ELSA akan marah kalau dilarang. Apalagi larangan untuk dirinya menjalankan kewajiban kepada Yang Maha Kuasa. “Ujian kekurangan” yang diterimanya bukan halangan untuk menjalankan ibadah sebagaimana kewajiban umat muslim lainnya.
Puasa, dijalankan sesuai syarat dan ketentuan. Shalat lima waktu tak akan ditinggalkannya. Semua dinikmati Elsa dengan senang hati.
Karena itu, larangan-larangan sebagai pengertian terhadap kondisi dirinya, akan membuat Elsa Sanjaya, demikian nama lengkap perempuan ini, marah. Elsa, satu di antara 27 penghuni Wisma Tuna Ganda, yang terletak di Jalan Raya Bogor, Depok, Jawa Barat. Wisma Tuna Ganda ini sudah ada sejak tahun 1975.
Kisah Elsa ini disampaikan oleh Ketua Indonesia Folding Bike (IDFB) yang berkunjungan Wisma Tuna Ganda. Ini merupakan Kegiatan IDFB Peduli sempena Milad ke-16 Indonesia Folding Bike. Donasi yang disampaikan, berasal dari rekan-rekan pesepeda dan sponsor ulang tahun IDFB.

Elsa, menjadi salah seorang penghuni istimewa. Juga kesayangan pengasuh di sana. Hal ini tak lepas dari ibadah yang terus dia jalankan.
Perempuan kelahiran 10 Oktober 1993 ini berasal dari Batam, Kepulauan Riau. Elsa masuk ke Wisma Tuna Ganda pada bulan Juli 2022. Hampir setahun Elsa berinteraksi dengan 26 penghuni lainnya.
Elsa menderita mental retardasi dan tuna wicara spastic. Namun, kekurangan ganda ini tak mengurangi semangat Elsa untuk menjalankan ibadahnya.
S Purwanti, Ketua IDFB menyampaikan kekagumannya pada Elsa. Menurut Ipung, demikian sapaan S Purwanti, Elsa, dalam ketidaksempurnaannya, ingin tetap sempurna ibadahnya.
Kata Ipung, Elsa berpuasa full. Menjalankannya sejak hingga tiba azan maghrib berkumandang. Elsa juga tetap menunaikan kewajiban shalat lima waktu dengan menggunakan mukena. Mukena itu dia kenakan sendiri dengan keterbatasannya.
“Masya Allah, dia ingin ibadahnya sempurna walau tubuhnya tidak sempurna,” kata Ipung, dengan suara bergetar.

Di Wisma Tuna Ganda, Ipung dan rombongan IDFB, tak hanya berinteraksi dengan Elsa. Mereka juga berinteraksi dengan penderita gangguan lainnya.
Ipung mengaku betul-betul mengambil pelajaran dari kunjungan itu. Bahwa betapa seseorang yang tidak sempurna kondisi tubuhnya tapi tetap ingin menjalankan ibadah dengan baik.(zal)










