Warga Tertimpa Tembok di Anambas, Polisi Sigap Selamatkan Dua Anak

Warga tertimpa tembok di Palmatak, Anambas, nyaris merenggut nyawa dua anak saat angin kencang merobohkan dinding rumah. Polisi sigap mengevakuasi korban hingga selamat.
Warga tertimpa tembok di Palmatak, Anambas, nyaris merenggut nyawa dua anak saat angin kencang merobohkan dinding rumah. Polisi sigap mengevakuasi korban hingga selamat.

Polisi Hadir Saat Warga Tertimpa Tembok

Warga tertimpa tembok di Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, nyaris merenggut nyawa dua anak. Angin kencang yang menerjang pada Minggu (24/8) siang membuat tembok rumah milik Jepriden (55) di Dusun IV Tanjung Empat, Desa Ladan, roboh seketika. Dua anaknya, M. Rizky (13) dan Marthin Bagas Spethino (12), tidak sempat menghindar hingga tertimpa material bangunan.

Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, menyampaikan rasa prihatin atas musibah itu. Ia mengapresiasi kesigapan anggota Polsek Palmatak yang langsung turun ke lokasi, mengevakuasi korban, dan memastikan keduanya segera mendapatkan perawatan.

“Polri akan selalu hadir untuk masyarakat, terutama dalam kondisi darurat. Kami turut prihatin, dan bersyukur korban cepat tertolong,” ungkapnya.

Detik-detik Musibah di Tengah Cuaca Ekstrem

Jepriden menuturkan, tembok setinggi tiga meter yang terbuat dari batu bata itu memang memiliki fondasi yang rapuh. Ketika angin kencang menerjang, dinding rumahnya tidak mampu menahan beban dan langsung roboh.

“Kedua anak saya sempat berusaha menghindar, tapi tidak berhasil,” ujarnya lirih.

Rizky dan Marthin sempat mengalami luka cukup serius di bagian kepala dengan pendarahan dari mulut, hidung, dan telinga. Namun, keduanya masih dalam keadaan sadar ketika dievakuasi. Warga bersama ayah mereka segera membawa korban ke Puskesmas Palmatak untuk perawatan intensif.

Polisi Dampingi Hingga Rumah Sakit

Mendapatkan laporan, petugas Polsek Palmatak langsung mengamankan lokasi, meminta keterangan saksi, dan mengawal korban menuju fasilitas kesehatan. Hingga kini, kondisi kedua anak stabil setelah mendapatkan perawatan medis. Rencananya, mereka akan dirujuk ke RSUD Tarempa untuk penanganan lanjutan.

Akibat musibah ini, Jepriden diperkirakan mengalami kerugian material sekitar Rp20 juta. Meski begitu, ia merasa lega kedua anaknya selamat meski masih dalam masa pemulihan.

Cuaca Ekstrem, Warga Diminta Waspada

BMKG sebelumnya sudah mengingatkan bahwa Agustus hingga September, wilayah Kepri memasuki musim hujan dengan potensi cuaca ekstrem. Karena itu, Kapolres berpesan agar masyarakat lebih waspada, terutama memastikan fondasi rumah kokoh sehingga tidak membahayakan penghuni.

“Keselamatan keluarga adalah yang utama. Kita harus siap menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu,” tutup Kapolres.