Batamclick.com, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026 untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen. Keputusan ini juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen.
Perry menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah pre-emtif dan forward looking untuk memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga dari dampak memburuknya kondisi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Perry menjelaskan bahwa memburuknya pasar keuangan global yang ditandai dengan penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan yield US Treasury telah memberikan tekanan besar pada mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia. Tercatat pada 16 Maret 2026, Rupiah berada di level Rp16.985 per dolar AS, atau melemah 1,29 persen dibandingkan akhir Februari.
Guna memitigasi risiko tersebut, Gubernur BI memastikan pihaknya akan terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar luar negeri.
Lebih lanjut, Perry memaparkan rencana Bank Indonesia untuk memperketat aturan transaksi valuta asing mulai April 2026. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menurunkan ambang batas (threshold) tunai beli valas terhadap Rupiah dari USD 100 ribu menjadi USD 50 ribu per pelaku per bulan.
Menurut Perry, kebijakan ini bertujuan untuk mengendalikan permintaan valas di dalam negeri sekaligus mengoptimalkan strategi pro-market guna menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik, sehingga likuiditas perbankan nasional tetap dalam kondisi memadai.
Meskipun dinamika geopolitik global penuh tantangan, Gubernur BI optimistis ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen sepanjang tahun 2026.
Perry menyebutkan bahwa momentum pertumbuhan ini akan ditopang oleh kuatnya permintaan domestik menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah serta akselerasi investasi Pemerintah melalui Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih.
Ia menegaskan bahwa sinergi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah dan KSSK akan terus diperkuat untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dan menyukseskan program Asta Cita.
Di bidang digitalisasi, Perry mengumumkan peluncuran dua inisiatif strategis pada April mendatang, yaitu perluasan QRIS Antarnegara antara Indonesia dan Korea Selatan serta peresmian Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Langkah ini diharapkan dapat mempercepat transformasi Ekonomi dan Keuangan Digital nasional.
Selain itu, menjelang periode Lebaran, Perry menjamin ketersediaan uang layak edar di seluruh wilayah NKRI melalui program SERAMBI 2026, guna memastikan kebutuhan uang kartal masyarakat terpenuhi dengan kualitas yang baik hingga ke daerah pelosok.
Menutup pernyataannya, Perry menegaskan bahwa ketahanan perbankan nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat solid dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) mencapai 25,87 persen. Rendahnya rasio kredit bermasalah serta pertumbuhan kredit investasi yang tetap kuat menjadi bukti bahwa sektor keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang baik terhadap guncangan eksternal.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian dunia.









