BATAMCLICK — Sebuah karya kreatif tidak selalu berhenti karena pembuatnya kehabisan ide. Ada yang kesulitan menguasai teknologi, tak memiliki modal untuk mengembangkan usaha, atau belum memahami cara melindungi karyanya. Persoalan-persoalan itulah yang perlu dijawab jika Batam ingin menjadikan ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan baru.
Sepanjang Oktober 2026, Kota Batam mendapat sejumlah program pelatihan dan pengembangan usaha dari Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenekraf). Berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), program tersebut menyasar berbagai kebutuhan pelaku kreatif, mulai dari keterampilan teknis, akses permodalan, pengembangan desain, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa membangun ekonomi kreatif bukan semata-mata urusan menghasilkan karya. Pelaku usaha juga harus mampu mengubah gagasan menjadi produk yang memiliki nilai jual, memahami kebutuhan pasar, serta mengembangkan bisnis agar dapat bertahan di tengah persaingan.
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, menyambut baik kehadiran program-program tersebut. Menurut dia, peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting untuk memperbesar kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian daerah.
“Program pelatihan seperti ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi pelaku ekonomi kreatif di Batam untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah,” ujar Ardiwinata.
Ia berharap pelaku kreatif setempat memanfaatkan kesempatan itu untuk memperluas kemampuan dan mengembangkan usaha agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dari Keterampilan hingga Pembiayaan
Salah satu program yang menyasar kemampuan teknis ialah Pelatihan Berbasis Kompetensi dan Sertifikasi Kompetensi dengan skema 3D Animator Junior. Berdasarkan informasi program yang dipublikasikan, pelatihan ini dijadwalkan berlangsung pada 20–23 Oktober 2026.
Peserta berkesempatan mengikuti pelatihan berbasis standar kompetensi, memperoleh sertifikat pelatihan, serta menjalani asesmen untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sesuai ketentuan program.
Pelatihan tersebut menyasar bidang animasi dan industri digital yang membutuhkan penguasaan keterampilan teknis. Kemampuan membuat animasi tiga dimensi dapat menjadi bekal untuk mengembangkan berbagai produk visual, meski peluang usaha tetap bergantung pada kualitas karya, kebutuhan pasar, dan kemampuan pelaku kreatif membangun bisnis.
Namun, keterampilan saja tidak selalu cukup. Pelaku usaha yang memiliki produk potensial masih membutuhkan modal untuk memperbesar skala produksi, memperbaiki layanan, atau menjangkau konsumen baru.
Kebutuhan itu menjadi salah satu sasaran Islamic Creative Economy Founders Fund (ICEFF) 2026. Program yang berkolaborasi dengan Young Entrepreneur Academy tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha kreatif mempersiapkan akses pendanaan dari lembaga keuangan syariah.
Di Batam, rangkaian pelatihan dan pitching dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha berkesempatan memperkuat kesiapan bisnis, menyusun kebutuhan pembiayaan, serta mempresentasikan rencana pengembangan usaha kepada pihak terkait.
Program tersebut membuka ruang bagi pelaku kreatif untuk mempersiapkan bisnis secara lebih terukur. Akses pembiayaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga kemampuan menjelaskan model usaha, kebutuhan modal, dan rencana pengembangan bisnis.
Melindungi Karya, Meningkatkan Nilai Jual
Selain keterampilan dan pembiayaan, desain menjadi unsur lain yang menentukan daya saing produk kreatif. Produk yang memiliki fungsi serupa dapat menawarkan nilai berbeda melalui bentuk, kemasan, identitas visual, dan pengalaman yang diberikan kepada konsumen.
Untuk mendukung kebutuhan itu, Kemenekraf menjadwalkan Workshop Sinergi Desain di Batam Tourism Polytechnic pada 19 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi desainer dan pelaku usaha kreatif untuk memahami peran desain dalam meningkatkan nilai tambah dan daya tarik produk.
Pada tanggal yang sama, penguatan kekayaan intelektual juga dijadwalkan berlangsung di Gedung LAM Kota Batam. Kegiatan pada 19–20 Oktober 2026 tersebut mengangkat tema penguatan kekayaan intelektual melalui peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif dalam rangka Aktivasi Creative Hub.
Bagi pelaku kreatif, perlindungan kekayaan intelektual memiliki arti penting karena karya dapat menjadi aset usaha. Pemahaman mengenai hak atas karya membantu mereka mengenali pilihan perlindungan yang sesuai, sekaligus mengurangi risiko penggunaan karya tanpa hak.
Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya mendorong lahirnya ide-ide baru. Pelaku usaha juga perlu memahami bagaimana mengelola, memasarkan, dan melindungi hasil kreativitasnya.
