RORO Batam – Johor, Menyatukan Dua Negeri, Menguji Kesiapan Negeri Sendiri

RORO Batam - Johor segera dibuka sebagai jalur penyeberangan internasional. Pemerhati dan diplomat dorong penguatan sinergi Polri dan Kepolisian Malaysia guna cegah kejahatan lintas negara, sembari menyiapkan peluang ekonomi dua negara.
RORO Batam - Johor segera dibuka sebagai jalur penyeberangan internasional. Pemerhati dan diplomat dorong penguatan sinergi Polri dan Kepolisian Malaysia guna cegah kejahatan lintas negara, sembari menyiapkan peluang ekonomi dua negara.

Rute penyeberangan internasional RORO Batam – Johor mampu mendorong ekonomi lintas batas, namun di saat yang sama juga menuntut kesiapsiagaan Polri untuk mencegah potensi kejahatan lintas negara.

RORO Batam – Johor kini tak lagi sebatas wacana. Jalur penyeberangan internasional yang menghubungkan Batam, Indonesia dengan Johor Bahru, Malaysia ini kian dekat dengan kenyataan. Namun di balik peluang ekonomi yang menjanjikan, hadir pula tantangan besar: bagaimana memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga di pintu lintas negara ini?

Poengky Indarti, Pemerhati Kepolisian sekaligus mantan Komisioner Kompolnas, menyampaikan dukungan atas rencana pembukaan rute RORO Batam – Johor. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya keterlibatan serius Polri, khususnya Polda Kepri, dalam pengawasan dan pencegahan potensi kejahatan lintas batas seperti perdagangan orang (TPPO) dan penyelundupan narkoba.

“Sudah pasti kehadiran RORO Batam – Johor nantinya mewajibkan Polri, terutama Polda Kepri, untuk bersiap diri dan meningkatkan profesionalitas seluruh anggotanya,” kata Poengky di Batam, Rabu (30/7/2025).

Sinergi Police to Police dan Teknologi Pengawasan

Poengky juga menekankan pentingnya kerja sama Police to Police (P to P) antara Polda Kepri dan Kepolisian Diraja Malaysia. Khususnya pihak Johor Bahru. Menurutnya, kerja sama ini bukan hal baru, karena kedua lembaga penegak hukum telah menjalin sinergi dalam menangani isu seperti migran ilegal, terorisme, narkoba, hingga penyelundupan senjata.

“Polda Kepri harus bisa meningkatkan upaya pencegahan kejahatan bersama Kepolisian Johor Bahru secara simultan,” tegasnya.

Poengky menyarankan patroli aktif di area pelabuhan RoRo untuk mendeteksi dini praktik kejahatan. Ia juga mendorong peningkatan pengawasan lalu lintas di Batam, mengingat SIM negara-negara ASEAN kini sudah saling berlaku, yang berarti kendaraan asing bisa lebih bebas beroperasi.

“Polisi harus waspada. Jangan sampai kebebasan ini justru menimbulkan risiko kecelakaan lalu lintas,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia berharap kepolisian bersinergi dengan pemerintah daerah dalam memanfaatkan teknologi pengawasan seperti CCTV pintar, terutama di wilayah rawan kejahatan.

Diplomasi Dua Negara dan Semangat Integrasi Ekonomi

Sementara itu, dari sisi diplomasi dan penguatan kerja sama lintas negara, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor Bahru turut mendorong percepatan realisasi rute ini.

Menurut Erry Kenanga, Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Johor Bahru, upaya pembukaan rute ini telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Pelabuhan Bintang 99 di Batam telah sah sebagai lokasi terminal rute RoRo. Dan minggu ini pihaknya akan membahas perkembangan terbaru bersama Konjen RI di Jakarta.

“Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Anwar dari Malaysia beberapa waktu lalu juga membahas rencana RoRo ini dalam pertemuan bilateral,” ungkap Erry di Batam.

Ia menegaskan bahwa meskipun risiko seperti perdagangan orang dan penyelundupan narkoba bisa saja muncul. Namun kehadiran RORO Batam – Johor justru menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem pencegahan.

“Potensi kejahatan itu memang ada, bahkan sebelum RoRo beroperasi. Tapi kita harus fokus pada sisi positifnya—yakni pertumbuhan ekonomi dan konektivitas yang lebih erat,” tuturnya.

Tantangan di Tengah Asa

Pemerintah pusat melalui Kemenko Marves dan PT ASDP Indonesia Ferry kini berada di garis depan. Sebagai pendorong percepatan pembukaan jalur ini. Heru Widodo, Direktur Utama ASDP, menyebut bahwa meskipun target pembukaan pada semester kedua 2025 cukup realistis, prosesnya tidak mudah.

“Karena ini jalur internasional, maka melibatkan banyak pihak, termasuk aparat keamanan. Kita butuh dukungan menyeluruh dari berbagai stakeholder,” ujarnya.

Jalur RORO Batam – Johor memang bukan sekadar rute pelayaran. Ia adalah pintu, yang jika terbuka dengan kesiapan penuh, bisa menghubungkan lebih dari sekadar daratan—tetapi juga ekonomi, budaya, dan masa depan dua bangsa.

Penulis: kantor berita antaraEditor: papidedy