BATAMCLICK.COM: Kredit usaha untuk UMKM terus menunjukkan peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Bank Indonesia menilai pembiayaan perbankan yang responsif menjadi kunci agar ekonomi tetap bergerak dan inklusif.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, mengatakan kredit nasional tumbuh sekitar 10 persen. Total kredit kini mencapai Rp79,3 triliun.
Ia menyebut sejumlah daerah mencatat pertumbuhan kredit yang jauh lebih tinggi. Bali, misalnya, mampu mencatatkan pertumbuhan kredit hingga 20 persen.
“Banyak daerah mengalami lonjakan kredit yang melebihi pertumbuhan ekonominya,” ujar Rony, pekan lalu di Batamcenter.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan sektor pembiayaan merespons kebutuhan dunia usaha. Perbankan aktif menyalurkan kredit ke sektor industri dan UMKM.
Langkah tersebut dinilai krusial. Kredit memberi ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang dan melakukan ekspansi.
“Kalau ekonomi tumbuh tinggi tapi pembiayaan tidak naik, itu jadi tanda tanya,” tegasnya.
Rony menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pembiayaan. Tanpa kredit, industri sulit memperluas usaha dan meningkatkan kapasitas produksi.
Kualitas Kredit Tetap Sehat
Bank Indonesia juga memastikan kualitas kredit tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada di level aman.
Rony menjelaskan batas NPL sehat maksimal berada di angka 5 persen. Bali mencatat NPL sebesar 2,8 persen. Angka nasional berada di level 2,21 persen.
“Artinya, kredit masih sehat dan terkendali,” jelasnya.
Kredit Korporasi dan Efek Berganda ke UMKM
Pertumbuhan kredit tinggi masih ditopang sektor korporasi. Kredit korporasi tumbuh 25 persen. Angka ini jauh di atas pertumbuhan nasional yang hanya 11 persen.
Total kredit korporasi yang tersalurkan mencapai Rp49,2 triliun.
Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar. Aktivitas industri ini ikut mendorong sektor pendukung.
Transportasi meningkat. Distribusi barang naik. Jasa persewaan ikut bergerak.
Rony menilai kondisi tersebut memberi efek berganda bagi UMKM. UMKM ikut terhubung dalam rantai pasok industri.
Kredit Rumah Tangga dan Tantangan UMKM
Dari sisi rumah tangga, kredit tumbuh 8,6 persen. Angka ini sedikit di atas nasional yang berada di level 8,53 persen.
NPL kredit rumah tangga juga tetap terjaga.
Namun, Rony mengakui tantangan masih ada. Daya beli masyarakat menjadi faktor penentu.
“Konsumsi rumah tangga harus kuat agar UMKM ikut bergerak,” katanya.
Ia menegaskan konsumsi rumah tangga memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan UMKM.
Kredit Usaha UMKM Jadi Fokus BI
Rony menyoroti kondisi kredit UMKM secara nasional. Secara nasional, kredit UMKM bahkan terkontraksi hingga minus 0,66 persen.
Namun, kondisi di daerah masih relatif baik. Kredit UMKM tercatat tumbuh sekitar 13,32 persen.
Ia menyebut Bank Indonesia terus memberi perhatian khusus pada sektor ini.
“Kami dorong UMKM agar terus tumbuh dan naik kelas,” ujarnya.
Bank Indonesia menilai kredit usaha untuk UMKM harus terus diperkuat. Akses pembiayaan dinilai menjadi fondasi utama agar UMKM bertahan, berkembang, dan menjadi penopang ekonomi daerah.(bos)