Kuliner dan Perhotelan Ikut Diperkuat
Pengembangan kompetensi di Batam tidak hanya menyasar animasi, desain, dan usaha berbasis gagasan. Pemerintah kota juga menggelar pelatihan untuk sektor kuliner dan perhotelan melalui Disbudpar Bidang Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan LPK Kepri Tourism Training Centre.
Tiga pelatihan dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Pelatihan Tata Boga Pastry berlangsung pada 12–18 Oktober di Aston INN Gideon dengan 18 peserta. Pelatihan Food & Beverage Pengelolaan Makanan (Commis) berlangsung pada 14–20 Oktober di Ayola Hotel Signature dengan 24 peserta. Adapun pelatihan Tata Boga Pastry di Max One Hotel berlangsung pada 16–23 Oktober dengan 28 peserta.
Masing-masing pelatihan berlangsung selama tujuh hari, pukul 08.30–17.00 WIB. Totalnya, ketiga program tersebut melibatkan 70 peserta.
Pelatihan ini memperluas sasaran pengembangan kompetensi ke bidang yang berkaitan dengan layanan kuliner dan perhotelan. Keterampilan mengolah makanan, menyiapkan produk pastry, serta memahami standar kerja dapat menjadi bekal bagi tenaga kerja untuk memasuki industri maupun mengembangkan usaha sendiri.
Ragam program tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki cakupan yang luas. Pengembangannya tidak hanya berkaitan dengan industri digital, tetapi juga keterampilan kuliner dan berbagai kegiatan usaha yang mengandalkan kreativitas serta kemampuan manusia.
Menautkan Kreativitas dengan Agenda Pembangunan
Ardiwinata mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif sejalan dengan arah pembangunan Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra. Salah satu acuannya ialah program prioritas nomor 7, yaitu peningkatan kualitas pelatihan tenaga kerja dan industri kreatif.
Menurut dia, pelaku kreatif perlu terus meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan industri dan menciptakan peluang ekonomi baru.
“Ekonomi kreatif bertumpu pada kemampuan, keterampilan, inovasi, dan gagasan. Karena itu, peningkatan kompetensi pelaku kreatif perlu terus dilakukan agar mereka tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga mengembangkan karya tersebut menjadi produk atau jasa yang bernilai ekonomi,” katanya.
Penguatan sektor ini juga berpotensi mendukung program prioritas nomor 15, yakni peningkatan investasi dan destinasi MICE. Pelaku kreatif yang memiliki keterampilan dan usaha yang berkembang dapat memperkaya produk serta layanan untuk mendukung pameran, pertemuan bisnis, dan berbagai kegiatan ekonomi di Batam.
Posisi Batam sebagai kota industri, perdagangan, dan pariwisata dengan konektivitas internasional memberikan ruang bagi produk kreatif untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, peluang tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang tidak berhenti pada pelatihan. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan dunia usaha juga berperan dalam membuka akses pasar serta menjaga keberlanjutan bisnis.
Ardiwinata menilai, pelaku kreatif perlu memiliki kemampuan mengelola usaha, membaca kebutuhan pasar, membangun jejaring, dan memanfaatkan peluang kolaborasi. Kreativitas, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi dan kemampuan melindungi hasil karya.
“Harapan kita, pelaku ekonomi kreatif Batam semakin siap berkembang secara profesional. Kreativitas harus dapat berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola bisnis, memanfaatkan teknologi, dan melindungi hasil karya. Dengan begitu, potensi yang dimiliki masyarakat dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas,” tuturnya.
Berbagai pelatihan tersebut memberi pelaku kreatif kesempatan untuk memperkuat kemampuan dari sisi yang berbeda. Ada yang belajar menguasai teknologi animasi, mempersiapkan proposal pembiayaan, mengembangkan desain, memahami perlindungan karya, hingga meningkatkan keterampilan di bidang kuliner dan perhotelan.
Tantangan berikutnya ialah memastikan pengetahuan itu berlanjut menjadi kemampuan yang terpakai dalam dunia kerja dan usaha. Pelatihan dapat membuka pintu, tetapi kualitas karya, akses pasar, pengelolaan bisnis, dan konsistensi pengembangan tetap menentukan sejauh mana peluang tersebut menghasilkan manfaat ekonomi.
Bagi Batam, pengembangan ekonomi kreatif membuka kemungkinan untuk memperluas sumber pertumbuhan di luar sektor industri, perdagangan, dan pariwisata. Potensi itu akan semakin berarti jika masyarakat tidak hanya menjadi pencipta karya, tetapi juga mampu menjadikan kreativitas sebagai usaha yang produktif dan berkelanjutan.***










