232 SPPG di Kepri Layani Lebih dari 540 Ribu Penerima Manfaat

SPPG Kepri melayani 540.254 penerima manfaat dari siswa hingga kelompok 3B. Program ini juga menyerap 9.500 relawan dan terus meningkatkan standar higienitas dapur.
SPPG Kepri melayani 540.254 penerima manfaat dari siswa hingga kelompok 3B. Program ini juga menyerap 9.500 relawan dan terus meningkatkan standar higienitas dapur.

BATAMCLICK.COM: SPPG Kepri layani 540 ribu penerima manfaat. Program ini terus bergerak. Program ini juga menjangkau lebih luas. Hingga awal Mei 2026, total penerima manfaat mencapai 540.254 orang. Mereka terdiri dari peserta didik dan kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

Kepala Regional SPPG Kepri, Anindita Ayu, menjelaskan bahwa jumlah tersebut mencakup 431.471 peserta didik. Selain itu, ada 108.783 penerima dari kelompok 3B. Data ini menunjukkan program berjalan masif dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Sebaran SPPG Didominasi Batam

Program ini tidak hanya besar. Program ini juga tersebar merata. Dari total 232 SPPG di Kepulauan Riau, Kota Batam menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak.

Batam memiliki 139 unit. Lalu, Kabupaten Karimun memiliki 28 unit. Kota Tanjungpinang menyusul dengan 24 unit. Kemudian, Kabupaten Bintan memiliki 19 unit. Kabupaten Natuna tercatat 12 unit. Kabupaten Lingga memiliki tujuh unit. Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki tiga unit.

Sebaran ini memperlihatkan fokus pelayanan berada di wilayah padat penduduk. Namun, daerah kepulauan tetap terjangkau.

Serap 9.500 Relawan

Program ini tidak hanya soal gizi. Program ini juga membuka peluang kerja. Hingga saat ini, sebanyak 9.500 relawan terlibat langsung dalam operasional SPPG di seluruh Kepri.

Mereka bekerja di berbagai lini. Mereka membantu distribusi. Mereka juga memastikan makanan sampai kepada penerima dengan baik. Kehadiran relawan ini memperkuat pelaksanaan program di lapangan.

Standar Higienitas Terus Ditingkatkan

Di sisi lain, kualitas tetap dijaga. Hingga kini, sebanyak 122 SPPG sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat ini menjadi bukti dapur memenuhi standar kesehatan.

Namun, masih ada SPPG yang berproses. Mereka menjalani uji air. Mereka juga melakukan uji sampel makanan. Selain itu, mereka memperbaiki sarana sesuai indikator kelayakan.

Langkah ini penting. Langkah ini memastikan makanan yang disalurkan tetap aman dan sehat.

Sempat Turun, Ini Penyebabnya

Jumlah penerima manfaat sempat lebih tinggi. Pada akhir Maret 2026, angkanya menyentuh sekitar 570 ribu orang. Namun, angka ini menurun.

Penurunan terjadi karena beberapa dapur dihentikan sementara. Ada dapur yang menjalani perbaikan. Ada juga yang harus melalui uji sampel makanan. Selain itu, ada dapur yang kekurangan tenaga ahli gizi.

Saat ini, terdapat sembilan dapur SPPG yang masih dihentikan sementara.

Peran Penting Tenaga Ahli Gizi

Tenaga ahli gizi memegang peran krusial. Tanpa mereka, dapur tidak bisa beroperasi. Jika tenaga ahli mengundurkan diri, operasional otomatis berhenti.

Selain itu, perbaikan dapur bisa berasal dari inisiatif yayasan. Namun, bisa juga karena adanya teguran dari pihak berwenang. Semua dilakukan demi menjaga standar layanan.

Bisa Beroperasi Kembali

Meski dihentikan, dapur tidak selamanya tutup. Dapur bisa kembali beroperasi. Namun, mereka harus dinyatakan layak terlebih dahulu.

Penilaian ini dilakukan oleh Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional. Setelah lolos, dapur bisa kembali melayani masyarakat.

Menariknya, hingga saat ini belum ada SPPG di Kepri yang dihentikan secara permanen. Program ini terus berjalan. Program ini juga terus diperbaiki.