BATAMCLICK.COM: Daik Lingga tidak menawarkan liburan yang serba tergesa-gesa. Justru sebaliknya. Perjalanan ke ibu kota Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mengajak kita memperlambat langkah, menikmati laut, menyusuri jalan kampung, mencicipi kuliner Melayu, sekaligus menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga.
Bagi Anda yang ingin melancong ke Bunda Tanah Melayu, perjalanan dari Batam bisa menjadi pilihan. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar liburan tetap nyaman, aman, dan waktu tidak habis hanya untuk mencari transportasi.
Berangkat dari Batam, Siapkan Perjalanan Sejak Awal

Perjalanan menuju Daik Lingga dari Batam tidak berlangsung setiap saat. Karena itu, jadwal kapal perlu diperhatikan sejak awal.
Kapal dari Batam berangkat melalui Pelabuhan Telaga Punggur sekitar pukul 10.30 WIB dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Tenam, Lingga. Harga tiket sekitar Rp240.000 per orang, ditambah pas pelabuhan.
Perjalanan laut menjadi bagian menarik dari petualangan ini. Setelah beberapa jam berada di atas kapal, gugusan pulau perlahan berganti menjadi pemandangan pesisir Lingga.
Namun, satu hal penting perlu diingat. Saat tiba di Pelabuhan Tanjung Tenam, sebaiknya kendaraan penjemput sudah menunggu.
Pelabuhan ini masih berjarak sekitar 30–45 menit perjalanan darat dari pusat Daik. Selain itu, sinyal telepon di sekitar pelabuhan cukup terbatas. Karena itu, jangan menunggu sampai tiba di pelabuhan untuk mencari kendaraan.
Sebaiknya, semuanya sudah diatur sebelum kapal berangkat.
Pilih Sopir yang Sekaligus Bisa Menjadi Teman Perjalanan

Untuk perjalanan darat di Lingga, kendaraan sewaan bisa menjadi pilihan paling praktis.
Ada dua pengemudi yang bisa menjadi referensi perjalanan, yakni Edem dan Kenji.
Edem dikenal ramah, komunikatif, dan punya selera humor yang membuat perjalanan terasa lebih cair. Ia bahkan kerap menawarkan diri untuk membantu mengambil foto atau video selama perjalanan.
Edem dapat dihubungi di +62 812-6766-9979.
Sementara itu, ada Kenji yang juga ramah dan sopan. Karakternya lebih tenang dibanding Edem, tetapi tetap menyenangkan diajak berbincang sepanjang perjalanan.
Kenji dapat dihubungi di +62 822-1382-7084.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam sejarah dan budaya Lingga, Anda juga dapat menggunakan jasa pendamping lokal seperti Pak Lazuardi, pemerhati sejarah dan budayawan yang berdomisili di Daik.
Jika ingin menjelajah sendiri, mobil juga bisa disewa. Tarifnya sekitar Rp300.000 per hari tanpa sopir. Sementara paket kendaraan dengan sopir dan bahan bakar sekitar Rp800.000 per hari.
Namun, jangan lupa satu hal penting: Daik belum memiliki SPBU. Bahan bakar biasanya dijual secara eceran di warung-warung.
Jadi, jangan sampai perjalanan terasa sempurna sampai akhirnya kendaraan kehabisan bensin di tengah jalan.
Hari Pertama: Dari Tugu Khatulistiwa hingga Air Terjun Resun

