Mengenal Tudung Manto, Warisan Budaya Tak Benda dari Kabupaten Lingga

BATAMCLICK.COM : Tudung manto merupakan warisan budaya tak benda yang berasal dari Kabupaten Lingga. Tudung manto adalah penutup kepala khas Melayu yang dikenakan oleh perempuan setelah menikah pada saat acara adat seperti pernikahan.

Bagi masyarakat Lingga, tudung manto memiliki makna dan arti yang mendalam, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai identitas masyarakat Lingga.

Awalnya, tudung manto adalah persembahan seorang raja kepada putrinya berupa kain yang kini dikenal dengan nama tudung manto. Hingga kini, masyarakat Lingga terus mengembangkan dan melestarikan tudung manto.

Baca juga: Pelantikan IKABSU Lingga Periode 2023-2028 Akan Diwarnai Tarian Tor Tor dan Nuansa Budaya Sumatera Utara

BACA JUGA:   TNI - Polri dan Warga Desa Tamansari Terlihat Kompak di Pengerjaan Rabat Beton jalan

Pada tahun 2023, tudung manto mencatat rekor dunia MURI dengan pemakaian sebanyak 1.200 orang dalam sebuah acara, menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya ini bagi masyarakat setempat.

Tudung manto memiliki berbagai motif unik, salah satunya adalah motif semut beriring. Pemakaian tudung manto harus disertai dengan baju kurung dan kain dagang, dan tidak diperbolehkan menggunakan baju gamis.

Ciri khas tudung manto dibandingkan dengan kain-kain lain adalah proses pembuatannya yang dilakukan secara handmade selama 1 hingga 2 bulan. Proses ini menggunakan benang khusus seperti serutan besi yang hanya dijual atau diproduksi dari luar negeri, seperti India dan Singapura.

BACA JUGA:   Penyiapan Alat Sangat Mendukung Dalam Pekerjaan

Asimilasi budaya India dan masyarakat Lingga terlihat dari bahan dasar serta nama motif yang masih memiliki unsur India.

Baca juga: Menelusuri Jejak Keterkaitan Kampung Pahang di Daik Lingga dengan Negeri Pahang di Malaysia

Dengan waktu pengerjaan yang lama serta bahan yang sulit didapat, harga tudung manto relatif mahal, dimulai dari harga 2 juta hingga 4 juta rupiah. Meskipun begitu, nilai budaya dan keindahan yang dihadirkan oleh tudung manto membuatnya tetap diminati.

“Saat ini, para pemuda-pemudi di Lingga telah belajar lebih dalam untuk membuat tudung manto. Selain untuk mewariskan warisan turun temurun ini, diharapkan dengan diajarinya para pemuda-pemudi di Lingga, mereka dapat mengembangkan ide usaha dan meningkatkan UMKM di Lingga,” ucap Firdaus Majid, pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Lingga kepada batamnews.co.id, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:   Real Madrid Tanpa Sergio Ramos Bagaikan Sayur Tanpa Garam

Firdaus berharap bahwa melalui upaya ini, tudung mantu tidak hanya menjadi simbol identitas budaya yang terus diwariskan, tetapi juga menjadi salah satu produk unggulan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Lingga.