SURAT TERBUKA UNTUK MANAJEMEN BATAMINDO INDUSTRIAL PARK
Tentang Ketidakadilan dalam Rekrutmen Tenaga Kerja Warga Sempadan Kawasan Industri
Kepada Yth,
Pimpinan dan Manajemen Batamindo Industrial Park
di Tempat
Dengan segala hormat,
Nama saya Anwar Anas. Saya lahir dan besar di Batam, dan kini dipercaya sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Batam. Tapi hari ini, saya tidak berbicara sebagai pejabat. Saya menulis surat ini sebagai putra daerah, sebagai seseorang yang tumbuh bersama harapan warga Kecamatan Sei Beduk—wilayah yang menjadi tetangga terdekat kawasan industri Batamindo.
Kami, warga Sei Beduk, telah lama membuka ruang—bukan hanya secara geografis, tetapi juga sosial, kultural, bahkan ekologis—untuk hadirnya kawasan industri Batamindo. Bertahun-tahun kawasan ini berdiri kokoh, menjadi pusat aktivitas ekonomi yang menggerakkan Batam. Tapi ironisnya, warga yang tinggal tepat di seberangnya justru hanya menjadi saksi. Mereka melihat geliat ekonomi, lampu pabrik yang menyala, kendaraan keluar-masuk membawa produksi, tapi tidak ikut terlibat di dalamnya.
Bukan karena mereka tidak mau bekerja. Bukan pula karena tidak mampu. Tapi karena pintu itu seakan tertutup rapat bagi mereka.
Ini bukan sekadar masalah angka atau statistik rekrutmen. Ini adalah soal keadilan. Soal kesempatan yang seharusnya merata. Soal pengakuan terhadap masyarakat yang telah lama mendukung keberlangsungan kawasan industri ini.
Saya ingin mengingatkan bahwa Batamindo bukan berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh karena ada tanah yang menopang, ada masyarakat yang bersabar, dan ada negara yang memberikan banyak insentif. Batamindo bahkan termasuk objek vital nasional—status yang seharusnya diiringi dengan tanggung jawab sosial dan moral yang besar.
Maka dengan ini, saya mengajukan beberapa seruan yang lahir dari suara hati warga Sei Beduk:
- Wajibkan perusahaan tenant Batamindo untuk memprioritaskan rekrutmen warga lokal, khususnya untuk posisi non-spesialis.
- Sediakan kuota afirmatif minimal 30 persen untuk tenaga kerja dari kawasan sempadan seperti Sei Beduk.
- Dirikan pusat pelatihan keterampilan (training center) gratis bagi warga lokal, sebagai bagian dari program CSR yang konkret dan terukur.
- Buka laporan rekrutmen secara berkala setiap triwulan, agar transparansi dapat dijaga dan masyarakat bisa menilai sendiri sejauh mana komitmen ini dijalankan.
Saya percaya, industri tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Ia harus hidup berdampingan dengan masyarakat sekitarnya, membangun harmoni, bukan menciptakan sekat. Jangan biarkan kawasan industri menjadi tembok besar yang menjauhkan harapan warga dari kenyataan.
Surat ini bukan hanya seruan, tapi juga pengingat bahwa kami, sebagai wakil rakyat, memiliki mandat untuk mengawasi. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dan perubahan yang signifikan, kami akan menggunakan hak kami untuk memanggil, mengevaluasi, bahkan meninjau ulang seluruh kerja sama dan perizinan yang melibatkan Batamindo.
Batam adalah rumah kita bersama. Dan keadilan itu, mestinya dimulai dari pintu terdekat: dari kawasan industri, menuju hati masyarakatnya.
Hormat saya,
Anwar Anas
Anggota DPRD Kota Batam