Setibanya di Pelabuhan Tanjung Tenam sekitar pukul 14.00 WIB, perjalanan darat bisa langsung dimulai.
Tujuan pertama adalah Tugu Khatulistiwa. Lokasinya tidak jauh dari pelabuhan, sekitar dua kilometer.
Dari kawasan ini, wisatawan dapat berhenti sejenak untuk berfoto sekaligus menikmati bentang laut Lingga dari tempat yang lebih tinggi.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju Air Terjun Resun.
Inilah saat yang tepat untuk melepas penat setelah perjalanan laut.
Airnya jernih dan menyegarkan. Suasana di sekitarnya juga masih asri. Wisatawan bahkan bisa langsung menceburkan diri dan menikmati segarnya air pegunungan.
Harga masuknya relatif terjangkau, sekitar Rp5.000 per orang. Sementara parkir mobil sekitar Rp10.000.
Setelah puas bermain air, perjalanan dilanjutkan menuju pusat Daik.
Menutup Sore dengan Lempeng Sagu

Menjelang petang, jangan buru-buru kembali ke penginapan.
Daik punya cara sederhana untuk membuat wisatawan merasa diterima.
Cobalah menikmati lempeng sagu dengan kuah asam pedas ikan. Teksturnya sederhana, tetapi cita rasanya begitu lekat dengan karakter kuliner Melayu.
Temani dengan teh tarik, kopi, atau minuman hangat lainnya.
Di tengah suasana Daik yang tenang, makanan sederhana itu justru terasa semakin nikmat.
Setelah itu, waktunya beristirahat.
Di Daik tersedia hotel dan sejumlah homestay. Salah satu hotel yang dikenal wisatawan adalah Lingga Pesona, dengan tarif kamar sekitar Rp200.000 hingga Rp600.000, tergantung tipe kamar.
Homestay juga tersedia dengan kisaran harga Rp200.000 hingga Rp500.000 per malam.
Fasilitasnya cukup untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling. Kamar umumnya sudah menggunakan AC, memiliki kamar mandi dengan toilet duduk, shower, dan air panas. Tempat tidurnya pun cukup nyaman untuk memulihkan tenaga sebelum perjalanan berikutnya.
Malam hari, Anda bisa mencari makan di sekitar pusat kota. Seafood segar, ayam penyet, dan berbagai menu sederhana mudah ditemukan.
Menariknya, sejumlah toko di Daik masih buka hingga malam. Jadi, jika ada perlengkapan yang tertinggal atau pakaian yang kurang, Anda tidak perlu panik.
Hari Kedua: Menyusuri Jejak Kesultanan Riau-Lingga

Hari kedua menjadi waktu untuk mengenal Daik lebih dekat.
Hotel umumnya tidak menyediakan sarapan. Namun, jangan melihatnya sebagai kekurangan.
Justru di sinilah kesempatan untuk ikut menghidupkan ekonomi warga setempat.
Pagi-pagi, keluarlah dan cari sarapan di warung warga. Nikmati suasana kota yang perlahan mulai bergerak.
Setelah sarapan, perjalanan bisa dimulai dengan berziarah ke makam Sultan Mahmud Riayat Syah yang berada di kawasan Masjid Sultan di pusat Daik.

Sultan Mahmud Riayat Syah merupakan Sultan Riau-Lingga, Johor, dan Pahang ke-15 yang berkuasa pada 1770–1811. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih melawan VOC dan Belanda melalui strategi perang gerilya laut.
Ia juga yang memberikan maskawin sebuah pulau “Pulau Penyengat” kepada Raja Hamidah atau dikenal juga dengan sebutan Engku Putri.
Namanya kemudian diabadikan menjadi nama masjid besar di kawasan Batu Aji, Batam.
Dari makam tersebut, perjalanan sejarah Daik terasa semakin nyata. Kita tidak sekadar melihat bangunan atau benda lama, tetapi juga menyusuri jejak sebuah kesultanan yang pernah memiliki pengaruh besar di kawasan Melayu.
Melihat Sagu dari Batang hingga Menjadi Tepung

