MACAM BETUL JE

BATAMCLICK.COM: Pernah tak kita dengar orang cakap, “macam betul je”. Nadanya ringan, tak marah, tak tinggi suara, tapi kalau sudah kena, pedasnya bisa sampai ke tulang.

Itulah sindiran paling halus orang Kepulauan Riau untuk menegur orang yang banyak cerita tapi kosong isinya.

Frasa itu biasanya keluar bila kita berhadapan dengan orang yang pandai betul menyusun fiksi seolah-olah fakta. Banyak borak, banyak bual, banyak bengaknya. Kata-katanya hebat, melambung tinggi, tapi bila ditanya bukti, tak ada. Bila disuruh buat, tak jalan. Ceritanya saja yang besar, aksinya tak nampak. Ada frasa yang sama di Riau, “cakap beso, ghumah nak ghoboh”. Maksudnya, saking besarnya bual, diibaratkan bisa bikin rumah roboh.

Yang buat makin pening, orang macam ini biasanya teking, ungkal, keras kepala. Teking itu degil, tak mau kalah. Ungkal itu bebal, tak mau diajar. Keras kepala itu merasa cuma dia yang paling betul di muka bumi, orang lain semua salah, semua keliru. Dinasihati tak mau, dikasih jalan keluar pun ditolak. Lama-lama dia bukan lagi jadi kawan bercerita, tapi jadi beban.

Orang tua-tua kita di Kepri ada istilah yang pas betul untuk orang begini, “ngabeskan beras je”. Sia-sia, habis kopi bercangkir-cangkir, hasil tak ada. Ada wujudnya, tapi tak ada manfaatnya.

Kalau dilihat dari kacamata psikologi, perangai ini ada namanya. Ada yang disebut Efek Dunning-Kruger. Intinya, orang yang pengetahuannya cetek justru tak sadar kalau dia cetek. Karena dia tak punya kaca untuk melihat kekurangannya sendiri, dia jadi terlalu percaya diri, menganggap bualan kosongnya itu sebagai kebenaran mutlak. Dia tak tahu kalau dia tak tahu.

Ditambah lagi dengan apa yang disebut disonansi kognitif. Ini cerita tentang orang yang ungkal tadi. Bila ada nasihat atau informasi baru yang bertentangan dengan apa yang dia yakini, dia akan tolak mentah-mentah. Bukan karena nasihat itu salah, tapi karena menerima nasihat itu bikin dia tak nyaman, seolah harga dirinya terancam. Jadi dia pilih tutup telinga, bangun benteng tebal-tebal, biar egonya tetap aman, walaupun dia rugi sendiri.

Padahal orang Melayu sudah lama membaca penyakit ini jauh sebelum ada buku psikologi. Orang tua dulu sudah pesan, menasihati orang teking itu ibarat menuang air ke daun keladi. Disiram banyak-banyak pun tak ada yang lekat, semuanya luruh jatuh begitu saja. Tak berbekas.

Sebab itulah, dari dulu kita diajarkan, kehormatan orang Melayu bukan diukur dari seberapa lantang dia membual atau seberapa kuat dia mempertahankan degilnya, tapi dari tahu diri, dari rendah hati, dari sama taknya antara apa yang diucapkan dengan apa yang dibuat sehari-hari.

Peringatan ini juga sudah ditulis cantik oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas. Pada Pasal Kelima beliau menulis, “Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal, jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai”.

Jelas maknanya. Orang berakal itu sibuk menyiapkan bekal, bukan sibuk menyiapkan bualan. Dan baik buruk perangai seseorang itu baru nampak betul bila dia sudah bercampur dengan orang ramai, apakah dia mau mendengar atau cuma mau didengar.

Semua ini jadi cermin untuk kita juga. Ada pantun yang untuk mengingatkan:

“Tumbuh rindang si pohon jati,
tempat singgah burung merpati.
Janganlah teking meninggi diri,
kelak dibenci sampai mati.”

“Kain tenun di dalam peti,
pakaian adat raje di raje.
Kalau nasihat tak terima di hati,
hidup seumpama ngabeskan beras je.”

Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, tapi untuk kita renungkan sama-sama. Semoga di tanah Kepulauan Riau yang kita jaga bersama ini, kita tak terjatuh menjadi si pembual yang “macam betul je” itu.

Biarlah kita jadi orang yang berbudi, mau ditegur, mau mendengar, dan kalau melangkah ke mana-mana, ada manfaat yang tertinggal.

Penulis: Buralimar