Batamclick.com,
Pemerintah Kota (Pemkot) Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dana bergulir di kota itu tercatat sebesar 2,1 persen hingga Juli 2026, menunjukkan tingkat pengembalian pinjaman masih terjaga.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dana Bergulir Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskum) Zulfahri mengatakan angka tersebut masih berada di bawah batas aturan lima persen.
“Untuk tingkat pengembalian pinjaman masih lancar. NPL masih di bawah lima persen, yaitu 2,1 persen per Juli 2026,” kata Zulfahri saat dihubungi di Batam, Kamis.
Ia mengatakan, terhadap pinjaman yang masuk kategori bermasalah, pihaknya telah melakukan tindak lanjut.
“Sebagian kasus telah diserahkan melalui Surat Kuasa Khusus (SKK) kepada Kejaksaan Negeri Batam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun), sementara lainnya diproses melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Batam,” kata dia.
Menurut Zulfahri, kemampuan penerima pinjaman dalam mengembalikan dana masih tergolong baik.
“Pastinya juga didukung oleh jaminan pinjaman yang umumnya berupa sertifikat rumah dengan nilai yang masih lebih tinggi dibandingkan nominal pinjaman. Jadi pengembalian pinjaman oleh nasabah sehat dan baik,” katanya.
Di sisi penyaluran, UPTD Dana Bergulir telah menyalurkan Rp2,135 miliar kepada 19 usaha mikro hingga 13 Agustus 2026.
Seluruh penerima pada tahun ini berasal dari sektor usaha mikro, sementara belum ada koperasi yang menerima penyaluran.
Selain itu, terdapat tiga usaha mikro yang masih dalam proses verifikasi dengan total pengajuan sebesar Rp450 juta.
Program dana bergulir Pemkot Batam memiliki plafon pinjaman Rp150 juta bagi usaha mikro dan Rp300 juta bagi koperasi, dengan bunga 4 persen flat per tahun dan tenor selama lima tahun.
Zulfahri mengatakan pihaknya juga melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan usaha penerima dana bergulir.
Pemantauan dilakukan melalui perkembangan aset, omzet dan jumlah produksi.
“Dilihat dari perkembangan aset dan omzetnya, termasuk jumlah produksinya. Rata-rata setiap tahun sekitar lima sampai 10 nasabah yang naik kelas,” katanya.
Usaha yang mengalami perkembangan di antaranya konveksi atau tailor, perlengkapan sekolah, rumah makan dan kuliner, serta jasa laundry dan kos-kosan.
Sementara itu, dari hasil pemantauan, belum ditemukan penerima dana bergulir yang menutup usahanya.
Sumber, Antara









