinasi membutuhkan jaringan distribusi, produk perjalanan yang kompetitif, pelayanan yang memadai, serta kemitraan dengan pelaku industri di negara asal wisatawan.

Di sinilah pertemuan B2B memiliki peran. Para pelaku industri dapat membicarakan peluang bisnis secara langsung, menjajaki kerja sama, dan merancang penawaran yang sesuai dengan pasar masing-masing.

Menjaga Keberlanjutan Kerja Sama

Perwakilan DPP ASITA, Budijanto Ardiansyah, mengapresiasi penyelenggaraan AKTM 2026 oleh ASITA Kepri. Ia berharap kegiatan ini berlanjut pada tahun-tahun mendatang sebagai wadah untuk mempertemukan pelaku industri, membuka peluang bisnis, dan memperluas pasar wisata Indonesia.

Keberhasilan sebuah pertemuan bisnis pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau nilai transaksi potensial. Tindak lanjut, kesepakatan yang terealisasi, dan dampaknya terhadap usaha pariwisata juga menentukan manfaat kegiatan tersebut bagi daerah.

Bagi Kepulauan Riau, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pertemuan dengan para buyers menjadi kerja sama yang berkelanjutan. Pelaku industri perlu menjaga komunikasi, menyusun produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, dan memastikan layanan wisata mampu memenuhi harapan pengunjung.

Rangkaian AKTM 2026 pun berakhir dengan peluang yang terbuka. Potensi transaksi Rp 27,5 miliar dari agenda B2C dan B2B memberi gambaran mengenai minat bisnis yang berhasil dihimpun penyelenggara. Akan tetapi, nilai akhirnya baru akan terlihat ketika peluang tersebut berkembang menjadi transaksi nyata, paket perjalanan yang terjual, dan kunjungan wisatawan yang memberi manfaat bagi perekonomian daerah.

Bagi ASITA Kepri, pekerjaan setelah acara sama pentingnya dengan pertemuan yang telah berlangsung. Sebab, mempertemukan penjual dan pembeli merupakan langkah awal. Menjaga agar hubungan itu menghasilkan bisnis dan memperkuat posisi Kepulauan Riau di pasar wisata internasional merupakan pekerjaan berikutnya.(bos)