Setelah menikmati wisata sejarah, saatnya melihat salah satu kekayaan pangan Lingga.
Wisatawan dapat menyaksikan proses pengolahan sagu secara tradisional.
Batang sagu yang masih utuh diolah secara bertahap. Batang tersebut dihancurkan, kemudian diperas dan disaring hingga menghasilkan pati sagu.
Setelah melalui proses pengolahan dan pengeringan, pati tersebut dikemas menjadi tepung sagu siap jual.
Menariknya, wisatawan juga bisa membelinya sebagai buah tangan. Harganya relatif murah, sekitar Rp5.000 per kilogram.
Dari sini, perjalanan terasa semakin lengkap. Kita tidak hanya menikmati alam, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat mengolah kekayaan alam menjadi produk bernilai ekonomi.
Menyaksikan Keindahan Tudong Manto

Perjalanan kemudian berlanjut ke rumah kerajinan Tudong Manto.
Di tempat ini, wisatawan dapat melihat langsung tangan-tangan terampil pengrajin menghasilkan tudong khas Melayu.
Benang perak disulam dengan teliti hingga membentuk motif yang indah. Prosesnya membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Tidak heran jika hasil akhirnya terlihat elegan.
Tudong Manto bukan sekadar penutup kepala.

Bagi masyarakat Melayu, tudong ini menjadi bagian dari identitas budaya dan kerap dikenakan bersama baju kurung.
Melihat proses pembuatannya secara langsung membuat kita semakin memahami bahwa setiap helai benang menyimpan cerita tentang tradisi yang terus dijaga.
Saatnya Menikmati Kuliner Melayu

Setelah puas melihat kerajinan, tubuh tentu mulai meminta asupan energi.
Saatnya makan siang.
Jangan lewatkan masakan khas Melayu yang mudah ditemukan di warung-warung lokal. Ikan asam pedas, cumi masak hitam, gulai jantung pisang, dan berbagai olahan hasil laut bisa menjadi pilihan.
Tidak perlu mencari tempat makan mewah.
Justru warung sederhana sering kali memberikan pengalaman kuliner yang paling berkesan.
Rumah Tenun dan Museum Lingga Cahaya

Perjalanan dilanjutkan menuju rumah tenun.
Di sini, wisatawan dapat melihat para penenun bekerja dengan teliti. Setiap benang harus ditata dengan cermat karena sedikit kesalahan bisa memengaruhi pola kain.
Selain melihat prosesnya, wisatawan juga bisa membeli berbagai produk tenun. Mulai dari pakaian, rompi, hingga luaran tanpa lengan.
Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke Museum Linggam Cahaya.
Di museum ini, wisatawan dapat melihat berbagai koleksi peninggalan sejarah Lingga. Mulai dari perlengkapan kehidupan sehari-hari, pakaian, hingga benda-benda yang berkaitan dengan masa kerajaan.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah tulang belulang Gajahmina, hewan laut purba yang ditemukan di perairan Lingga Utara.
Bagi pencinta sejarah, tempat ini menjadi salah satu persinggahan yang sayang untuk dilewatkan.
Jangan Pulang Tanpa Membawa Oleh-Oleh

Sebelum melanjutkan perjalanan, sisihkan waktu untuk berburu oleh-oleh.
Bilis atau ikan teri, ikan asin, kerupuk ikan, kerupuk udang, kerupuk sotong, hingga kue bangkit bisa menjadi pilihan.
Selain cocok untuk buah tangan keluarga, aneka panganan tersebut juga bisa menjadi stok camilan di rumah.
Yang membuatnya semakin menarik, Anda bisa mendapatkan produk olahan laut langsung dari masyarakat setempat.
Menutup Hari di Lubuk Muncung

