BWI Lirik Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kota Batam Berbasis Kelautan

Diskusi Stakeholder Zakat dan Wakaf Kota Batam menyoroti pemberdayaan ekonomi umat berbasis kelautan sebagai strategi utama zakat dan wakaf di wilayah kepulauan.
Diskusi Stakeholder Zakat dan Wakaf Kota Batam menyoroti pemberdayaan ekonomi umat berbasis kelautan sebagai strategi utama zakat dan wakaf di wilayah kepulauan.

BATAMCLICK.COM: Pemberdayaan zakat dan wakaf Kota Batam kembali menguat melalui Diskusi Stakeholder Zakat dan Wakaf Kota Batam. Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Batam bersama Kementerian Agama RI dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) se-Kota Batam menggelar diskusi ini. Kegiatan yang berlangsung di Wisma Batam ini menghadirkan narasumber nasional. Antara lain, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Waryono Abdul Ghofur.

Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan strategis, mulai dari jajaran Kementerian Agama, BWI, BAZNAS, LAZ, para nazhir, hingga perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) dari 12 kecamatan se-Kota Batam. Seluruh peserta hadir dengan satu tujuan bersama, yakni memperkuat sinergi zakat dan wakaf agar berdampak langsung bagi kesejahteraan umat.

Potensi Laut Jadi Arah Baru Pemberdayaan Umat

Dalam pemaparannya, Prof. Waryono menegaskan bahwa karakteristik Kepulauan Riau yang lebih banyak wilayah laut hingga sekitar 94 persen harus menjadi dasar utama dalam merancang program zakat dan wakaf. Oleh karena itu, ia mendorong agar sektor kelautan dan perikanan menjadi basis pemberdayaan ekonomi umat di wilayah kepulauan, termasuk Kota Batam.

Ia mencontohkan keberhasilan BAZIS DKI Jakarta di Kepulauan Seribu melalui budidaya ikan kerapu. Program tersebut tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan mustahik, tetapi juga berhasil menembus pasar ekspor. Menurutnya, model serupa sangat relevan untuk diterapkan di Kepulauan Riau dengan menyesuaikan potensi lokal.

Sinergi Antar-Lembaga Jadi Kunci Keberhasilan

Selain itu, Prof. Waryono menekankan pentingnya hubungan antar-lembaga zakat dan wakaf yang bersifat komplementaris. Ia menjelaskan bahwa setiap lembaga harus saling melengkapi dan bersinergi, bukan berjalan sendiri-sendiri atau sekadar menjadi pelengkap program.

Dalam konteks ini, ia mengapresiasi peran BAZNAS yang turut mendukung operasional BWI di Kepulauan Riau. “Umat Islam mayoritas secara kuantitas, tetapi masih perlu terus didorong agar unggul secara kualitas,” tegasnya.

Program Strategis Diperluas untuk Dampak Nyata

Lebih lanjut, Prof. Waryono mendorong perluasan berbagai program strategis seperti desa zakat, kota wakaf, hutan wakaf, serta program pemberdayaan ekonomi umat lainnya. Seluruh program tersebut, menurutnya, sejalan dengan tiga pilar utama Kementerian Agama dalam Asta Cita, yaitu beragama berdampak, eko-teologi, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Peran KUA dan Harapan BWI Batam

Sementara itu, Kasubdit Bina Kelembagaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Muhibuddin, menjelaskan bahwa penguatan program berbasis KUA menjadi strategi penting karena KUA berada langsung di tingkat kecamatan dan memiliki peran strategis dalam memantau ketahanan sosial masyarakat.

Di sisi lain, Ketua BWI Kota Batam, Drs. H. Buralimar, MSi, menegaskan bahwa diskusi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antar-stakeholder. Ia berharap, sinergi yang semakin solid dapat meningkatkan produktivitas aset wakaf di Batam secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan umat.(mar)