Nasib Nelayan Perbatasan Makin Khawatir

BATAMCLICK.COM, Anambas – Hasil tangkapan nelayan lepas pantai mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2020. Pasalnya, banyak nelayan lepas pantai yang terintimidasi oleh pelaku illegal fishing yang mayoritas berbendera asing. Hal ini memaksa para nelayan Anambas untuk meninggalkan lokasi penangkapan ikan demi keselamatan.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Kepulauan Anambas, Dedy Syahputra mengatakan alasan nelayan lepas pantai meninggalkan lokasi penangkapan ikan lepas pantai saat bertemu dengan nelayan asing karena nelayan asing menggunakan jaring macan yang ditarik 2 unit kapal. Hal ini sangat mengganggu nelayan lepas pantai, karena rawan terseret jaring.

“Menurut data yang kami kumpulkan pada tahun 2020, banyak nelayan kita yang mengeluhkan hasil tangkapannya menurun. Hal ini disebabkan banyaknya kapal penangkap ikan asing yang masuk ke Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dengan kata lain, pada tahun 2020, pelaku illegal fishing lebih menikmati hasil laut kita dibandingkan nelayan lokal, dimana tercatat hasil tangkapan 20.858 kg dibanding tahun sebelumnya sebanyak 23.232 kg,” jelas Dedy Syahputra, baru-baru ini.

Dedy berharap Pemerintah Pusat memperketat pengawasan di kawasan perbatasan dan menindak kapal-kapal nelayan asing yang melakukan illegal fishing. Karena sangat bermanfaat bagi nelayan tradisional dan lebih menjamin keselamatan nelayan dari ancaman kapal penangkap ikan asing.

“Ketika ada kebijakan penangkapan pelaku illegal fishing oleh Pemerintah Pusat, laut kita sudah jarang dimasuki kapal ikan asing. Namun belakangan ini pelaku illegal fishing sudah mulai berani masuk ZEE kita karena kebijakan penangkapan sudah berubah menjadi deportasi. berharap kebijakan tegas dari Pemerintah Pusat dijalankan kembali, demi kesejahteraan nelayan kita,” kata Dedy.

Sementara salah satu nelayan lepas pantai, Eko mengatakan pada 2020 banyak pelaku illegal fishing dari luar negeri yang masuk ke ZEE Indonesia. Dan para pelaku illegal fishing pun tak segan-segan mengganggu areal penangkapan ikan setempat. Sehingga para nelayan lokal lebih memilih meninggalkan lokasi karena kedatangan kapal nelayan asing.

BACA JUGA:   PPJ Selalu Dipungut, Jalan di Anambas Masih Gelap Gulita

“Kami sering mengalami itu, kami sedang memancing dan tiba-tiba ada 2 unit kapal nelayan asing menuju ke arah kami. Mau tidak mau kami harus menarik jangkar dan bergegas meninggalkan lokasi. Karena 2 kapal nelayan asing ini sedang menarik jaring (harimau). trawl) dan resikonya kita bisa tarik jaring. Akibatnya hasil tangkapan kita tidak sesuai harapan. Kalau laut aman dari kapal penangkap ikan asing, biasanya kita bisa menangkap ikan selama 10 hari, tapi kalau sudah lewat, alamatnya tidak ada lagi. ikan,” jelas pria asal Air Nangak, Kecamatan Siantan Tengah.

Eko menjelaskan, nelayan lepas pantai hanya menggunakan kapal berkapasitas 5-6 gross ton (GT) dan jarak tempuh lokasi tangkapan lepas pantai lebih dekat 80 kilometer dari Kepulauan Anambas. “Jangan sampai kita menggunakan kapal kecil, kapal nelayan dari Asahan atau Jawa juga sering kabur, ketika kita melihat bentuk kapal nelayan asing. Karena kita juga sering berkomunikasi dengan pukat dari Asahan dan Jawa, bahkan nelayan lepas pantai juga sering melaut di” Kapal mereka. Kalau tetangga kita sudah saling mengerti, tapi kalau soal kapal nelayan asing, lebih baik kita hindari,” jelasnya.

Eko juga menyayangkan bahwa ikan hasil tangkapan nelayan lepas pantai lebih sering diekspor, karena hasil tangkapannya adalah ikan ekspor. “Hasil tangkapan kita variatif, tapi untuk ekspor, seperti tuna, kerapu, manyuk, tenggiri dan lain-lain. Soal sumber daya alam kita khususnya ikan, kita tidak akan kekurangan. Tapi kita berharap ada kebijakan dari Pemerintah Pusat untuk menjaga ZEE masuk lagi ke kapal penangkap ikan asing, guna meningkatkan hasil tangkapan nelayan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Tarempa, Letkol (P) Yovan Ardhianto Yusuf menjelaskan, untuk pengamanan kegiatan kapal penangkap ikan asing, pihaknya selalu berkoordinasi dengan KRI yang berada di bawah naungan Koarmada I. .