Menjelang sore, saatnya kembali menyatu dengan alam.
Tujuannya adalah Lubuk Muncung, kawasan pemandian sungai yang menawarkan air jernih dan suasana asri.
Tempat ini cocok untuk beristirahat setelah seharian berkeliling.
Duduk di tepi sungai, mendengarkan suara air, dan membiarkan udara segar memenuhi paru-paru menjadi pengalaman sederhana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Wisatawan juga bisa mandi di sungai. Airnya segar dan dasar sungainya berbatu, memberikan sensasi tersendiri ketika kaki menyentuh alirannya.
Saat ini, kawasan tersebut masih gratis.
Nikmati saja suasananya, tetapi tetap jaga kebersihan dan jangan meninggalkan sampah.
Malam harinya, perjalanan bisa ditutup dengan makan malam santai. Pilihannya beragam, mulai dari ikan bakar, ayam, hingga lele.
Jika ingin suasana yang lebih santai, beberapa tempat makan juga menyediakan hiburan musik.
Hari Ketiga: Saatnya Pulang

Hari terakhir datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Bangunlah lebih pagi. Nikmati sarapan khas Melayu seperti lontong Melayu atau nasi kuning.
Setelah itu, segera menuju pelabuhan.
Kapal menuju Batam dijadwalkan berangkat sekitar pukul 09.30 WIB. Jangan datang terlalu mepet karena perjalanan menuju pelabuhan tetap membutuhkan waktu.
Tarif perjalanan sekitar Rp240.000 per orang, ditambah pas pelabuhan sekitar Rp5.000 per orang.
Jika perjalanan berjalan lancar, Anda dapat tiba di Batam sekitar pukul 13.00 WIB.
Perjalanan pulang mungkin terasa berbeda.
Kita meninggalkan Daik dengan koper yang mungkin lebih berat karena oleh-oleh, tetapi juga dengan kepala yang penuh cerita.
Jika Punya Waktu Lebih, Coba Pantai Dungun

Jika memiliki waktu tambahan dan menyukai perjalanan yang lebih menantang, Pantai Dungun bisa masuk dalam daftar.
Perjalanannya cukup jauh, sekitar dua jam. Beberapa ruas jalan juga masih rusak, belum beraspal, dan berlubang.
Namun, rasa lelah itu akan terbayar ketika tiba.
Pantainya menawarkan suasana yang bersih dan indah. Dalam perjalanan menuju pantai, wisatawan juga dapat menemukan warga yang menjual bilis dan ikan asin hasil tangkapan nelayan.
Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan ikan yang baru selesai dijemur dengan harga yang lebih bersahabat.
Catatan Penting Sebelum Berangkat

Daik adalah tempat untuk menikmati perjalanan, bukan mengejar sebanyak mungkin destinasi dalam satu hari.
Karena itu, siapkan semuanya sejak dari Batam.
Bawa uang tunai secukupnya karena belum semua warung menerima pembayaran melalui QRIS. Fasilitas ATM juga masih terbatas.
Pastikan pula bahan bakar kendaraan cukup. Jangan menunggu tangki hampir kosong karena SPBU belum tersedia di Daik.
Yang tidak kalah penting, simpan nomor pengemudi atau orang yang akan menjemput sebelum kapal berangkat.
Dengan persiapan sederhana itu, perjalanan akan jauh lebih tenang.
Pada akhirnya, Daik Lingga bukan hanya tentang kunjungan belaka.
Ia tentang perjalanan laut yang panjang, udara yang lebih segar, air terjun yang dingin, makanan Melayu yang menggoda selera, tangan pengrajin yang tekun, jejak kesultanan yang masih terasa, hingga aliran sungai yang membuat kita ingin tinggal sedikit lebih lama.
Jadi, jika suatu hari ingin melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kota, cobalah datang ke Daik.
Tidak perlu terburu-buru.
Nikmati jalannya, sapa orang-orangnya, cicipi makanannya, dengarkan ceritanya, dan biarkan Lingga menunjukkan sendiri mengapa daerah ini layak disebut Bunda Tanah Melayu.
Selamat melancong ke Daik Lingga. Siapkan perjalanan dengan baik, lalu nikmati setiap kilometernya.
Penulis : Novianto, Ketua Forum Jurnalistik Pariwisata (FJP) Kepri









