Jejak Bersejarah yang Menggetarkan Hati
BATAMCLICK.COM: Museum Batam Raja Ali Haji kembali mencuri perhatian masyarakat lewat peluncuran koleksi terbarunya, yaitu seragam dinas Wali Kota Batam administratif pertama, Ir. H. R. Usman Draman. Seragam ini bukan sekadar pakaian dinas, tetapi simbol awal perjalanan kepemimpinan Batam sebagai kota yang terus tumbuh dan bertransformasi.
Peluncuran koleksi bersejarah ini menjadi puncak dari perayaan Hari Jadi ke-5 Museum Batam Raja Ali Haji, yang bertepatan dengan Hari Museum Nasional. Ribuan mata tertuju ke panggung utama di Alun-alun Engku Putri Batam Center, tempat kemeriahan malam budaya Melayu itu berlangsung.
Yang Mulia Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam menyerahkan seragam tersebut secara simbolik kepada Drs. H. Heriman HK, Asisten Administrasi Umum, yang hadir mewakili Wali Kota Batam, Dr. Amsakar Achmad, S.Sos., M.Si.
“Koleksi ini menjadi saksi perjalanan sejarah Batam. Kami berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat melihat betapa pentingnya menghargai jejak kepemimpinan masa lalu,” ujar Heriman HK usai penyerahan simbolik tersebut.
Menambah Koleksi Sejarah, Memperkaya Identitas Kota Batam
Tak hanya seragam Wali Kota pertama, Museum Batam juga memperkenalkan sejumlah artefak penting lain, di antaranya tombak bilah lalang, lembing bilah pandan, dan tempayan peninggalan Raja Alip. Koleksi bersejarah ini diserahkan langsung kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Drs. Ardiwinata, sebagai wujud pelestarian budaya dan sejarah Melayu di Batam.
“Museum bukan hanya tempat menyimpan benda, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran sejarah dan kebanggaan terhadap budaya kita. Melalui koleksi baru ini, kita belajar menghargai perjalanan Batam dari masa ke masa,” ujar Ardiwinata.
Koleksi baru tersebut menambah daftar panjang peninggalan yang kini tersimpan di Museum Batam. Hingga September 2025, 79 koleksi telah terdaftar dalam sistem registrasi nasional, dengan jumlah pengunjung mencapai 5.407 orang. Angka ini menunjukkan semakin besar minat masyarakat untuk mengenal sejarah kotanya sendiri.
Perayaan Museum Batam yang Penuh Warna dan Makna
Malam perayaan ulang tahun Museum Batam berlangsung meriah dengan balutan nuansa budaya Melayu. Acara dipandu oleh Rio dan Ajeng dari Solidaritas Pembawa Acara (Swara) Batam. Sebagai pembuka hadir penampilan memukau Malaykustik yang membawakan lagu-lagu khas Melayu seperti Empat Dara, Zapin Madah Pusaka, dan Tualang Tiga.
Suasana semakin semarak ketika Sanggar Titah Tuan Ku menampilkan Tari Persembahan, dan berbagai atraksi seni dan musik daerah.
Dalam laporannya, Kepala UPTD Museum Batam Raja Ali Haji, Senny Thirtywani, S.T., menyampaikan bahwa museum terus berinovasi menghadirkan ruang edukasi yang lebih menarik. Salah satu program yang akan berlangsung adalah mini theater sejarah Batam, yang akan menayangkan film dokumenter tentang perjalanan sejarah dan budaya Melayu.
“Kami ingin menjadikan museum sebagai tempat belajar yang menyenangkan, di mana sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan,” tutur Senny Thirtywani.
Ajang Kreativitas dan Kebanggaan Budaya Melayu
Sebagai bagian dari rangkaian perayaan, Museum Batam juga menggelar Lomba Fotografi dan Lomba Interpretasi Gurindam 12.
Lomba fotografi yang diikuti 23 peserta menghasilkan pemenang:
- Juara 1: Zya F
- Juara 2: Tegar F. W.
- Juara 3: Gugatin_GA
- Harapan 1: Gandari Kuswara
Sementara Lomba Interpretasi Gurindam 12 diikuti 10 peserta, dengan pemenang:
- Juara 1: Deni Kuswara
- Juara 2: Stevany
- Juara 3: Johanesdeak
- Harapan 1: Gandari Kuswara
Dua ajang ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kecintaan terhadap seni dan budaya Melayu.
Tradisi Nasi Besar, Simbol Syukur dan Kebersamaan
Malam bersejarah itu ditutup dengan prosesi adat pemotongan Nasi Besar, tradisi yang melambangkan rasa syukur, penghormatan, dan kebersamaan masyarakat Melayu. Nasi kuning yang tersaji di atas dulang bertingkat menjadi simbol kemuliaan dan kebesaran adat yang tetap hidup hingga kini.
Kemeriahan malam itu bukan sekadar pesta peringatan. Ia adalah perayaan identitas, penghormatan terhadap sejarah, dan pengingat pentingnya menjaga warisan budaya Melayu yang menjadi akar dari jati diri Batam.
Museum Batam, Jendela Masa Lalu dan Cermin Masa Depan
Kini, Museum Batam Raja Ali Haji tak lagi sekadar tempat menyimpan artefak, tetapi juga ruang yang menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat Batam. Seragam dinas Wali Kota pertama kini berdiri gagah di dalam vitrin kaca, menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota industri ini dari masa pemerintahan administratif hingga menjadi kota metropolitan yang modern.
Setiap kunjungan ke museum ini bukan hanya perjalanan menelusuri masa lalu, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab untuk terus menjaga dan mencintai sejarah Batam yang kaya nilai dan makna(nata).