BACA JUGA:   Lanal Tarempa Gesa Vaksinasi di Anambas

“Kami selalu berkoordinasi dengan KRI yang melakukan patroli rutin di ZEE Indonesia khususnya yang berada di Laut Natuna Utara. Kami juga segera menindaklanjuti jika ada informasi KIA yang kami terima dari para nelayan,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Anambas Donny Cahyo Wibowo merinci, hasil ekspor tahun 2020 memang mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019. “Secara kumulatif, ekspor komoditas ikan dan udang periode Januari-Desember 2020 mengalami penurunan yang sangat besar yaitu 41,72 persen dibandingkan Januari-Desember 2019, dari US$ 3.322,03 menjadi US$ 1.936,22,” ujarnya.

Selain nelayan lepas pantai, nelayan pesisir juga mengalami penurunan hasil tangkapan. Hal ini dikarenakan banyaknya kapal nelayan yang menggunakan jaring ikan. Sehingga nelayan tradisional yang hanya mengandalkan pancing tidak mampu bersaing.

“Nelayan pesisir seperti kami kalah bersaing dengan nelayan yang menggunakan bubu. Jadi kami hanya puas dengan hasil tangkapan, yang penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” keluh Nazar.

Nazar menjelaskan, selain keterbatasan alat tangkap, mereka juga kalah bersaing dengan alat transportasi yang digunakan di laut. “Jarak yang kami tempuh bisa mencapai 30 mil, sedangkan kami hanya mengandalkan kapal berkapasitas 3 GT. Kami juga berlayar selama 4 hari, hasilnya hanya 150 kilogram,” jelasnya.

Selain itu, modal yang dibutuhkan untuk berlayar selama 4 hari minimal Rp 1,5 juta rupiah. “Modal harus disiapkan sedemikian rupa, untuk kebutuhan minyak, makanan dan minuman serta es,” katanya.

Nazar mengaku belum pernah mendapat bantuan. Ia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan seperti alat tangkap dan lain-lain.

Menyikapi minimnya bantuan kepada nelayan, Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas selalu rutin membuat program untuk membantu nelayan meningkatkan hasil tangkapannya. Kepala Dinas Perikanan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Effi Sjuhairi mengatakan, Pemkab Kepulauan Anambas selalu rutin membuat program yang peduli terhadap nelayan.

“Kami rutin ada program untuk memberikan bantuan kepada nelayan, namun belum bisa membantu secara keseluruhan dan kami lakukan secara bertahap. Bantuan yang diberikan berupa alat pancing, alat komunikasi dan pompong. Baru minggu lalu kami berikan kepada nelayan. di Desa Sri Tanjung, program seperti ini terus berkelanjutan,” kata Effi Sjuhairi.

BACA JUGA:   Imigrasi Tarempa Berikan 418 Dahsusmkim

Effi juga menambahkan, selain memberikan bantuan alat tangkap, pihaknya juga saat ini mengirimkan putra sekolah Teknologi Perikanan kawasan Pontianak. Saat ini ada 14 siswa yang mengikuti program pendidikan yang dibiayai oleh pemerintah daerah.

“Mahasiswa ini diharapkan dapat memberikan inovasi teknologi baru untuk alat tangkap. Karena melalui pendidikan tentunya tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga budidaya ikan,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah sering memberikan penyuluhan agar nelayan menangkap lebih jeli dan bisa menggunakan kapal besar, tentunya zona penangkapan ikan di atas 12 mil. Namun banyak nelayan tradisional yang enggan beralih menggunakan jaring karena berbagai alasan dan pendapat.

“Kami sering berdialog dengan para nelayan, sepertinya mereka sulit meninggalkan pola pancing yang lama. Ada yang mengaku takut karang rusak, malah kalau jaring di jaring tidak akan hilang. sampai ke dasar laut. Tapi disinilah kita memberikan penyuluhan agar mereka mau menjadi nelayan profesional,” ujarnya.

Bahkan, kata Effi, sering dikatakan banyak nelayan yang datang dari Jawa dan Sumatera untuk memanfaatkan potensi sumber daya perikanan di laut Natuna dan Anambas sementara jaraknya jauh. Oleh karena itu, nelayan lokal harus bersaing dengan nelayan asing yang menggunakan kapal di atas 30 GT tentunya dapat meningkatkan perekonomian nelayan Kabupaten Kepulauan Anambas.

“Ke depan kita berharap nelayan kita juga bisa memanfaatkan sumber daya perikanan kita. Kalau kita bandingkan nelayan dari Jawa dengan di sini, berapa BBM yang dikeluarkan sementara kita dekat. Ini yang selalu kita sampaikan kepada nelayan kita,” ujarnya. dikatakan.

Sumber: BATAMTODAY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *