Pensil (Pensiun Usil)
KAJIAN saintifik DNA yang dilakukan oleh para pengkaji Malaysia baru-baru ini membuktikan, bahwa rumpun Melayu bukan berasal dari keturunan Yunan, di China.
Rumpun Melayu adalah penduduk asal di Gugusan Kepulauan Melayu. Mereka adalah kaum Pribumi dan telah berada di Tanah Melayu lebih 60 ribu tahun yang lalu.
Tentu saja ini perlu ditelaah lebih lanjut, karena pada dasarnya sejarah alias history adakalanya jujur tapi lebih banyak ‘pesanan’, ‘angkat telo’ atau cari muka. Memuji-muji kehebatan seseorang sehingga orang lain yang lebih hebat terabai terbiarkan.
Sejarah Indonesia saja banyak yang demikian. Saatnya peneliti sejarah membuat buku sejarah tentang kejujuran suatu fakta yang akan dibaca anak cucu.
Kalau lihat nama Melayu/Malay yang konsisten sampai saat ini memakai istilah Melayu dan berbahasa serta berbudaya Melayu ya hanya beberapa daerah di Indonesia dan sebagian besar Malaysia.
Jadi alasan ini adalah fakta konsistensi pemakaian idiom Melayu, karena Selat Melaka yang notabenenya Tanah Melayu adalah lintasan perdagangan tentu terpengaruh interaksi dari Arab, China, India, dll. Terjadi percampuran pernikahan dan kolaborasi kultur sehingga Melayu itu meluas.
Hanya saja saat itu orang Melayu yang bikin tulisan tidak fokus menulis tentang dirinya karena kesahajaan kesederhanaan diri, bahwa memuji dan menulis tentang diri sendiri itu tergolong riya’.
Seperti Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi keturunan Arab menulis tentang Melayu dari satu sisi saja bukan asal Melayu, tapi keadaan Melayu waktu itu yang miskin, ledah, rumahnya berumput panjang dan kesannya malas dsb-nya.
Zaman berubah, mindset juga diubah dan berubah karena tuntutan akan diri pengakuan apresiasi diri makin tinggi.
Sudah seharusnya ada penulis Melayu yang menulis jujur riil tentang Melayu.
Sejarah (history) pada dasarnya cerita his-story, tergantung siapa yang menulisnya. Ya, his story, cerita dia sendiri saja, his book, bukunya saja, his wife istrinya saja, his strong, kekuatannya saja, dan his his lainnya…
Semoga adanya kesadaran kolektif dan kebangkitan kesadaran bersama memacu kreativitas menulis tentang diri sendiri, ownstory, our story, bukan his story atau her story sahaja.***
(Batam, Catatan Ahad, 27 Agustus 2022)










