Muo Fried Kupang: Sekali Cocol Sambal Kecap, Sepiring Langsung Ludes!

Menikmati Muo Fried Kupang di Sungai Balang, Muar. Kupang segar langsung dari laut, digoreng crispy dan dibakar dalam cangkang, lalu dicocol sambal kecap.
Menikmati Muo Fried Kupang di Sungai Balang, Muar. Kupang segar langsung dari laut, digoreng crispy dan dibakar dalam cangkang, lalu dicocol sambal kecap.

Menyusuri Wisata Johor (bagian 4)

Muo Fried Kupang ternyata bukan sekadar camilan seafood biasa. Di Muar, Johor, kami menemukan cara makan kupang yang berbeda. Kupang segar dari laut, digoreng crispy, dibakar bersama cangkangnya, lalu disantap sambil dicocol sambal kecap. Baru mencium aromanya saja sudah bikin perut kembali lapar.

Siapa yang belum pernah makan kupang?

Atau jangan-jangan ada yang selama ini cuma tahu namanya, tetapi belum pernah melihat bentuknya?

Kalau begitu, ikut saja perjalanan kami kali ini.

Tapi saya kasih peringatan dulu.

Kalau gampang lapar, jangan baca bagian ini sambil perut kosong.

Bisa bahaya.

Petang-petang, Anak Pulau Mana Bisa Menolak Seafood?

Masih di Muar.

Setelah sebelumnya kami jalan-jalan, makan seafood, lalu trekking di kawasan hutan bakau, badan mulai terasa capek.

Petang sudah datang.

Matahari masih terang. Angin laut juga terasa.

Kami pun mencari tempat untuk duduk-duduk santai.

Tiba-tiba driver kami bertanya,

“Masih nak makan seafood?”

Belum selesai dia bertanya, kami langsung menjawab hampir bersamaan.

“Mauuu!”

Ya iyalah.

Kami ini anak pulau.

Kalau ditanya seafood, susah nak bilang tidak.

Driver kami kemudian bertanya lagi.

“Ada tempat makan kupang. Dah pernah makan kupang?”

Saya langsung jawab, “Saya suka kupang.”

Tapi dalam hati saya mulai menghitung.

Kalau kupang dimakan dengan nasi, rasanya berat juga.

Apalagi petang-petang begini.

Di tempat kami, kupang biasanya dimasak sebagai lauk. Bisa ditumis, dimasak saus Padang, lada hitam, dan macam-macam lagi.

Tapi driver kami malah tersenyum.

“Tenang bang. Ini Muo Fried Kupang. Bukan makan berat.”

Nah!

Kalau begitu, kita gas.

Menuju Laman Kupang Mukim Sungai Balang

Mobil pun meluncur menuju Laman Kupang Mukim Sungai Balang.

Lokasinya berada di kawasan tepi laut.

Begitu sampai, kami belum sempat duduk.

Telinga kami malah langsung menangkap suara mesin.

Ngunggg… ngunggg…

Kami pun mendekat.

Rupanya ada ratusan kupang yang baru saja didatangkan dari laut.

Kupang-kupang itu dimasukkan ke dalam sebuah mesin.

Fungsinya untuk membersihkan bagian kulit kupang dari tritip dan kotoran yang menempel.

Jadi sebelum masuk ke dapur, kupang-kupang ini harus dibersihkan dulu.

Dan menariknya, kita bisa melihat prosesnya langsung.

Bukan kupang yang sudah tiba-tiba tersaji cantik di atas meja.

Kami bisa melihat dari awal.

Dari laut.

Dibersihkan.

Direbus.

Sampai akhirnya masuk ke piring.

Begitu Cangkang Terbuka, Tandanya Sudah Masak

Setelah dibersihkan, kupang kemudian direbus.

Masih bersama cangkangnya.

Menurut pemilik Laman Kupang, prosesnya tidak lama.

“Sebentar saja dah masak. Kalau kulitnya dah terbuka, berarti dah masak,” katanya.

Jadi, tidak perlu menunggu lama.

Begitu cangkangnya mulai terbuka, kupang sudah siap disantap.

Sebenarnya, sampai di tahap ini saja kupang sudah bisa langsung dimakan.

Tinggal buka cangkangnya.

Ambil isinya.

Kemudian ditotol sambal.

Sudah.

Tapi rupanya Laman Kupang punya cara lain.

