AWAS! Buaya di Dam Duriangkang Siap Memangsa Pemancing

Seekor buaya muara sepanjang 2,5 meter muncul di Dam Duriangkang, Batam, dan berhasil dievakuasi ke penangkaran Pulau Bulan. BBKSDA Riau memastikan kemunculan buaya di Dam Duriangkang merupakan perilaku alami satwa, bukan karena habitat terganggu, namun masyarakat tetap diminta waspada.
Seekor buaya muara sepanjang 2,5 meter muncul di Dam Duriangkang, Batam, dan berhasil dievakuasi ke penangkaran Pulau Bulan. BBKSDA Riau memastikan kemunculan buaya di Dam Duriangkang merupakan perilaku alami satwa, bukan karena habitat terganggu, namun masyarakat tetap diminta waspada.

Muncul di Tengah Malam, Bikin Kaget Pengendara

Malam yang tenang di kawasan Piayu, Kota Batam, tiba-tiba berubah riuh. Seekor buaya muara sepanjang 2,5 meter muncul di pinggir jalan dekat Dam Duriangkang, membuat warga yang melintas terkejut bukan main. Hewan reptil berjenis kelamin jantan itu terlihat berjalan santai di tepi jalan menuju Punggur pada Selasa (4/11) sekitar pukul 23.00 WIB.

Tak butuh waktu lama, warga yang melihat penampakan itu segera melapor kepada petugas Damkar Sei Panas. Beberapa jam kemudian, pada Rabu (5/11/2025) sekitar pukul 01.00 WIB, petugas gabungan Damkar Kota Batam dan warga sekitar berhasil mengevakuasi buaya tersebut.

Evakuasi ke Penangkaran Pulau Bulan

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Batam, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Tommy Steven Sinambela, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, buaya muara itu kini telah dievakuasi dengan aman ke PT Perkasa Jagat Kurnia (PJK), penangkaran buaya yang berlokasi di Pulau Bulan, Kepulauan Riau.

“Saat ini buaya tersebut kami titipkan di penangkaran buaya milik PT PJK,” jelas Tommy di Batam, Kamis (6/11).

Evakuasi sekitar pukul 11.00 WIB setelah BBKSDA berkoordinasi dengan pihak Damkar Sei Panas dan PT PJK. Petugas memastikan buaya dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan perilaku agresif selama proses pemindahan.

Habitat Asli Buaya Muara di Dam Duriangkang

Tommy menjelaskan, Dam Duriangkang memang menjadi salah satu habitat alami buaya muara (Crocodylus porosus) di Pulau Batam. Kemunculan buaya ke darat, menurutnya, merupakan hal yang wajar dan termasuk bagian dari aktivitas alami reptil air-darat tersebut.

“Kemungkinan intensitas air di waduk meningkat. Karena buaya hidup di dua habitat — air dan darat — maka wajar jika ia sesekali naik ke darat,” kata Tommy.

Ia menegaskan, kemunculan buaya itu bukan karena habitatnya terganggu. Justru, kondisi lingkungan di sekitar waduk masih terjaga dan mendukung kehidupan satwa liar. Hanya saja, keberadaan buaya di jalan umum memang berpotensi membahayakan pengguna jalan, sehingga evakuasi dilakukan demi keamanan bersama.

Imbauan: Waspada di Sekitar Waduk

BBKSDA telah memasang papan peringatan di beberapa titik sekitar waduk agar masyarakat tidak beraktivitas terlalu dekat dengan perairan, terutama untuk kegiatan seperti memancing atau mandi.

“Di lokasi itu sudah dipasang peringatan dilarang beraktivitas seperti memancing, karena di situ memang habitatnya buaya,” ujar Tommy.

Ia menambahkan, memasuki puncak musim hujan, buaya muara biasanya lebih sering naik ke darat. Perubahan tinggi permukaan air dan suhu lingkungan menjadi pemicu satwa ini mencari tempat lebih kering untuk beradaptasi atau berjemur.

Karena itu, masyarakat tetap waspada bila beraktivitas di sekitar waduk. Jika menemukan buaya atau hewan liar lainnya, warga segera melapor ke petugas berwenang agar bisa tertangani dengan aman.

“Kami akan segera pasang papan peringatan tambahan supaya masyarakat lebih aware dan berhati-hati,” tambahnya.

Antara Alam dan Adaptasi

Kemunculan buaya di Dam Duriangkang menjadi pengingat bahwa manusia dan satwa liar hidup berdampingan di ruang yang sama. Perubahan cuaca, tinggi permukaan air, dan aktivitas alamiah sering membuat satwa keluar dari zona biasanya.

Namun, dengan kesadaran dan kewaspadaan bersama, konflik antara manusia dan satwa bisa terhindar. Karena sejatinya, mereka bukan datang untuk menyerang, melainkan sekadar mencari ruang hidup di tengah perubahan lingkungan.