BINTAN — Perjalanan dari Tambelan menuju Tanjunguban kini tak semudah biasanya. Sejak KMP Bahtera Nusantara 03 berangkat menjalani perawatan pada 2 Oktober 2026, layanan penyeberangan di rute itu terhenti sementara. Masalahnya, tidak ada kapal pengganti yang disiapkan untuk mengangkut penumpang selama kapal menjalani docking.
Bagi warga yang bergantung pada transportasi laut, penghentian layanan ini bukan sekadar perubahan jadwal pelayaran. Mereka harus mencari cara lain untuk bepergian, menyesuaikan rencana, atau menunda keberangkatan sampai kapal kembali beroperasi.
Supervisi Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Ainul Yaqin, mengatakan KMP Bahtera Nusantara 03 sudah lebih dari sepekan tidak beroperasi. Kapal tersebut berangkat untuk menjalani docking pada 2 Oktober 2026. Proses perawatannya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
“Sudah seminggu lebih, KMP BN 03 berangkat docking tanggal 2 Oktober 2026,” kata Ainul, Senin, 19 Oktober 2026.
Selama perawatan berlangsung, ASDP belum menyiapkan kapal pengganti untuk rute Tanjunguban-Tambelan. Akibatnya, pengguna jasa harus mengandalkan moda transportasi lain yang tersedia.
“Biasanya pengguna jasa menggunakan kapal tol laut atau Pelni,” ujar Ainul.
Warga Harus Memilih antara Waktu dan Keterbatasan Kapasitas
Pilihan transportasi yang terbatas membuat perjalanan warga tidak selalu mudah. Pesawat memang tersedia untuk rute Tambelan-Tanjungpinang, tetapi kapasitas penerbangannya terbatas. Adapun kapal Pelni membutuhkan waktu lebih lama untuk menempuh perjalanan laut.
Ayu, salah seorang warga, mengaku terpaksa menunda keberangkatannya karena kapal RoRo dari Tambelan menuju Tanjunguban tidak beroperasi.
“Kalau pas docking begini susah, ada pesawat dari Tambelan ke Tanjungpinang tapi kapasitas terbatas. Kalau naik kapal Pelni, di lautnya lama. Harapannya ada kapal RoRo pengganti,” kata Ayu.
Keluhan itu memperlihatkan persoalan yang muncul ketika kapal menjalani perawatan tanpa layanan pengganti. Warga bukan hanya menghadapi perubahan jadwal, tetapi juga harus menimbang keterbatasan kapasitas penerbangan dan waktu tempuh kapal lain.
Bagi masyarakat antarpulau, kepastian transportasi menjadi bagian penting dalam merencanakan perjalanan. Ketika satu layanan berhenti, pilihan lain belum tentu dapat menampung kebutuhan seluruh pengguna jasa.
KMP Bahtera Nusantara 01 Menyusul Docking
Persoalan layanan penyeberangan berpotensi kembali muncul pada November 2026. KMP Bahtera Nusantara 01 juga dijadwalkan menjalani docking, meski tanggal pelaksanaannya belum ditentukan.
Selama ini, kapal tersebut melayani rute yang menghubungkan Tanjunguban, Kuala Maras di Letung, Matak, Midai, Sedanau, Penagi, Subi, Serasan, hingga Sintete.
“Rencananya bulan November ini, tapi tanggalnya belum tahu,” kata Ainul.
Belum ada kepastian mengenai penyediaan kapal pengganti untuk rute yang dilayani kedua kapal tersebut. Warga berharap pengelola pelayaran menyiapkan solusi agar mobilitas antarpulau tidak terganggu selama perawatan berlangsung.
Docking memang diperlukan untuk menjaga kondisi kapal. Namun, bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut, keberadaan layanan pengganti juga menjadi persoalan yang tak kalah penting. Sebab, ketika kapal berhenti beroperasi, perjalanan warga ikut tertahan.(bas)