Dan di sinilah kami mulai penasaran.

Kupang Dibikin Crispy, Bentuknya Macam KFC!

Kupang yang sudah direbus kemudian dikeluarkan dari cangkangnya.

Setelah itu, dagingnya dibalut tepung.

Lalu masuk ke minyak panas.

Cessss…!

Tak lama kemudian, keluarlah sepiring kupang goreng.

Warnanya keemasan.

Masih panas.

Asapnya bahkan masih mengepul.

Kalau dilihat sekilas, bentuknya memang mengingatkan kita pada ayam goreng tepung.

Macam Kentucky.

Tapi ini bukan ayam.

Ini kupang!

Kami pun langsung mendekat.

Piring diletakkan di tengah.

Sambal kecap sudah tersedia.

Dan seperti biasa…

Tidak ada yang mau menunggu terlalu lama.

1… 2… 3… serbu!

Satu ambil.

Yang lain ikut ambil.

Cocol sambal.

Masuk mulut.

Kunyah.

Diam sebentar.

Lalu ambil lagi.

Tidak terasa.

Sepiring habis.

Cepat sekali.

Padahal tadi katanya cuma ngemil.

Belum Selesai, Ada Kupang Bakar Pula!

Kami pikir sudah selesai.

Ternyata belum.

Masih ada satu lagi.

Kupang segar yang masih berada di dalam cangkangnya dibakar.

Nah, yang ini tampilannya memang lebih sederhana.

Tidak pakai tepung.

Tidak banyak bumbu.

Kupangnya dibakar langsung bersama cangkangnya.

Begitu matang, aromanya langsung keluar.

Ada aroma laut.

Ada aroma bakaran.

Dan ketika cangkangnya dibuka…

Waduh.

Daging kupangnya masih terasa segar.

Rasanya manis.

Ada gurihnya.

Ditambah aroma asap dari proses pembakaran.

Yang ini menurut saya malah lebih menggoda.

Sekali ambil, langsung ingin ambil lagi.

Sambal kecap pun kembali bekerja.

Totol sedikit. Masuk mulut.

Sudah.

Susah berhenti.

Dari Laut, Langsung ke Meja

Yang membuat pengalaman makan kupang di sini terasa berbeda adalah prosesnya.

Kami bisa melihat bagaimana kupang datang dari laut.

Kemudian dibersihkan.

Direbus.

Dimasak.

Lalu disajikan kepada pengunjung.

Jadi, ketika makanan sampai di meja, kita tahu perjalanan makanan itu.

Bukan sekadar datang, pesan, makan, lalu pulang.

Ada cerita di balik sepiring kupang.

Dan karena lokasinya juga berada di kawasan tepi laut, suasananya semakin pas untuk menikmati petang.

Angin laut.

Aroma bakaran.

Kupang panas.

Sambal kecap.

Sudah.

Apa lagi yang nak dicari?

Kalau Makan Kupang, Jangan Main Telan Saja

Ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Ketika makan kupang, bersihkan bagian yang tidak ikut dimakan.

Jangan asal telan semuanya.

Bagian seperti serabut atau “rambut” yang menempel pada kupang sebaiknya dibuang karena bisa mengganggu pencernaan.

Jadi, santai saja makannya.

Nikmati isinya.

Jangan terburu-buru.

Apalagi kalau kupangnya panas-panas begini.

Petang Belum Selesai…

Perut sudah mulai kenyang.

Kupang goreng sudah ludes.

Kupang bakar juga tinggal cerita.

Kami pun mulai berpikir.

Kalau habis makan seafood begini, paling enak minum apa?

Air putih?

Boleh.

Teh?

Boleh juga.

Tapi tiba-tiba muncul satu ide.

Cendol durian!

Nah!

Ini baru cocok.

Dingin, manis, lemak santan, ditambah durian.

Setelah makan kupang yang gurih dan beraroma bakaran, rasanya memang seperti penutup yang sempurna.

Jadi, perjalanan kami di Muar belum habis.

Dari tepi laut, kami akan mencari sesuatu yang dingin dan manis.

Entah betul kami jadi ke Cendol Durian atau tidak…

Yang pasti, perjalanan petang ini masih panjang.

Jom, ikut kami merayau lagi di Muar! (bos)

Bersambung…..

Apisode Selemnya:

Muo, Masuk Kampung Sarang Buaya, Dapat Dodol dan Kelapa