Batamclick.com,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mewujudkan konsep ‘blue food‘ atau pangan biru berkelanjutan melalui pengembangan budi daya ikan di berbagai daerah, termasuk di Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen menjadikan pangan biru sebagai kekuatan utama ketahanan pangan nasional.
“Ini sudah siap untuk direplikasi dan disebarluaskan di Indonesia. Dalam tiga sampai empat tahun ke depan, Indonesia akan menjadi kekuatan di bidang blue food,“ kata dia saat berkunjung di Batam, Rabu.
Menteri KP Sakti mengungkapkan bahwa perkembangan budi daya ikan sudah pesat dengan adanya teknologi budi daya terkini.
“Kita sudah jagoan kalau budi daya kerapu. Di Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam, ada bawal bintang, napoleon, jade perch yang berasal dari Australia namun dikembangkan disini dengan teknologi resirkulasi air,” kata dia.
Menurutnya, diversifikasi jenis ikan tersebut akan memperkuat swasembada pangan berbasis protein, sekaligus menjawab kebutuhan gizi masyarakat.
“Protein dari ikan ini menjadi kekuatan kita. Dengan dukungan teknologi, budi daya ikan akan semakin mendorong ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti potensi besar budi daya lobster, yang akan terus digenjot di fasilitas itu.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu mengungkapkan bahwa kapasitas budi daya BPBL saat ini mencapai 6 dan akan terus ditingkatkan.
“Kami masih ada 13.000 benih lobster untuk panen berikutnya. Kami juga berencana menambah kapasitas sampai 2.000 lubang di BPBL dengan persetujuan Pak Menteri, jadi semoga dapat menambah kapasitas,” katanya.
Sebagai informasi, kapasitas lobster di BPBL saat ini memiliki sekitar 200 lubang.
“Selain itu, kami juga menggandeng nelayan lokal agar keberlanjutan pangan biru tetap terjaga. Salah satu bentuk sinergi adalah pemanfaatan kerang hijau yang di tanam oleh nelayan lokal,” kata Tb Haeru.
Ia menjelaskan sisa dari kerang hijau yang tidak dijual oleh nelayan, dimanfaatkan untuk menjadi pakan lobster.
“Jadi nelayan tetap mendapat keuntungan, sementara ekosistem budi daya kita lebih efisien dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Hal tersebut menunjukkan kesinambungan antara pemanfaatan hasil sumber daya laut dan mendukung produsen lokal untuk mendukung industri budi daya ikan di kota itu.
Sumber, Antara









