BATAMCLICK.COM: Kamis (12/6/2025) malam itu, udara di Asrama Haji Batam terasa berbeda. Sekitar pukul 23.00 WIB, pelataran asrama dipenuhi kerinduan yang menumpuk selama lebih dari sebulan. Tangis bahagia, pelukan erat, dan senyum penuh haru mewarnai kepulangan 445 jamaah haji asal Kepulauan Riau (Kepri), yang tergabung dalam Kloter 1 Debarkasi Batam.
Mereka datang dari berbagai penjuru Kepri: 42 orang dari Natuna, 9 dari Anambas, 96 dari Batam, 181 dari Tanjungpinang, 112 dari Karimun, dan satu orang dari Lingga. Ditemani empat petugas kloter, para tamu Allah ini tiba di Bandara Internasional Hang Nadim sekitar pukul 21.40 WIB. Dari sana, mereka langsung diarahkan ke asrama — lelah tapi tetap terlihat tenang, seolah membawa ketentraman dari Tanah Suci.
“Alhamdulillah, semua jamaah Kloter 1 tiba dalam keadaan sehat. Proses CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, and Port Health) di bandara berjalan lancar berkat koordinasi semua pihak,” ujar Edi Batara, Kepala Seksi Penerimaan dan Pemberangkatan PPIH Debarkasi Batam, di sela penyambutan.
Meski sebagian besar kembali dalam keadaan sehat, suasana haru tak bisa dihindari. Satu jamaah asal Karimun wafat di Tanah Suci, dan satu lainnya masih dirawat di rumah sakit di Arab Saudi.
“Kondisinya mulai membaik. Jika sudah dinyatakan sehat, Insya Allah akan kami pulangkan bersama kloter berikutnya,” lanjut Edi.
Penyambutan berlangsung hangat dan penuh doa. Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura hadir langsung, menyapa satu per satu jamaah yang kembali dengan wajah berseri dan mata yang masih berkaca-kaca.
“Alhamdulillah, Kloter 1 kembali dengan selamat. Wajah-wajah ini memancarkan keteguhan dan keikhlasan. Semoga seluruh jamaah menjadi haji dan hajjah yang mabrur dan mabruroh,” ujar Gubernur Ansar, suaranya bergetar menahan haru.
Ia juga tak lupa menyampaikan doa khusus bagi jamaah yang berpulang di Tanah Suci. “Semoga beliau menjadi tamu terhormat di sisi Allah SWT dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”
Pukul 01.15 dini hari, acara penyambutan resmi berakhir. Namun bagi para keluarga yang menjemput, malam itu baru benar-benar dimulai — malam penuh cerita, tanya, dan syukur, setelah sekian lama menanti kepulangan orang-orang tercinta dari perjalanan spiritual teragung.***









